Realibilitas (skripsi dan tesis)

Uji reliabilitas adalah pengukuran untuk suatu gejala. Semakin tinggi realibilitas suatu alat ukur, maka semakin stabil alat tersebut untuk digunakan. Tingkat realibilitas suatu konstruk atau variabel penelitian dapat dilihat dari hasil statistik Cronbach Alpha (α) Suatu variabel dikatakan reliable jika memberikan nilai cronbach alpha > 0,60. Semakin nilai alphanya mendekati 21 satu maka nilai realibilitas datanya semakin terpercaya.Dengan kata lain, realibilitas menunjukkan konsistensi suatu alat pengukur di dalam pengukur gejala yang sama. Uji realibilitas dilakukan dengan rumus Croansbach’s Alpha

Uji Validitas (skripsi dan tesis)

Pengujian validitas data digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dianggap valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu mengungkapkan sesuatu yang diukur oleh kuesioner tersebut. Pengujian validitas dilakukan dengan bantuan program SPSS for windows. Pengambilan keputusan berdasarkan nilai p value atau nilai signifikasi kurang dari 0,05, maka item pertanyaan tersebut dinyatakan valid dan sebaliknya jika nilai p value atau signifikasi sama dengan atau lebih dari 20 0,05 dinilai tidak valid. Cara analisisnya dengan cara menghitung koefisien korelasi antara masing-masing nilai pada nomor pertanyaan dengan nilai total dari nomor pertanyaan tersebut. Selanjutnya koefisien korelasi yang diperoleh r masih harus diuji signifikansinya bisa menggunakan uji t atau membandingkannya dengan r tabel.Bila t hitung > dari t tabel atau r hitung >dari r tabel, maka nomor pertanyaan tersebut valid. Bila menggunakan program komputer, asalkan r yang diperoleh diikuti harga p< 0,05 berarti nomor pertanyaan itu valid

Ekstraksi Faktor (skripsi dan tesis)

Ekstraksi faktor yang bertujuan untuk mengetahui jumlah faktor yang terbentuk dari data yang ada.Pada tahap ini, akan dilakukan proses inti dari analisis faktor, yaitu melakukan ekstraksi terhadap sekumpulan variabel yang 17 adaKMO>0,5, sehingga terbentuk satu atau lebih faktor.Metode ekstrasi yang digunakan adalah Analisis Komponen Utama (Principal Components Analysis). Analisis komponen utama merupakan teknik statistik yang digunakan untuk menjelaskan struktur variansi-kovariansi dari sekumpulan variabel melalui beberapa variabel baru dimana variabel baru ini saling bebas, dan merupakan kombinasi linier dari variabel asal. Selanjutnya, variabel baru ini dinamakan komponen utama. Secara umum tujuan dari analisis komponen utama adalah mereduksi dimensi data sehingga lebih muda untuk menginterpretasikan data-data tersebut. Analisis komponen utama bertujuan untuk menyederhanakan variabel yang diamati dengan cara menyusutkan dimensinya. Hal ini dilakukan dengan menghilangkan korelasi variabel melalui transformasi variabel asal ke variabel baru yang tidak berkorelasi.Variabel baru (𝑌)disebut komponen utama yang merupakan hasil transformasi dari variabel asal X yang modelnya dalam bentuk catatan matriks

Kegunaan Analisis Faktor (skripsi dan tesis)

Analisis faktor mempunyai beberapa kegunaan adalah sebagai berikut : a) Untuk mengidentifikasi underlying dimensions (factors) yang dapat menjelaskan korelasi sekumpulan variabel.Untuk mengidentifikasi variabel baru, yang dapat digunakan untuk analisis l lainnya c) Untuk mengedintifikasi satu atau beberapa variabel dari variabel yang banyak jumlahnya. d) Mengkonfirmasi kontruksi suatu variabel latin

Analisis faktor (skripsi dan tesis)

Analisis faktor merupakan salah satu metode statistika multivariate yang digunakan untuk menemukan beberapa faktor yang mendasari dan mampu menjelaskan hubungan atau korelasi antara berbagai indikator independen yang diobservasi  . Metode analisis faktor pertama kali digunakan oleh Charles Spearman untuk memecahkan persoalan psikologi dalam tulisannya pada American Journal of Psychology pada tahun 1904 mengenai dan pengukuran intelektual.Analisis faktor menganalisis sejumlah variabel dari suatu pengukuran atau pengamatan yang dititikberatkan pada teori dan kenyataan yang sebenarnya dan menganalisis interkolerasi (hubungan) antara variabel untuk menetapkan apakah variasi-variasi yang tampak dalam variabel-variabel tersebut berdasarkan sejumlah faktor dasar yang jumlahnya lebih sedikit dari jumlah variasi yang ada variabel. Selain itu analisis faktor merupakan metode yang dapat digunakan untuk mereduksi data yaitu suatu proses untuk meringkas sejumlah variabel independen yang saling berkorelasi untuk dikelompokan menjadi sebuah variabel baru yang diberi nama faktor. Prinsip dasar analisis faktor adalah mengekstrasi sejumlah faktor (common factor) dari gugusan variabel asal𝑋1, 𝑋2, 𝑋3, …., 𝑋𝑝, sehingga banyaknya faktor lebih sedikit dari banyaknya variabel asal x yang tersimpan dalam sejumlah faktor

Definisi Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi) (skripsi dan tesis)

Hipertensi adalah desakan darah yang berlebihan dan hampir konstan pada arteri (pembuluh nadi).Hipertensi juga disebut dengan tekanan darah tinggi, dimana tekanan tersebut dihasilkan oleh kekuatan jantung ketika memompa darah  sehingga hipertensi ini berkaitan dengan tekanan sistolik dan tekanan diastolik. (Gunawan, 2001, dalam Sugiharto,2007) Ketika jantung memompa darah melewati arteri, darah menekan dinding pembuluh darah.Mereka yang menderita hipertensi mempunyai tinggi tekanan darah yang tidak normal.Penyempitan pembuluh nadi (aterosklerosis) merupakan gejala awal yang umum terjadi pada hipertensi.Karena arteri-arteri terhalang lempengan kolesterol dalam aterosklerosis, sirkulasi darah melewati pembuluh darah menjadi sulit.Ketika arteri-arteri mengeras dan mengerut dalam aterosklerosis, darah memaksa melewati jalam yang sempit itu, sebagai hasilnya tekanan darah menjadi tinggi. (Wirakusumah, 2002, dalam Sugiharto,2007) Tingginya tekanan sistolikberhubungan dengan besarnya curah jantung sedangkan tingginya tekanan diastolik berhubungan dengan besarnya resistensi perifer atau hambatan pembuluh perifer dapat meningkatkan tekanan darah (Prodjosudjadi, W, 2000 dalam Rasmaliah,2005)

Definisi Tekanan Darah (skripsi dan tesis)

Tekanan darah adalah desakan darah terhadap dinding – dinding arteri darah tersebut di pompa dari jantung ke jaringan. Tekanan darah merupakan gaya yang diberikan darah pada dinding pembuluh darah. Tekanan ini bervariasi sesuai pembuluh darah terkait dan denyut jantung.(Kaplan, 1998, dalam Sugiharto,2007) Pada pengukuran tekanan darah di kenal dua istilah, yaitu tekanan darah sistolik dan diastolik.Tekanan darah sistolik (angka yang di atas) menunjukkan besarnya tekanan di arteri – arteri (pembuluh nadi) ketika otot jantung yang berkontraksi dan memompa darah ke dalamnya.Tekanan darah diastolik (angka yang di bawah) menunjukkan besarnya tekanan di arteri – arteriketika otot jantung relaks setelah berkontraksi. (AS, 2010)

Faktor Rotasi (Rotated Factor Loading) (skripsi dan tesis)

Faktor rotasi menunjukkan korelasi antara variabel yang diperkirakan dari matriks faktor.Dalam rotasi faktor dikenal dua jenis rotasi, yaitu rotasi orthogonal dan rotasi oblique. Dalam rotasi orthogonal variabel – variabel diekstraksi sedemikian rupa, sehingga variabel – variabel tersebut independent satu sama lain, dengan melakukan rotasi tegak lurus. Sedangkan pada oblique tidak perlu melakukan rotasi tegak lurus.(Santoso,2010) Metode rotasi dengan orthogonal yang banyak dipergunakan yaitu varimaxrotation.Prosedur ini digunakan untuk meminumkan (membuat sedikit  mungkin) banyaknya variabel dengan muatan tinggi (high loading) pada satu faktor. (Supranto,2010)

Asumsi Pada Analisis Faktor (skripsi dan tesis)

Karena prinsip utama analisis faktor adalah korelasi, maka asumsi – asumsi terkait dengan korelasi akan digunakan, yakni : (Santoso,2010) a. Besar korelasi atau korelasi antar variabel independen harus cukup kuat, misalkan diatas 0,5 b. Besar korelasi parsial, korelasi antara dua variabel dengan menganggap tetap variabel yang lain, justru harus kecil c. Pengujian seluruh matriks korelasi (korelasi antar variabel) yang diukur dengan besaran Bartlett Test Of Sphericity atau Measure Sampling Adequacy (MSA). Pengujian ini mengharuskan adanya korelasi yang signifikan di antara paling sedikit beberapa variabel d. Pada beberapa kasus, asumsi normalitas dari variabel – variabel atau faktor yang terjadi sebaiknya terpenuhi.

Tujuan Analisis Faktor (skripsi dan tesis)

Pada dasarnya tujuan analisis faktor adalah (Santoso,2010) a. Data summarizationyakni mengidenfikasi adanya hubungan antara variabel dengan melakukan uji korelasi. b. Data reduction yakni setelah melakukan korelasi, dilakukan proses membuat sebuah variabel set baru yang dinamakan faktor untuk menggantikan sejumlah variabel tertentu

Kegunaan Analisis Faktor (skripsi dan tesis)

Analisis faktor dipergunakan didalam situasi sebagai berikut : (Supranto,2010) a. Mengenali atau mengidentifikasi dimensi yang mendasari (underlying dimensions) atau faktor, yang menjelaskan korelasi antara suatu set variabel. b. Mengenali atau mengidentifikasi suatu set variabel baru yang tidak berkorelasi (independent) yang lebih sedikit jumlahnya untuk menggantikan suatu set variabel yang saling berkorelasi didalam analisis multivariat selanjutnya, misalnya analisis regresi berganda dan analisis diskriminan. c. Mengenali atau mengidentifikasi suatu set yang penting dari suatu set variabel yang lebih banyak jumlahnya untuk dipergunakan didalam analisis multivariat selanjutnya.

Analisis Faktor (skripsi dan tesis)

Proses analisis faktor mencoba menemukan hubungan (interrelationship) antara sejumlah variabel – variabel yang saling independen satu dengan yang lain, sehingga bisa dibuat satu atau beberapa kumpulan variabel yang lebih sedikit dari jumlah variabel awal. (Santoso, 2010) Analisis faktor didasarkan pada sebuah model dimana vektor hasil pengamatan dipartisi ke dalam suatu bagian sistematik yang tak teramati dan suatu bagian error yang tak teramati.Komponen dari vektor error dianggap bebas (independent) dari komponen vektor sistematik, dimana bagian sistematik merupakan kombinasi linier dari variabel faktor yang jumlahnya relatif lebih sedikit.Analisis faktor memisahkan pengaruh faktor yang menjadi perhatian dasar dari error (Anderson.T.W, 1984). Salah satu kelebihan dari analisis faktor adalah ketika bentuk persamaan tidak cocok dengan data, perkiraan korelasi antar faktor dengan variabel jelas mencerminkan kegagalan. Dalam sebuah kasus, ada dua permasalahan dalam perkiraan yaitu (1) tidak jelas banyaknnya faktor yang dibentuk dan (2) tidak jelas nama faktor yang di tentukan. Dalam prosedur statistik lain, kegagalan asumsi tidak mengakibatkan konsekuensi yang jelas seperti dalam perkiraan korelasi. Namun hal ini menjadi asumsi dasar analisis faktor. (Rencher A.C., 2002)

Teknik umum dalam analisis faktor adalah metode principal component analysis, yaitu metode yang digunakan untuk memperkirakan korelasi antara faktor yang akan dibentuk terhadap variabel.(Rencher A.C.,2002) Pada metode principal analysis factor bertujuan untuk mencari korelasi pada faktor terhadap variabel – variabel secara linier serta mengurangi (perkiraan) dimensi dari ruang vektor yang menggandung variabel – variabel dari satu set variabel acak yang intercorrelated. Dalam metode ini variabel yang diamati bergantung pada jumlah faktor yang lebih sedikit yang dapat dijelaskan dari varians atau kovarians yang sistematis atau benar dari penelitianuntuk memperkirakandan mengidentifikasi variabel yang nyata (tapi tidak teramati) yang berpengaruh pada variabel acak (Basilevsky .A., 1994)

Faktor Rotasi (Rotated Factor Loading) (skripsi dan tesis)

Faktor rotasi menunjukkan korelasi antara variabel yang diperkirakan dari matriks faktor.Dalam rotasi faktor dikenal dua jenis rotasi, yaitu rotasi orthogonal dan rotasi oblique. Dalam rotasi orthogonal variabel – variabel diekstraksi sedemikian rupa, sehingga variabel – variabel tersebut independent satu sama lain, dengan melakukan rotasi tegak lurus. Sedangkan pada oblique tidak perlu melakukan rotasi tegak lurus.(Santoso,2010) Metode rotasi dengan orthogonal yang banyak dipergunakan yaitu varimaxrotation.Prosedur ini digunakan untuk meminumkan (membuat sedikit mungkin) banyaknya variabel dengan muatan tinggi (high loading) pada satu faktor. (Supranto,2010)

Asumsi Pada Analisis Faktor (skripsi dan tesis)

 

Karena prinsip utama analisis faktor adalah korelasi, maka asumsi – asumsi terkait dengan korelasi akan digunakan, yakni : (Santoso,2010) a. Besar korelasi atau korelasi antar variabel independen harus cukup kuat, misalkan diatas 0,5 b. Besar korelasi parsial, korelasi antara dua variabel dengan menganggap tetap variabel yang lain, justru harus kecil c. Pengujian seluruh matriks korelasi (korelasi antar variabel) yang diukur dengan besaran Bartlett Test Of Sphericity atau Measure Sampling Adequacy (MSA). Pengujian ini mengharuskan adanya korelasi yang signifikan di antara paling sedikit beberapa variabel d. Pada beberapa kasus, asumsi normalitas dari variabel – variabel atau faktor yang terjadi sebaiknya terpenuhi.

Tujuan Analisis Faktor (Skripsi dan tesis)

Pada dasarnya tujuan analisis faktor adalah (Santoso,2010) a. Data summarizationyakni mengidenfikasi adanya hubungan antara variabel dengan melakukan uji korelasi. b. Data reduction yakni setelah melakukan korelasi, dilakukan proses membuat sebuah variabel set baru yang dinamakan faktor untuk menggantikan sejumlah variabel tertentu.

Kegunaan Analisis Faktor (skripsi dan tesis)

Analisis faktor dipergunakan didalam situasi sebagai berikut : (Supranto,2010) a. Mengenali atau mengidentifikasi dimensi yang mendasari (underlying dimensions) atau faktor, yang menjelaskan korelasi antara suatu set variabel. b. Mengenali atau mengidentifikasi suatu set variabel baru yang tidak berkorelasi (independent) yang lebih sedikit jumlahnya untuk menggantikan suatu set variabel yang saling berkorelasi didalam analisis multivariat selanjutnya, misalnya analisis regresi berganda dan analisis diskriminan. c. Mengenali atau mengidentifikasi suatu set yang penting dari suatu set variabel yang lebih banyak jumlahnya untuk dipergunakan didalam analisis multivariat selanjutnya.

Analisis Faktor (skripsi dan tesis)

Proses analisis faktor mencoba menemukan hubungan (interrelationship) antara sejumlah variabel – variabel yang saling independen satu dengan yang lain, sehingga bisa dibuat satu atau beberapa kumpulan variabel yang lebih sedikit dari jumlah variabel awal. (Santoso, 2010) Analisis faktor didasarkan pada sebuah model dimana vektor hasil pengamatan dipartisi ke dalam suatu bagian sistematik yang tak teramati dan suatu bagian error yang tak teramati.Komponen dari vektor error dianggap bebas (independent) dari komponen vektor sistematik, dimana bagian sistematik merupakan kombinasi linier dari variabel faktor yang jumlahnya relatif lebih sedikit.Analisis faktor memisahkan pengaruh faktor yang menjadi perhatian dasar dari error (Anderson.T.W, 1984). Salah satu kelebihan dari analisis faktor adalah ketika bentuk persamaan tidak cocok dengan data, perkiraan korelasi antar faktor dengan variabel jelas mencerminkan kegagalan. Dalam sebuah kasus, ada dua permasalahan dalam perkiraan yaitu (1) tidak jelas banyaknnya faktor yang dibentuk dan (2) tidak jelas nama faktor yang di tentukan. Dalam prosedur statistik lain, kegagalan asumsi tidak mengakibatkan konsekuensi yang jelas seperti dalam perkiraan korelasi. Namun hal ini menjadi asumsi dasar analisis faktor. (Rencher A.C., 2002)

 Teknik umum dalam analisis faktor adalah metode principal component analysis, yaitu metode yang digunakan untuk memperkirakan korelasi antara faktor yang akan dibentuk terhadap variabel.(Rencher A.C.,2002) Pada metode principal analysis factor bertujuan untuk mencari korelasi pada faktor terhadap variabel – variabel secara linier serta mengurangi (perkiraan) dimensi dari ruang vektor yang menggandung variabel – variabel dari satu set variabel acak yang intercorrelated. Dalam metode ini variabel yang diamati bergantung pada jumlah faktor yang lebih sedikit yang dapat dijelaskan dari varians atau kovarians yang sistematis atau benar dari penelitianuntuk memperkirakandan mengidentifikasi variabel yang nyata (tapi tidak teramati) yang berpengaruh pada variabel acak (Basilevsky .A., 1994)

Pengertian Harga (skripsi dan tesis)

Harga merupakan salah satu faktor yang harus dikendalikan secara serasi, selaras dengan tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan. Segala keputusan yang menyangkut harga akan sangat mempengaruhi beberapa aspek kegiatan suatu usaha baik yang menyangkut kegiatan penjualan ataupun aspek keuntungan yang ingin dicapai oleh suatu perusahaan. Ini berarti harga menggambarkan nilai uang sebagai barang/jasa. Menurut Kotler (2001 : 439) harga adalah jumlah dari seluruh nilai yang dipertukarkan konsumen atas manfaat-manfaat karena menggunakan barang atau jasa produk tersebut. Sedangkan menurut Stanton (dalam buku Angipora, 2000:174) harga adalah jumlah uang yang dibutuhkan untuk memperoleh beberapa kombinasi sebuah produk dan pelayanan yang menyertainya.

Lokasi (skripsi dan tesis)

Lokasi merupakan tempat dimana biasanya konsumen membeli suatu produk (Ma’ruf, 2005 : 113). Lokasi sangat penting untuk mempermudah konsumen dalam membeli dan menjadikan faktor utama bagi kelangsungan usaha. Lokasi yang strategis akan menarik perhatian pembeli. Keputusan untuk mendirikan lokasi tergantung kepada area perdagangan yang dilayani. Menurut Hurriyati (2005 : 58) pemilihan tempat atau lokasi memerlukan pertimbangan yang cermat terhadap beberapa faktor adalah : a. Akses misalnya lokasi yang mudah dijangkau sarana transportasi umum. b. Visibilitas, misalnya lokasi yang dapat dilihat dengan jelas dari pinggir jalan. c. Lalu lintas (traffic), dimana ada dua hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu banyaknya orang yang lalu lalang dapat memberikan peluang besar terjadinya peningkatan penjualan, dan kepadatan dan kemacetan lalu lintas dapat pula menjadi hambatan. d. Tempat parkir yang luas dan aman. e. Ekspansi, tersedia tempat yang cukup untuk perluasan usaha di kemudian hari. f. Lingkungan, yaitu daerah sekitar yang mendukung produk atau jasa yang ditawarkan. g. Persaingan, yaitu lokasi pesaing di sekitar toko tersebut. h. Peraturan pemerintah

Tingkatan Produk (skripsi dan tesis)

Pada umumnya suatu perusahaan dalam merencanakan menawarkan produknya ke pasar perlu membedakan tingkatan produk. Menurut Kotler (1994, p432) ada lima tingkatan produk yang perlu diperhatikan, yaitu : a. Manfaat dasar (Core benefit)   Manfaat dasar yaitu manfaat yang diberikan oleh suatu produk yang dibeli konsumen agar dapat memenuhi keinginan dan kebutuhannya. Contoh manfaat dasar dari handphone adalah memberikan kemudahan dalam berkomunikasi dimana saja dan kapan saja. b. Manfaat pasar (Generic product) Pemasar harus mengubah manfaat inti menjadi produk pasar. c. Produk ekspektasi (Expected product) Pemasar menyiapkan suatu produk yang diharapkan. Produk yang sudah dilengkapi dengan atribut sehingga kondisi produk dapat diterima oleh konsumen yang membelinya. Contoh: tamu restoran yang mengharapkan tempat yang bersih, nyaman, dan peralatan makan yang bersih. d. Produk yang ditingkatkan (Augment product) Pemasar menyipakan suatu produk yang sudah ditingkatkan dan lebih baik lalu dipasarkan dengan pelayanan dan manfaat tambahan kepada para konsumen. e. Produk potensial (Potential product) Perusahaan berusaha mencari berbagai cara-cara baru untuk memuaskan konsumen dan membedakan produk yang mereka hasilkan dengan yang lainnya.

Produk (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler (2001 : 12) produk adalah sesuatu yang dapat ditawarkan kepada pasar untuk diperhatikan, digunakan, dibeli atau dikonsumsi yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan. Ketika pelanggan membeli sebuah produk maka akan memiliki harapan bagaimana produk tersebut berfungsi (product moment). Produk berfungsi sebagai berikut: 1. Produk berfungsi lebih baik dari yang diharapkan. Inilah disebut sebagai diskonfirmasi positif (Positive disconfirmatiori). Jika ini terjadi maka konsumen akan merasa puas. 2. Produk berfungsi sebagai apa yang diharapkan. Inilah yang disebut sebagai konfirmasi sederhana (simple confirmation). Jika hal ini terjadi maka pelanggan akan merasa puas dan produk tersebut tidak mengecewakan pelanggan dan pelanggan akan memiliki perasaan netral. 3. Produk berfungsi lebih buruk dari yang diharapkan. Inilah yang disebut sebagai konfirmasi negatif (Negative disconfirmatiori). Produk yang berfungsi buruk, tidak sesuai dengan harapan pelanggan akan menyebabkan kekecewaan sehingga merasa tidak puas

Analisis Faktor (skripsi dan tesis)

Menurut Hair, et al. (1995) analisis faktor adalah sebuah nama umum yang diberikan kepada sebuah kelas dari metode statistika multivariat yang tujuan utamanya adalah menentukan struktur yang mendasari keterkaitan (korelasi) antara sejumlah variabel. P Faktor merupakan variabel baru yang bersifat tidak bisa diukur atau tidak dapat diamati. Sedangkan X adalah variabel yang dapat diukur atau diamati. Faktor dalam analisis faktor dibentuk untuk memaksimalkan penjelasan dari sekelompok variabel, bukan digunakan untuk memprediksi suatu variabel tidak bebas. Dalam analisis faktor variabel-variabel dikelompokkan berdasarkan korelasinya, yaitu variabel yang mempunyai korelasi tinggi akan berada dalam kelompok tertentu membentuk suatu faktor dan variabel-variabel yang mempunyai korelasi rendah akan membentuk faktor lain. Secara umum dapat dikatakan bahwa analisis ini bertujuan untuk menganalisis hubungan sejumlah besar variabel dengan menentukan satu kelompok dimensi umum yang disebut faktor (Hair, et al. 1995). Dalam melakukan analisis faktor keputusan pertama yang harus diambil oleh peneliti adalah menganalisis apakah data yang ada cukup memenuhi syarat di dalam analisis faktor. Langkah ini dilakukan dengan mencari matriks korelasi 6 antara indikator-indikator yang diobservasi. Metode Kaiser-Mayer Olkin (KMO) paling banyak digunakan untuk melihat syarat kecukupan data untuk analisis faktor. Metode ini mengukur kecukupan sampel secara menyeluruh dan mengukur kecukupan sampel untuk setiap indikator

Keputusan Menginap (skripsi dan tesis)

Ebert & Griffin (2008:283) dalam bukunya yang berjudul “Business” mengatakan bahwa keputusan pembelian didasari oleh motif rasional, motif emosional ataupun keduanya. Motif rasional melibatkan evaluasi logis dari atribut produk seperti harga, kualitas, dan kegunaan. Motif emosional melibatkan faktor-faktor non objektif termasuk sosial, meniru orang lain, dan estetika. Penelitian ini akan membahas kedua motif keputusan pembelian yang terdiri dari motif rasional (harga, kualitas, dan kegunaan) serta motif emosional (keramahan dan estetika) sebagai dimensi dari keputusan pembelian

Product Bundling dan Price Bundling (skripsi dan tesis)

Menurut Stremersch dan Tellis (2002:57) “Product Bundling is the integration and sale of two or more separate products or services at any price”. Artinya, product bundling adalah suatu integrasi dan penjualan dua atau lebih produk yang terpisah pada harga tertentu. Integrasi pada product bundling ini umumnya menyediakan value added (nilai tambah) kepada pelanggan. “Price Bundling is the sale of two or more separate products in a package at a discount, without any integration”. Artinya, Price bundling adalah penjualan dua atau lebih produk yang terpisah dalam satu paket harga yang di diskon, atau suatu penawaran dari beberapa produk yang tidak terintegrasi pada tingkat harga yang lebih rendah bila ditawarkan secara terpisah, tanpa adanya integrasi apapun dari produk (tidak terintegrasi artinya bahwa pelanggan tetap dapat menggunakan salah satu produk tersebut tanpa mengurangi fungsi dari produk tersebut).

Product Bundling dan Price Bundling (skripsi dan tesis)

Bagian dari Hospitality Marketing Mix Pemasaran menurut Reid & Bojanic dalam bukunya yang berjudul Hospitality Marketing Management, “Marketing encompasses merging, integrating, and controlling supervision of all company’s or organization’s efforts that have a bearing on sales.”. Marketing Mix menurut Elliot, Thiele & Waller (2012:21) yaitu “Marketing Mix is a set of variebles that a marketer can exercise control over in creating and offering for exchange.”. Mill & Morrison (2013) membagi hospitality marketing mix menjadi 8 P’s yang terdiri dari product, price, promotion, place, packaging, programming, people, dan partnership

Manfaat Citra Merek (skripsi dan tesis)

Manfaat merek bagi produsen menurut Keller dalam Tjiptono (2005; p.20- p21), dikatakan bahwa merek berperan sebagai : 1. Sarana identifikasi untuk memudahkan proses penanganan atau pelacakan produk bagi perusahaan, terutama dalam pengorganisasian sediaan dan pencatatan akuntansi. 2. Bentuk proteksi hukum terhadap fitur yang unik. Merek bisa mendapatkan perlindungan property intelektual. Nama merek bisa diproteksi melalui merek dagang terdaftar (registered trademarks), proses pemanufakturan bisa dilindungi melalui hak paten, dan kemasan bisa diproteksi melalu hak cipta (copyrights) dan desain. Hak-hak property intelektuaini memberikan jaminan bahwa perusahaan dapat berinvestasi dengan aman dalam merek yang dikembangkannya dan meraup manfaat dari aset bernilai tersebut. 3. Signal tingkat kualitas bagi para pelanggan yang puas, sehingga mereka bisa dengan mudah memilih dan membelinya lagi dilain waktu. Loyalitas merek seperti ini menghasilkan predictability dan security permintaan bagi perusahaan dan menciptakan hambatan masuk yang menyulitkan bagi perusahaan lain untuk masuk pasar. 4. Sarana menciptakan asosiasi dan makna unik yang membedakan produk dari para pesaing. 5. Sumber keunggulan kompetitif, terutama melalui perlindungan hukum, loyalitas pelanggan, dan citra unik yang terbentuk didalam benak konsumen. 6. Sumber financial returns, terutama menyangkut pendapatan masa datang.

Citra merek (Brand Image) (skripsi dan tesis)

Citra merek menurut Rangkuti (2009; p.43), adalah sekumpulan asosiasi merek yang terbentuk dibenak konsumen. Dalam Rangkuti (2009; p.43) Aaker mendefinisikan Asosiasi merek sebagai segala hal yang berkaitan dengan ingatan mengenai merek. Berdasarkan Simamora (2003; p.47&63), citra merek adalah sejumlah keyakinan tentang merek. Syarat merek yang kuat adalah citra merek. Kotler juga mempertajam bahwa citra merek sebagai posisi merek (brand position) Dalam Simamora (2003; p.96), Aaker menyatakan bahwa citra adalah seperangkat asosiasi unik yang igin diciptakan atau dipelihara para pemasar. Asosiasi-asosiasi itu menyatakan apa sesungguhnya merek dan apa yang dijanjikan pada konsumen. Jadi Aaker menganggap citra merek sebagaimana merek dipersepsikan oleh konsumen (Simamora 2003; p.63) 24 Menurut Low & Lamb (2000; p.4 yang dikutip oleh Farida & Dini (2009; p.83-106), berpendapat bahwa untuk memahami citra merek dengan baik harus memperhatikan keunikan karakteristik produk. Berdasarkan pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan, brand image adalah sekumpulan asosiasi merek yang timbul di benak konsumen karena bersifat unik dan memiliki komunikasi pemasaran yang intensif.

Citra (Image) (skripsi dan tesis)

Menurut Aaker dalam Buchari (2009; p.10) image is the total impression of what person or group people think and know about an object. Citra adalah kesan total dari apa yang seseorang atau sekelompok orang pikir dan tahu tentang suatu objek. Dalam Buchari (2009; p.10) mengatakan bahwa merek dapat membuat citra terhadap perusahaan. Citra menurut Kotler, image is the set of beliefs, ideas and impression that a person holds regarding an object. People’s attitude and action towards an object are highly conditioned by that objects image. Citra adalah seperangkat keyakinan, gagasan dan kesan bahwa seseorang memegang mengenai objek.Sikap masyarakat dan tindakan terhadap objek sangat di kondisikan oleh citra objek tersebut. Dapat ditarik kesimpulan bahwa image atau citra akan terbentuk dalam jangkan waktu tertentu, sebab ini merupakan akumulasi persepsi terhadap suatu objek, apa yang terpikirkan, diketahui dialami yang masuk kedalam memory seseorang berdasarkan masukan- masukan dari berbagai sumber sepanjang masa.

Promosi (promotion) (skripsi dan tesis)

Promosi adalah semua kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk mengkomunikasikan dan mempromosikan produknya kepada pasar sasaran, sedangkan menurut Swastha dan Sukotjo (2002:237) Promosi adalah arus informasi atau persuasi satu arah yang dibuat untuk mengarahkan seseorang atau organisasi kepada tindakan untuk menciptakan pertukaran dalam pemasaran. Promosi digunakan oleh perusahaan untuk berkomunikasi dengan konsumen yang bersifat memberitahu, membujuk dan meningkatkan konsumen terhadap produk yang ditawarkan. Dengan adanya kegiatan promosi diharapkan dapat menimbulkan tindak lanjut menuju terjadinya proses transaksi.  Cara-cara promosi :
 1. Periklanan Periklanan dapat digunakan untuk membangun citra jangka panjang bagi suatu produk, disisi lain mempercepat penjualan.
 2. Promosi penjualan Alat promosi penjualan seperti: kupon, harga premi, brosur, pamflet, majalah, garansi, potongan harga, dan sejenisnya sangat beragam. Perusahaan menggunakan alat-alat promosi penjualan itu untuk menciptakan tanggapan yang lebih kuat dan lebih cepat.
3. Hubungan masyarakat dan publisitas
Daya tarik hubungan masyarakat dan publisitas didasarkan pada tiga sifat khusus: 1. Kredibilitas yang tinggi 2. Kemampuan menangkap pembeli yang tidak dibidik sebelumnya 3. Dramatisasi 4. Penjualan personal Penjualan personal adalah alat yang paling efektif biaya pada tahap proses pembelian lebih lanjut, terutama dalam membangun preferensi, keyakinan, dan tindakan pembelian. 5. Pemasaran langsung Pemasaran langsung adalah penggunaan saluran-saluran langsungkonsumen untuk menjangkau dan menyerahkan barang dan jasa kepada pelanggan tanpa menggunakan perantara pemasaran. Saluran-saluran ini mencakup surat langsung, katalog, telemarketing, tv interaktif, kios, situs internet, dan peralatan bergerak. Pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa promosi merupakan arus komunikasi antar produsen dan konsumen, dengan demikian setiap perusahaan yang ingin meningkatkan volume penjualan dan pendapatan laba yang lebih besar harus melaksanakan promosi. Namun perlu mempertimbangkan kemampuan perusahaan tersebut dan memilih jenis promosi yang tepat, sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai.

Indikator Bundling (skripsi dan tesis)

Keberhasilan bundling tergantung dari pelaksanan bundling itu sendiri. Menurut Frans M. Royan (2004; p.59), ada beberapa indikator dalam bundling, agar konsumen berminat pada produk yang dipromosikan, yaitu :

1. Ketepatan Ketepatan dalam hal ini merupakan usaha perusahaan dalam melaksanakan program bundling yang sesuai dengan perencanaan sehingga dapat mencapai tujuan perusahaan. Yang meliputi ketepatan bundling sebagai media promosi, ketepatan waktu pelaksaan promosi bundling dan ketepatan jangka waktu 20 pelaksanaan bundling yang telah ditetapkan oleh perusahaan.

 2. Harga Harga merupakan sejumlah uang yang harus dikorbankan untuk mendapatkan suatu produk tertentu. Harga tersebut meliputi harga produk itu sendiri, harga produk dilihat dari kualitasnya dan harga produk dibandingkan dengan pesaing. Apakah sudah sesuai atau tidak dengan produk yang diperoleh oleh konsumen dilihat dari ketiga kategori tersebut baik dilihat dari kualitasnya maupun dilihat dari kesesuaian dengan produk yang digabungkan tersebut. Jika harga sudah sesuai dengan kualitas produk dan sesuai dengan jumlah produk yang digabung tersebut maka kesesuaian harga telah memenuhi keinginan konsumen yang akan meningkatkan jumlah pembelian produknya. Seperti yang diungkapkan Frans M. Royan (2004; p59), salah satu keunggulan bundling adalah harga produk lebih murah dibandingkan dengan harga ecerannya, hal ini dimaksudkan agar konsumen berminat pada yang dipromosikan.

3. Kemenarikan Kemenarikan dalam hal ini yaitu ketertarikan konsumen terhadap produk yang menggunakan promosi bundling. Pilihan produk yang beragam menjadikan suatu kemenarikan tersendiri bagi konsumen yang akan mendorong terhadap perilaku pembelian konsumen, selain itu kemenarikan akan manfaat yang tinggi akan produk yang dibundling dapat mempengaruhi tingkat keinginan konsumen untuk membeli produk tertentu. Produk utama apabila dikemas menjadi satu dengan produk pendukung juga tidak akan menarik minat konsumen jika berlainan fungsinya.
4. Cara penggabungan produk Cara menggabungkan produk yaitu kegiatan produsen dalam menggabungkan produk utama dan produk pendukung secara seimbang dan sesuai dengan kebutuhan konsumen. Bundling dapat dengan tepatjika dilakukan dengan memaksimalkan cara penggabungan produk dengan tepat. Produk utama dengan jumlah lebih sedikit yang digabung dengan produk pendukung lebih banyak, kurang menumbuhkan minat konsumen.

Pengertian Bundling (skripsi dan tesis)

Menurut Frans M. Royan (2004; p.58) yang menyatakan bundling adalah cara mengikat dua produk yang ada dalam satu lini dengan harga tertentu, yang umumnya lebih murah dibandingkan harga sebelumnya. Bundling adalah penjualan dua atau lebih produk terpisah dalam sebuah paket (Stremersch dan Tellis (2002; p.56). Definisi ini adalah pendapat yang merupakan hasil evaluasi dan penyempurnaan dari definisi Adam dan Yellen (1976; p.575) yang mengartikan bundling sebagai menjual barang dalam paket. Guiltinan (1987; p.74) mengartikan bundling sebagai praktek pemasaran dua atau lebih produk atau jasa dalam satu paket dengan harga khusus. Kemudian Yadav dan Monroe (1993; p.350), mengartikan penjualan dua atau lebih produk atau jasa dengan harga tunggal. Pengertian produk terpisah di sini harus dipahami dengan memperhatikan konteksnya secara seksama. Istilah “produk terpisah” mempunyai implikasi yang sangat besar dalam hal legalitas dan optimalitas bundling, dan oleh karenanya presisi definisi menjadi sangat penting. Stremersch dan Tellis (2002; p.57) mengklasifikasikan bundling strategy dalam dua dimensi kunci. Yang pertama adalah bundling focus, di mana kontennya adalah price dan product bundling.Kemudian yang kedua adalah bundling form yang bisa berupa pure bundling, unbundling, atau mixed bundling. Terdapat 2 dimensi penting dalam bundling menurut Stremersch dan Tellis dalam jurnalnya “Strategic Bundling Price and Product”, yaitu :
1. Produk-bundling (product-bundling) Adalah sebagai suatu integrasi dan penjualan dua atau lebih produk yang terpisah pada harga tertentu. Integrasi pada product bundling ini umumnya menyediakan value added (nilai tambah) kepada pelanggan. Nilai yang lebih besar meningkatkan harga reservasi untuk bundel produk dibandingkan dengan jumlah harga reservasi conditional dari produk yang terpisah. Terkait dengan harga reservasi yang bersedia dibayar oleh setiap konsumen dan perceived value yang diterima oleh konsumen, maka dalam melakukan bundling perusahaan perlu memperhatikan segmen pasarnya. Komponen produk yang dibundling harus memiliki tujuan segmen yang sama. Harga reservasi akan berbeda dari segmen yang satu dengan segmen  yang lain, sehingga akan menciptakan perceived value terhadap bundling yang berbeda pula.
 2. Price Bundling Price bundling adalah penjualan dua atau lebih produk yang berbeda dalam satu paket harga yang di diskon, atau suatu penawaran dari beberapa produk yang tidak terintegrasi pada tingkat harga yang lebih rendah bila ditawarkan secara terpisah, tanpa adanya integrasi apapun dari produk (tidak terintegrasi artinya bahwa pelanggan tetap dapat menggunakan salah satu produk tersebut tanpa mengurangi fungsi dari produk tersebut.). Karena produk-produk yang tidak terpadu, maka harga reservasi (harga maksimum yang bersedia dibayar konsumen) adalah, secara definisi, sama dengan jumlah harga reservasi conditional (harga reservasi dari suatu produk, tergantung pada pembelian produk lain)untuk produk yang terpisah.
Bundling dapat mengambil salah satu dari tiga bentuk: Pure Bundling, Mix bundling dan unbundling (Adams dan Yellen 1976) :
1. Pure Bundling
Pengertian Pure Bundling Menurut Adam dan Yellen (1976), “Pure bundling is a strategy in which a firm sells only the bundle and not (all) the products separately. Pure bundling is sometimes called “tying” in the economics and legal literature”. Yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah strategi dimana perusahaan hanya menjual bundling dan tidak produk secara terpisah.
2. Mixed Bundling
Mixed bundling is a strategy in which a firm sells both the bundle and all the separate products in the bundle separately. Yang diterjemahan dalam bahasa Indonesia Mixed bundling adalah strategi di mana perusahaan menjual kedua bungkusan itu dan semua produk yang terpisah dalam paket terpisah.
 3. Unbundling
Unbundling adalah strategi dimana perusahaan hanya menjual produk secara terpisah, tetapi tidak bundel. Biasanya, karena strategi ini adalah strategi untuk kebanyakan perusahaan, strategi ini disebut unbundling hanya bila dikontraskan dengan strategi bundling.

Komponen Bauran Pemasaran (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler & Amstrong (2008; p.76), bauran pemasaran adalah kumpulan alat pemasaran taktis terkendali yang dipadukan perusahaan untuk menghasilkan respon yang diinginkan di pasar sasaran. Bauran pemasaran terdiri dari semua usaha yang dilakukan perusahaan untuk mempengaruhi permintaan produknya. Dikelompokkan menjadi 4 kelompok atau disebut 4 P: Product (Produk), Price (Harga), Place (Tempat), dan Promotion (Promosi). 1. Product (Produk), berarti kombinasi barang dan jasa yang ditawarkan perusahaan kepada pasar sasaran. 2. Price (Harga), sejumlah uang yang harus dibayarkan pelanggan untuk memperoleh produk yang dalamnya termasuk sejumlah biaya produksi dan keuntungan perusahaan. 13 3. Place (Tempat), meliputi kegiatan perusahaan yang membuat produk tersedia bagi pelanggan sasaran juga termasuk pendistribusian produk. 4. Promotion (Promosi), aktivitas yang menyampaikan manfaaat produkdan membujuk pelanggan membelinya.

Pemasaran (skripsi dan tesis)

Menurut Lamb, hair, Mc Daniel (2001; p.6), pemasaran merupakan suatu proses perencanaan dan menjelaskan konsep, harga, promosi, dan distribusi sejumlah ide, barang, jasa untuk menciptakan pertukaran yang mampu memuaskan tujuan individu dan organisasi. Menurut pendapat Kotler dan Amstrong (2006; p.6), pemasaran adalah proses dimana perusahaan menciptakan nilai bagi pelanggan dan membangun hubungan yang kuat dengan pelanggan dengan tujuan untuk menangkap nilai dari pelanggan sebagai imbalannya. Dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa pemasaran merupakan proses untuk merencanakan, menjelaskan konsep serta memasarkan barang dimana nilai bagi pelanggan dibangun oleh perusahaan yang bertujuan untuk memuaskan para stake holder.

Sales Promotion (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler dan Amstrong (2012:27) sales promotion adalah insentif jangka pendek untuk mendorong pembelian atau penjualan produk atau jasa. Sales promotion difokuskan pada konsumen sebagai sasaran akhir. Sementara itu sarana promosi yang digunakan adalah pemberian sampel, hadiah, hadiah demonstrasi, dan potongan harga (Royan, et al 2014:56)

Minat Beli (skripsi dan tesis)

Menurut Ferdinand, et al (2013:172) minat beli dapat diidentifikasi melalui indikatorindikator sebagai berikut: 1. Minat transaksional. Kecenderungan seseorang untuk membeli produk. 2. Minat referensial. Kecenderungan seseorang untuk mereferensikan produk kepada orang lain. 3. Minat preferensial. Minat yang menggambarkan perilaku seseorang yang memiliki preferensi utama pada suatu produk. 4. Minat eksploratif. Perilaku seseorang yang selalu mencari informasi mengenai produk yang diminatinya dan mencari informasi untuk mendukung sifat-sifat positif dari produk tersebut.

Penciptaan Nilai dari Bundling (skripsi dan tesis)

Value dari bundling dapat dievaluasi berdasarkan teori mengenai value creation yang dikemukakan oleh (Amit dan Zott, et al 2013:13), bahwa sumber dari penciptaan nilai dapat dilihat dari empat dimensi yaitu Novelty, Lock-in, Complementary dan Efficiency. Berikut penjelasannya:
1. Novelty. Perusahaan memberikan produk pada konsumen, dengan selalu melakukan inovasi dalam bagaimana perusahaan memasarkan produknya termasuk inovasi produk. Dalam novelty, nilai diperoleh bila konsumen dapat memperoleh produk yang lain dari  pada yang lain atau dengan cara yang baru dan berbeda. Inovasi juga dapat dilihat dari bagaimana melakukan transaksi, serta konten-konten yang disediakan oleh perusahaan.
2. Lock-in. Membuat pelanggan melakukan pembelian kembali dan bagaimana kemampuan perusahaan untuk mempertahankannya. Lock-in juga dapat diartikan bagaimana cara perusahaan untuk mencegah migrasi konsumen kepada kompetitor, lock-in dinyatakan dengan switching cost. Lock-in juga dapat berhasil dari network externalities yaitu pengaruh dari lingkungan sekitar untuk beralih membeli produk bundling.
 3. Complementary (untuk barang yang di bundling). Memberikan nilai lebih besar dari total nilai yang diberikan oleh produk-produk tersebut apabila dijual secara terpisah. Komplementaritas dapat menjadi sumber dari penciptaan nilai dengan menawarkan produk yang di bundling yang saling melengkapi.
4. Efficiency. Efisiensi dapat dicapai bila terdapat pengurangan biaya, baik itu biaya transaksi, biaya pencarian, kecepatan dan kemudahan.

Bundling (skripsi dan tesis)

 

Bundling juga sering disebut masyarakat Indonesia sebagai paket penjualan. Sedangkan menurut (Stremersch & Tellis, et al 2013:12) “Pada umumnya, harga yang ditawarkan dalam kombinasi produk hasil bundling lebih murah dibandingkan harga per satuan produk apabila dibeli terpisah”. Tujuan diterapkannya bundling dalam industri adalah untuk memberikan daya tarik lebih kepada konsumen sehingga dapat meningkatkan penjualan produk perusahaan secara keseluruhan. Untuk merangkum beberapa pendapat mengenai bundling, berikut penjelasannya menurut (Kotler dan Keller, 2016:42).
1.Pure Bundling Jenis produk bundling dimana konsumen hanya dapat membeli produk yang ditawarkan penjual dalam bentuk paket. Pada jenis bundling ini konsumen tidak bisa membeli produk secara terpisah. Pilihannya bagi konsumen adalah membeli produk tersebut secara paket atau tidak membeli sama sekali.
2. Mixed bundling Mixed bundling adalah jenis produk bundling dimana konsumen dapat memilih produk tersebut secara paket atau terpisah. Biasanya pada jenis ini konsumen akan ditawarkan beberapa keuntungan ketika membeli dalam bentuk paket, seperti pemotongan harga atau bonus-bonus lainnya. Kemudian (Stremersch dan Teilis, et al 2015:12) membedakan menjadi 2 kategori:
a. Product bundling. Di definisikan sebagai penjualan dua produk atau lebih dalam satu harga. Kedua produk tersebut telah diintegrasikan menjadi satu produk yang memiliki fungsi saling melengkapi. b. Price bundling. Didefinisikan sebagai melakukan penjualan dua atau lebih produk yang berbeda dalam satu paket harga tanpa menyatukan produk tersebut dalam satu kesatuan. Kare

Jenis Dalam Regresi Logistik (skripsi dan tesis)

Sebagaimana metode regresi biasa, Regresi Logistik dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:

1. Binary Logistic Regression (Regresi Logistik Biner). Regresi Logistik biner digunakan ketika hanya ada 2 kemungkinan variabel respon (Y), misal membeli dan tidak membeli.
 2. Multinomial Logistic Regression (Regresi Logistik Multinomial). Regresi Logistik Multinomial digunakan ketika pada variabel respon (Y) terdapat lebih dari 2 kategorisasi

Asumsi Dalam Regresi Logistik (skripsi dan tesis)

Asumsi yang harus dipenuhi dalam Regresi Logistik antara lain: 1. Regresi logistik tidak membutuhkan hubungan linier antara variabel independen dengan variabel dependen. 2. Variabel independen tidak memerlukan asumsi multivariate normality. 3. Asumsi homokedastisitas tidak diperlukan 4. Variabel bebas tidak perlu diubah ke dalam bentuk metrik (interval atau skala ratio). 5. Variabel dependen harus bersifat dikotomi (2 kategori, misal: tinggi dan rendah atau baik dan buruk) 6. Variabel independen tidak harus memiliki keragaman yang sama antar kelompok variabel 7. Kategori dalam variabel independen harus terpisah satu sama lain atau bersifat eksklusif 8. Sampel yang diperlukan dalam jumlah relatif besar, minimum dibutuhkan hingga 50 sampel data untuk sebuah variabel prediktor (independen). 9. Regresi logistik dapat menyeleksi hubungan karena menggunakan pendekatan non linier log transformasi untuk memprediksi odds ratio. Odd dalam regresi logistik sering dinyatakan sebagai probabilitas.

Pengertian regresi Logistik (skripsi dan tesis)

Dalam sebuah penelitian biasanya kita memodelkan hubungan antar 2 variabel, yaiitu variabel X (independent) dan Y (dependent). Metode yang biasa dipakai dalam penelitian seperti ini adalah regresi linier, baik sederhana maupun berganda. Namun, adakalanya regresi linier dengan metode OLS (Ordinary Least Square) yang dipakai tidak sesuai untuk digunakan. Regresi linier yang sering digunakan kadang terjadi pelanggaran asumsi Gauss-Markov. Misalnya pada kasus dimana variabel dependent (Y) bertipe data nominal, sedangkan variabel bebas/prediktornya (X) bertipe data interval atau rasio. Ingin diketahui apakah mahasiswa sudah melek keuangan berdasarkan jenis kelamin, fakultas yang dipilih dan indeks prestasi kumulatif. Dalam kasus ini hanya ada 2 kemungkinan respon mahasiswa, yaitu mahasiswa melek keuangan dan mahasiswa tidak melek keuangan.
Dari contoh kasus di atas, dapat diketahui bahwa tipe data variabel respon (Y) adalah nominal, yaitu kategorisasi keputusan mahasiswa melek keuangan atau tidak (misal melek keuangan angka 1, sedangkan tidak melek keuangan angka 0), sedangkan tipe data untuk variabel bebas (X) setidaktidaknya interval (skala likert). Bila metode regresi linier biasa diterapkan pada kasus semacam ini, menurut Kutner, dkk. (2004), akan terdapat 2 pelanggaran asumsi Gauss-Markov dan 1 buah pelanggaran terhadap batasan dari nilai duga (fitted value) dari variabel respon (Y), yaitu: 1. Error dari model regresi yang didapat tidak menyebar normal. 2. Ragam (variance) dari error tidak homogen (terjadi heteroskedastisitas pada ragam error). 3. Sedangkan, pelanggaran bagi batasan nilai duga Y (fitted value) adalah bahwa nilai duga yang dihasilkan dari model regresi linier biasa melebihi rentang antara 0 s.d. 1. Hal ini jelas tidak masuk akal , karena batasan nilai pada variabel Y (dalam kasus ini adalah Pemahaman literasi keuangan tinggi =1 dan Pemahaman literasi keuangan rendah =0). Untuk mengatasi masalah ini, diperkenalkan metode Regresi Logistik. Regresi logistik (kadang disebut model logistik atau model logit), dalam statistika digunakan untuk prediksi  probabilitas kejadian suatu peristiwa dengan mencocokkan data pada fungsi logit kurva logistik. Regresi logistik adalah sebuah pendekatan untuk membuat model prediksi seperti halnya regresi linear atau yang biasa disebut dengan istilah Ordinary Least Squares (OLS) regression. Perbedaannya adalah pada regresi logistik, peneliti memprediksi variabel terikat yang berskala dikotomi. Skala dikotomi yang dimaksud adalah skala data nominal dengan dua kategori, misalnya: Ya dan Tidak, Baik dan Buruk atau Tinggi dan Rendah. Apabila pada OLS mewajibkan syarat atau asumsi bahwa error varians (residual) terdistribusi secara normal. Sebaliknya, pada regresi logistik tidak dibutuhkan asumsi tersebut sebab pada regresi logistik mengikuti distribusi logistik

Uji Model Persamaan Regresi Logistik (skripsi dan tesis)

Uji ini sering disebut juga sebagai uji ketepatan model. Uji ini digunakan untuk mengatahui apakah model regresi logistik sudah sesuai dengan data observasi yang diperoleh. Untuk menilai ketepatan model regresi logistik dalam penelitian ini diukur dengan nilai chi square dengan uji Hosmer dan Lemeshow. Pengujian ini akan melihat nilai goodness of fit test yang diukur dengan nilai chi square pada tingkat signifikansi, dimana tingkat signifikansi pada penelitian ini adalah 5%. Uji Hosmer dan Lemeshow ini disebut juga uji t yaitu uji signifikansi konstanta dan setiap variabel independen. Kriteria Statistiknya dapat dilihat dari tabel Hosmer and Lemeshow dari hasil olah data.

Uji hipotesis: : Model sesuai (Model mampu menjelaskan data empiris) :
                        Model tidak sesuai (Model tidak mampu menjelaskan dataempiris)
 Kriteria Pengujian: : ditolak bila probabilitas ≤ 0,05 : diterima bila probabilitas > 0,05

Analisis Regresi Logistik (skripsi dan tesis)

Model regresi merupakan komponen penting dalam beberapa analisis data dengan menggambarkan hubungan antara variabel respon dan satu atau beberapa variabel penjelas. Pada umumnya analisis regresi digunakan untuk menganalisis data dengan variabel respon berupa data kuantitatif. Akan tetapi sering juga ditemui  kasus dengan variabel responnya bersifat kualitatif/kategori. Untuk mengatasi masalah tersebut maka dapat digunakan model regresi logistik. Pendekatan model persamaan regresi logistik digunakan karena dapat menjelaskan hubungan antara variabel bebas dan peluangnya yang bersifat tidak linear, ketidaknormalan sebaran dari variabel terikat, serta keragaman respon yang tidak konstan dan tidak dapat dijelaskan oleh model regresi linear biasa (Agresti, 1990). Menurut Hosmer (1989), metode regresi logistik adalah suatu metode analisis statistika yang mendeskripsikan hubungan antara peubah respon yang memiliki dua kategori atau lebih dengan satu atau lebih peubah penjelas berskala kategori atau interval. Yang dimaksud dengan peubah kategorik yaitu peubah yang berupa data nominal dan ordinal. Pada dasarnya regresi logistik sama dengan analisis diskriminan, perbedaan ada pada jenis data dari variabel dependen. Jika pada analisis diskriminan variabel dependen adalah data rasio, maka pada regresi logistik variabel dependen adalah data nominal. Data nominal di sini lebih khusus adalah data binary. Dengan demikian, tujuan regresi logistik adalah pembuatan sebuah model regresi untuk memprediksi besar variabel dependen yang berupa variabel binary dengan menggunakan data variabel independen yang sudah diketahaui besarnya. Regresi logistik biner adalah salah satu metode statistika yang sering digunakan untuk mengklasifikasikan sejumlah pengamatan dengan respon biner ke dalam beberapa kelompok berdasarkan satu atau lebih variabel prediktor. Melalui metode ini akan dihasilkan peluang dari masing-masing kategori respon yang akan dijadikan sebagai pedoman pengklasifikasian dan suatu pengamatan akan masuk kedalam respon kategori tertentu berdasarkan nilai peluang yang terbesar. Pada Regresi logistik biner (dikotomus), variabel responnya mempunyai dua kategori. Fenomena dimana variabel responnya dua (bivariat) dan masingmasing berkategorikan biner, dapat dianalisis mengunakan regresi logistik biner bivariat, dengan asumsi antar peubah respon biner terdapat dependensi.

Regresi logistik cukup baik dan sering digunakan.  Regresi logistik memiliki beberapa keuntungan dibandingkan regresi lainnya, yaitu: 1. Regresi logistik tidak memiliki asumsi normalitas atas variabel bebas yang digunakan dalam model. Artinya variabel penjelas tidak harus memiliki distribusi normal, linier, maupun memiliki varian yang sama dalam setiap group. 2. Variabel dalam regresi logistik dapat berupa campuran dari variabel kontinu, diskrit, dan dikotomis. 3. Regresi logistik amat bermanfaat digunakan apabila distribusi respon atas variabel terikat diharapkan non linier dengan satu atau lebih variabel bebas

Analisis Regresi (skripsi dan tesis)

Analisis regresi adalah teknik statistika yang berguna untuk memeriksa dan memodelkan hubungan diantara variabel-variabel. Analisis regresi dapat digunakan untuk dua hal pokok, yaitu: a. Untuk memperoleh suatu persamaan dari garis yang menunjukkan persamaan hubungan antara dua variabel. Persamaan dan garis yang dihasilkan bisa berupa persamaan garis bentuk linier maupun nonlinier. b. Untuk menaksir suatu variabel yang disebut variabel tak bebas (terikat) dengan variabel lain yang disebut variabel bebas berdasarkan hubungan yang ditunjukkan persamaan regresi tersebut. Berdasarkan amatan dan analisis data, penyelesaian regresi ini dapat berupa persamaan linier maupun nonlinier. Oleh karena itu analisis regresi ini terbagi atas regresi linier dan regresi nonlinier. Yang termasuk ke dalam regresi linier adalah regresi linier sederhana, regresi linier berganda, dan sebagainya. Ssedangkan yang termasuk regresi nonlinier adalah regresi model parabola kuadratik, model parabola kubik, model eksponen, model geometrik, regresi logistik, dan sebagainya.

Macam–macam Rancangan Penelitian dalam Bidang Kesehatan (skripsi dan tesis)

Secara garis besar, penelitian dalam bidang kesehatan dapat dibagi berdasarkan beberapa aspek sebagai berikut: 1. Berdasarkan tujuan, penelitian kesehatan dapat dibagi menjadi penelitian eksploratif, penelitian deskriptif, penelitian analitik (prospektif dan retrospektif) dan penelitian eksperimental. 2. Berdasarkan pendekatan yang digunakan maka penelitian dapat dibagi menjadi penelitian cross sectional dan longitudinal. 3. Berdasarkan keterlibatan peneliti dapat dikelompokkan menjadi penelitian observasional dan penelitian intervensional.Konsep penelitian ini adalah penelitian Cross Sectional. Penelitian cross sectional mempelajari dinamika hubungan antara faktor resiko dengan efeknya. Faktor resiko dengan efeknya diobservasi pada saat yang sama. Artinya subjek penelitian diobservasi hanya satu kali saja dan faktor resiko dengan efeknya dicatat sesuai kondisi atau status pada saat observasi. Faktor resiko pada penelitian ini adalah Jenis Kelamin, Usia, Sex, Transfusi Darah, Jarum Suntik, Ibu ke anak dan efeknya adalah penyakit Hiv/Aids

Pengertian Variabel (skripsi dan tesis)

 Variabel merupakan objek yang berbentuk apa saja yang ditentukan oleh peneliti dengan tujuan untuk memperoleh informasi agar bisa ditarik suatu kesimpulan. Secara teori, definisi variabel penelitian adalah merupakan suatu objek atau sifat atau atribut atau nilai dari orang atau kegiatan yang mempunyai bermacammacam variasi antara satu dengan yang lainnya yang ditetapkan oleh peneliti dengan tujuan untuk dicari dan ditarik kesimpulan. Adapun tipe-tipe variabel terbagi atas:
1. Variabel Bebas Variabel bebas ataupun variabel independen merupakan variabel stimulus atau variabel yang memepengaruhi variabel lain. Variabel bebas merupakan yang variabilitasnya diukur atau dipilih oleh peneliti untuk menentukan hubungannya dengan suatu gejala yang diobservasi.
2. Variabel Terikat Variabel terikat atau variabel dependen merupakan variabel yang memberikan reaksi atau respon jika dihubungkan dengan variabel bebas. Variabel dependen adalah variabel yang variabilitasnya diamati dan diukur untuk menentukan pengaruh yang disebabkan oleh variabel bebas.

Skala Pengukuran Data (skripsi dan tesis)

Pengetahuan mengenai skala pengukuran data sangat penting di dalam statistika. Terdapat empat skala pengukuran data, diurutkan mulai dari tingkatan terendah hingga tertinggi seperti berikut ini:

 1. Nominal, tipe data ini digunakan untuk mengklasifikasikan informasi/data. Contoh: Data jenis kelamin yaitu Laki-laki dan Perempuan. Biasanya, saat analisis data tipe seperti ini dilambangkan dengan bilangan numerik. Laki–laki dilambangkan dengan angka 1, sedangkan perempuan dilambangkan dengan angka 2. Tidak berarti angka 1 lebih rendah dari angka 2, hanya melambangkan saja.

 2. Ordinal, tipe data ini digunakan untuk mengklasifikasikan serta memiliki tingkatan. Tipe data ordinal lebih tinggi dari nominal karena kemampuannya untuk membentuk tingkatan. Contoh: Jabatan di dalam perusahaan ada karyawan, manager, dan direktur utama. Misal karyawan dilambangkan dengan 1, manager dengan 2 dan direktur utama dengan 3. Pada tipe data ini, angka 1 dianggap lebih rendah dari angka 2 dan seterusnya.
 3. Interval, ciri khas dari tipe data ini selain memiliki kemampuan mengklasifikasi dan membentuk tingkatan adalah tidak adanya nilai nol mutlak. Artinya, angka nol yang digunakan bukan berarti tidak ada. Contoh: Derajat suhu. Di dalam skala celcius misalnya, Nol derajat celcius bukan berarti tidak ada suhu. Nol derajat itu memiliki suhu, hanya saja dilambangkan nol.
4. Rasio, tipe data ini memiliki kemampuan dari ketiga tipe data sebelumnnya dan angka nol dianggap mutlak. Contoh: data berat badan (kg). Angka nol kg berarti memang tidak ada berat.

Data (skripsi dan tesis)

Data merupakan sejumlah informasi yang dapat memberikan gambaran tentang sesuatu keadaan. Informasi yang di peroleh memberikan keterangan, gambaran, atau fakta mengenai suatu persoalan dalam bentuk kategori, huruf, atau bilangan. Data digunakan untuk menyediakan informasi bagi suatu penelitian, pengukuran kinerja, dasar pembuatan keputusan dan menjawab rasa ingin tahu. Jenis-jenis data berdasarkan cara memperolehnya yaitu:

 1. Data primer Data primer merupakan data yang didapat dari sumber pertama, baik dari individu atau perseorangan seperti hasil wawancara atau pengisian kuisioner yang biasa dilakukan oleh peneliti. Biasanya data primer, peneliti melakukan observasi sendiri baik di lapangan maupun di laboratorium.
2. Data sekunder Data sekunder merupakan data primer yang diperoleh oleh pihak lain atau data primer yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan baik oleh pengumpul data primer atau pihak lain yang pada umumnya disajikan dalam bentuk tabel-tabel atau diagram-diagram (Sugiarto, dkk, 2001)

Regresi Robust (skripsi dan tesis)

Regresi robust merupakan metode regresi yang digunakan ketika distribusi dari galat tidak normal dan atau adanya beberapa pencilan yang berpengaruh pada model (Ryan, 1997). Menurut Chen (2002:1) metode-metode estimasi dalam regresi robust diantaranya adalah:

 1. Estimasi M (Maximum likelihood type) yang dikenalkan oleh Huber (1973) adalah metode yang sederhana baik dalam penghitungan maupun secara teoritis. Estimasi ini menganalisis data dengan mengasumsikan bahwa sebagian besar yang terdeteksi pencilan pada variabel independen.

2. Estimasi LTS (Least Trimmed Squares) adalah metode dengan high breakdown point yang dikenalkan oleh Rousseeuw (1984). Breakdown point adalah ukuran proporsi minimal dari banyaknya data yang terkontaminasi pencilan dibandingkan seluruh data pengamatan.

3. Estimasi S (Scale) juga merupakan metode dengan high breakdown point yang dikenalkan oleh Rousseeuw and Yohai (1984). Dengan nilai breakdown yang sama, metode ini mempunyai efisiensi yang lebih tinggi dibanding estimasi LTS. 4. Estimasi MM (Method of Moment), dikenalkan oleh Yohai (1987). Metode ini menggabungkan estimasi S (estimasi dengan high breakdown point) dan estimasi M.

Asumsi Regresi Logistik (skripsi dan tesis)

Adapun asumsi dalam analisis regresi logistik adalah:
  1. Tidak mengasumsikan hubungan linier antar variabel dependen dan independen
  2. Variabel dependen harus bersifat dikotomi (2 variabel)
  3. Variabel independen tidak harus memiliki keragaman yang sama antar kelompok variabel
  4. Kategori dalam variabel independen harus terpisah satu sama lain atau bersifat eksklusif
  5. Sampel yang diperlukan dalam jumlah relatif besar, minimum dibutuhkan hingga 50 sampel data untuk sebuah variabel prediktor (bebas).

Regresi Logistik (skripsi dan tesis)

Logistic Regression atau biasa kita sebut Regresi Logistik sebenarnya mirip dengan analisis faktor yaitu kita ingin menguji apakah probabilitas terjadinya variabel terikat dapat diprediksi dengan variabel bebasnya. Analisis regresi logistik digunakan untuk menjelaskan hubungan antara variabel respon yang berupa data dikotomik/biner dengan variabel bebas yang berupa data berskala interval dan atau kategorik, (Hosmer dan Lemeshow, 1989).
Variabel yang dikotomik/biner adalah variabel yang hanya mempunyai dua kategori saja, yaitu kategori yang menyatakan kejadian sukses (Y=1) dan kategori yang menyatakan kejadian gagal (Y=0). Pada model-model linear umum komponen acak tidak harus mengikuti sebaran normal, tapi harus masuk dalam sebaran keluarga eksponensial. Sebaran bernoulli termasuk dalam salah satu dari sebaran keluarga eksponensial. Variabel respon Y ini, diasumsikan mengikuti distribusi Bernoull

Pengaruh Ukuran perusahaan terhadap nilai perusahaan (skripsi dan tesis)

Ukuran perusahaan yang diproksikan dengan nilai total aset ini dianggap mampu mempengaruhi nilai perusahaan. Nilai total aset ini digunakan dengan dasar bahwa nilai total aset mencerminkan kekayaan atau harta suatu perusahaan. Semakin besar ukuran perusahaan, maka akan ada kecenderungan lebih banyak investor yang menaruh perhatiannya pada perusahaan tersebut. Hal ini disebabkan karena perusahaan besar cenderung memiliki kondisi yang lebih stabil. Kestabilan kondisi perusahaan ini akan menarik investor untuk menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut. Kondisi tersebut yang menjadi penyebab atas naiknya harga saham dan meningkatnya nilai perusahaan. Hal ini didukung oleh penelitian Komang dan I Made (2016) dan Nenggar (2015) yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan. Sebaliknya penelitian Noviliyan (2016) dan Ayu dan Ary (2013) menunjukkan bahwa ukuran perusahaan tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan

Pengaruh Leverage terhadap nilai perusahaan (skripsi dan tesis)

Leverage merupakan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka panjang maupun jangka pendek (Selfi, 2014). Rasio yang digunakan untuk mengukur leverage adalah Debt to Equity Ratio (DER). Debt to Equity Ratio (DER) adalah rasio utang yang diukur dengan perbandingan total utang (total debt), baik jangka panjang maupun jangka pendek dengan ekuitas (equity) (Hidayah, 2012). Semakin tinggi DER maka risiko yang ditanggung perusahaan akan semakin besar. Hal tersebut mempengaruhi tingkat kepercayaan investor terhadap perusahaan tersebut dan mempengaruhi nilai perusahaan (Nasehah, 2012 dalam Novia 2013). Artinya semakin rendah tingkat DER maka risiko yang ditanggung perusahaan juga semakin kecil, maka kemungkinan nilai perusahaan akan semakin tinggi karena perusahaan mendapat kepercayaan kembali dari investor. Penelitian Vicky et al. (2015) dan Yangs dan Wahyudi (2011) menyatakan leverage berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Sebaliknya penelitian yang dilakukan oleh Komang Adik dan I Made (2016) yang menyatakan bahwa leverage memiliki pengaruh negatif terhadap nilai perusahaan

Pengaruh Return on Equity (ROE) terhadap nilai perusahaan (skripsi dan tesis)

Return on Equity (ROE) adalah rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba berdasarkan modal saham (Hanafi, 2006 dalam Lanti, 2015). Pertumbuhan ROE menunjukkan prospek perusahaan semakin baik, yang akan ditangkap oleh investor sebagai sinyal positif. ROE yang tinggi menunjukkan kinerja perusahaan yang bagus sehingga perusahaan memiliki tingkat efisiensi yang baik, laba jadi meningkat, dengan demikian harga saham akan mengalami kenaikan dan mempengaruhi nilai perusahaan. Penelitian yang dilakukan oleh Sri (2014) menyatakan bahwa Return on Equity (ROE) memiliki pengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan. Penelitian Yangs dan Wahyudi (2011) juga mengungkapkan bahwa Return on Equity (ROE) berpengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan.   Sebaliknya pada penelitian Rahayu et al. (2010) menyatakan ROE tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan

Pengaruh Return on Asset (ROA) terhadap nilai perusahaan (skripsi dan tesis)

Return on Asset (ROA) merupakan rasio profitabilitas. ROA digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan secara keseluruhan di dalam menghasilkan keuntungan dengan jumlah keseluruhan aset yang tersedia di perusahaan. Semakin besar keuntungan yang diperoleh, semakin besar pula kemampuan perusahaan untuk membayarkan dividennya. Kemampuan perusahaan untuk membayarkan dividennya maka akan menarik investor untuk menanamkan modalnya di perusahaan tersebut. Semakin diminati saham perusahaan tersebut oleh investor mengakibatkan nilai perusahaan meningkat (Helmy, 2013). Sebaliknya bila keuntungan yang diperoleh perusahaan kecil, maka kemampuan perusahaan untuk membayarkan dividennya cenderung kecil. Kemampuan perusahaan untuk membayarkan dividennya kecil, akan berakibat investor enggan menanamkan modalnya di perusahaan tersebut dan akan menurunkan nilai perusahaan. Penelitian Priscilia et al. (2015) dan Vicky et al. (2015) menyatakan bahwa Return on Asset (ROA) memiliki pengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Penelitian Lanti dan Edi (2015) menunjukkan hasil berbeda bahwa Return on Asset (ROA) memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap nilai perusahaan.

Teori Sinyal (Signalling Theory) (skripsi dan tesis)

Teori sinyal mengemukakan tentang bagaimana seharusnya sebuah perusahaan memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan. Spence (1973) menyatakan bahwa sinyal atau informasi yang ada didalam suatu perusahaan (pemilik informasi), yang mencoba untuk memberikan beberapa informasi relevan yang dapat dimanfaatkan oleh pihak penerima (pihak eksternal perusahaan). Pihak penerima akan menggunakan informasi tersebut untuk pengambilan keputusan. Teori sinyal menjelaskan bahwa perusahaan mempunyai dorongan untuk memberikan informasi laporan keuangan pada pihak eksternal. Kurangnya informasi bagi pihak luar mengenai perusahaan menyebabkan mereka melindungi diri mereka dengan memberikan harga yang rendah untuk perusahaan. Nilai perusahaan dicerminkan oleh harga saham, sehingga keberadaan informasi yang asimetri dapat berakibat penurunan nilai perusahaan. Dorongan perusahaan untuk memberikan informasi karena terdapat asimetri informasi antara perusahaan dan pihak luar karena perusahaan mengetahui lebih banyak mengenai perusahaan dan prospek yang akan datang dari pada pihak luar (investor dan kreditor). Informasi asimetris (asymmetric information) investor dan manajer memiliki informasi yang sama mengenai prospek perusahaan. Salah satu cara mengurangi informasi asimetri dengan memberikan good signal kepada pihak luar, berupa informasi keuangan yang dapat dipercaya dan akan mengurangi ketidakpastian prospek atau nilai perusahaan yang akan datang (Wolk et al., 2000 dalam Rahayu et al., 2010). 23 Semakin kecil asimetry information, maka calon investor semakin percaya terhadap informasi laporan keuangan perusahaan dan prospek nilai perusahaan akan semakin baik

Analisis Regresi Linier Berganda (skripsi dan tesis)

Analisis regresi merupakan salah satu analisis statistik yang sering digunakan untuk menganalisis hubungan antara dua variabel atau lebih. Menurut Drapper dan Smith (1992) analisis regresi merupakan metode analisis yang dapat digunakan untuk menganalisis data dan mengambil kesimpulan yang bermakna tentang hubungan ketergantungan variabel terhadap variabel lainnya. Hubungan yang didapat pada umumnya dinyatakan dalam bentuk persamaan matematika yang menyatakan hubungan antara variabel bebas (independent variable) dan variabel tak bebas (dependent variable) dalam bentuk persamaan sederhana.

Model Regresi Multilevel Respon Biner (skripsi dan tesis)

Model regresi multilevel dengan variabel respon (dependen) berupa data biner atau hanya terdiri dari dua kategori, maka estimasi parameter bisa dilakukan menggunakan estimasi maksimum likelihood dengan pendekatan suatu metode tertentu (Goldstein, 1999). Dalam model regresi, apabila variabel respon berupa biner atau dichotomous biasanya digunakan model regresi logistik yang dalam estimasi parameternya harus menggunakan suatu fungsi penghubung (link function). Hal tersebut juga sama diterapkan dalam model multilevel. Apabila variabel respon berdistribusi binomial dengan parameter proporsi (πij), maka fungsi penghubung yang digunakan adalah logit (log{π/(1-π)}) sehingga modelnya disebut dengan model logistik

Regresi Logistik Biner (skripsi dan tesis)

Regresi logistik digunakan untuk mencari hubungan variabel dependen (Y) yang bersifat dichotomous(berskala nominal atau ordinal dengan dua kategori) atau polychotomous (mempunyai skala nominal atau ordinal dengan lebih dari dua kategori) dengan satu atau lebih variabel independen (X) yang bersifat kontinu atau kategorik (Agresti, 2007). Salah satu regresi logistik yang paling sederhana digunakan adalah regresi logistik biner. Regresi logistik biner merupakan suatu metode analisis data yang digunakan untuk mencari hubungan antara variabel dependen (Y) yang bersifat biner atau dikotomus dengan variabel independen (X) yang bersifat polikotomus Data variabel dependen yang digunakan dalam regresi logistik biner adalah data dengan skala nominal dengan hanya berupa 2 kategori yaitu “sukses” atau “gagal” misalnya: ya-tidak, benar-salah, hidup-mati, hadir-absen, laki-wanita, dan seterusnya. Sedangkan data variabel independen dapat berupa data dengan skala ordinal (seringkali digunakan pada kasus-kasus/penelitian sosial kemasyarakatan) ataupun data dengan skala rasio (seringkali dijumpai pada penelitian industri). Outcome dari variabel dependen Y terdiri dari 2 kategori yaitu “sukses” dan “gagal” yang dinotasikan dengan Y=1 (sukses) dan Y=0 (gagal). Dalam keadaan demikian, variabel Y mengikuti distribusi Bernoulli untuk setiap observasi tunggal

Model Regresi Multilevel (skripsi dan tesis)

Model multilevel merupakan sebuah model yang digunakan pada data berjenjang (hierarchy). Data berjenjang seringkali ditemukan pada penelitian- penelitian survei dimana unit-unit analisisnya berasal dari kelompok-kelompok (cluster), atau data yang diambil melalui penarikan sampel bertahap (cluster sampling). Misalnya, dalam pengambilan sampel menggunakan metode sampling satu tahap (Single Stage Cluster Sampling), dimana unit-unit sampling yang berasal dari kelompok diperhitungkan keberadaanya dalam analisis, sehingga dalam hal ini model yang sesuai adalah model multilevel. Unit-unit sampling yang ada dalam kelompok disebut level rendah dan kelompokkelompok disebut level tinggi. Banyaknya unitunit analisis dalam kelompok bisa sama atau berbeda untuk setiap kelompok. Suatu model regresi multilevel yang sederhana hanya terdiri dari 2 level. Misalkan, diberikan data dalam J kelompok dan jumlah yang berbeda dari individu nj dalam setiap kelompok. Dalam individu (level 1), terdapat variabel tak bebas/respon Yij dan variabel bebas/penjelas Xij, serta pada level kelompok terdapat variabel bebas Zj. Sehingga, terdapat persamaan model regresi terpisah pada setiap kelompok

Pengaruh Faktor Kepribadian Terhadap Pemilihan Karier (skripsi dan tesis)

Menurut Kunartinah (2003), karier akuntan publik adalah karier yang ada pada lingkungan konvensional dan membutuhkan orang yang kepribadiannya konvensional juga. Menurut Robbins, 1996 (dalam Kunartinah, 2003) motivasi adalah kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi kearah tujuan organisasi yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu untuk memenuhi suatu kebutuhan individu. Setiap manusia yang berusia produktif bekerja karena ada dorongan dari setiap individu, dorongan tersebut memotivasi mereka untuk bekerja dan berkarier. Teori motivasi Higiene (dalam Oktavia, 2005) menyatakan bahwa hubungan seorang individu pada pekerjaannya merupakan hubungan dasar dan sikap kerjanya terhadap pekerjaan tersebut sangat menentukan sukses atau gagalnya individu tersebut.

Pengaruh Faktor Pertimbangan Pasar Kerja Terhadap Pemilihan Karier (skripsi dan tesis)

Menurut Andriati, 2001 (dalam Kunartinah, 2003) penghasilan atau Pertimbangan pasar kerja selalu dipertimbangkan mahasiswa dalam pemilihan karier, Karena terpuruknya keadaan perekonomian dan sulitnya mencari kerja, mengakibatkan mahasiswa memperhatikan pasar kerja, baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Penelitian yang dilakukan oleh Rasmini (2007) menunjukkan bahwa faktor keamanan kerja (tidak kena PHK) berpengaruh signifikan terhadap pemilihan karier akuntan publik dan non akuntan publik. Mahasiswa akuntansi lebih memilih karier akuntan publik karena keamanan kerja jauh lebih terjamin dibandingkan dengan karier non akuntan publik. Dari penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa faktor pertimbangan pasar kerja berpengaruh terhadap pemilihan karier akuntan publik dan non akuntan publik.

Pengaruh Faktor Penghasilan Jangka Panjang dan Jangka Pendek Terhadap Pemilihan Karier (skripsi dan tesis)

Menururt Reha dan Lu, 1985 (dalam Kunartinah, 2003) mahasiswa akuntansi menempatkan gaji sebagai alasan utama dalam pemilihan karier. Menurut Wijayanti, 2000 (dalam Benny, dkk, 2006) yang menyatakan bahwa mahasiswa akuntansi yang memilih karier sebagai akuntan publik mengharapkan gaji awal yang tinggi, memperoleh kesempatan berkembang yang lebih baik dibandingkan dengan karir yang lain serta memperoleh pengakuan atas prestasi yang telah diraih. Dari hasil penelitian Rasmini (2007), diketahui bahwa faktor imbalan yang diperoleh sesuai dengan usaha yang diberikan berpengaruh signifikan terhadap pemilihan karier akuntan publik dan non akuntan publik. dari beberapa hasil penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa faktor penghasilan jangka panjang dan jangka pendek berpengaruh terhadap pemilihan karier akuntan publik dan non akuntan publik.

Metode Klasifikasi Tahap Siklus Hidup Perusahaan (skripsi dan tesis)

Beberapa organisasi baru lenyap setelah mencapai kesuksesan yang gemilang, organisasi yang lain mungkin mengalami kebangkrutan yang prematur yaitu tidak lama setelah organisasi dibentuk, tetapi teori organisasi juga menyatakan bahwa organisasi dapat hidup kekal (immortal) seperti sebagian besar universitas dan gereja. Kreitner dan Kinicki (1998) mengungkapkan tentang teori siklus hidup perusahaan sebagai berikut: “Like the people who make up organizations, organizations themselves go through life cycle. Organizations are born and, barring early decline, eventually growth and mature, if decline is not reversed the organizations dies.” Metode yang digunakan untuk mengklasifikasikan tiap-tiap tahun observasi perusahaan ke dalam tahapan siklus hidupnya mengacu kepada metode yang telah digunakan Black (1998), yang berdasarkan kepada metode Anthony & Remesh (1992). Kriteria pengklasifikasian ke dalam tahap start up adalah sebagai berikut: 1) Perusahaan yang telah berdiri cukup lama (sekitar 5 tahun, sehingga memungkinkan untuk diklasifikasi). 2) Perusahaan tidak terbentuk sebagai akibat dari divestiture, merger, atau bentuk restrukturisasi lainnya. 3) Perusahaan memulai melakukan penjualan tidak lebih dari satu 22 tahun sebelum go publik. 4) Hanya data perusahaan selama tiga tahun pertama setelah tanggal berdiri perusahaan yang dimasukkan. Sementara itu, klasifikasi observasi tahun perusahaan ke dalam tahap growth, mature, dan decline dilakukan berdasarkan pada tiga variabel klasifikasi, yaitu percent sales growth (SG), annual dividend as a percentage of income (DP), dan age of the firm (AGE).

Pengelompokan Aset Tetap (skripsi dan tesis)

Dari beberapa aset tetap yang dimiliki perusahaan diantaranya tanah, bangunan, peralatan, mesin dan aset tetap lainnya. Maka aset tetap tersebut dapat dikelompokan sebagai berikut. 1. Menurut substansinya a. Tangible Assets (aset berwujud) seperti gedung, mesin, tanah, dan peralatan. b. Intangible Assets (aset tidak berwujud) seperti goodwill, paten, copyright, dll. 2. Berdasarkan dapat disusutkan atau tidak  a. Depreciated plant assets yaitu aset tetap yang dapat disusutkan seperti bangunan, peralatan, mesin, dll. b. Undepreciated plant assets yaitu aset tetap yang tidak dapat disusutkan seperti tanah. 3. Berdasarkan jenisnya a. Lahan Lahan adalah sebidang tanah terhampar baik merupakan tempat bangunan, maupun yang masih kosong. Dalam akuntansi apabila lahan yang didirikan bangunan diatasnya harus dipisahkan pencatatannya dari lahan itu sendiri. b. Bangunan Gedung Gedung adalah bangunan yang berdiri diatas bumi ini baik diatas lahan atau air. Pencatatannya harus terpisah dari lahan yang menjadi lokasi gedung itu. c. Mesin Mesin termasuk peralatan-peralatan yang menjadi bagian dari mesin yang bersangkutan. d. Kendaraan Semua jenis kendaraan seperti alat pengangkutan, truk, traktor, mobil, kendaraan roda dua, dll. e. Peralatan/inventaris 21 Peralatan yang dianggap merupakan alat-alat besar yang digunakan dalam perusahaan seperti inventaris kantor, inventaris pabrik, inventaris gedung, dll.

Aset Tetap (skripsi dan tesis)

 Aset tetap adalah kekayaan perusahaan yang memiliki wujud, mempunyai manfaat ekonomi lebih dari satu tahun, dan diperoleh oleh perusahaan untuk melaksanakan kegiatan perusahaan bukan untuk dijual kembali (Mulyadi, 2001: 591). Dalam melaksanakan operasi perusahaan, aset tetap merupakan salah satu elemen utama yang harus diperhatikan agar kegiatan perusahaan dapat berjalan dengan baik sesuai dengan perencanaan dan tujuan yang diinginkan perusahaan. Aset tetap terdiri dari aset tetap berwujud dan aset tetap tidak berwujud. Aset tetap bersifat permanen yakni dapat dipergunakan lebih dari satu tahun atau dari satu siklus akuntansi. Menurut Fees-Warren dalam bukunya Pengantar Akuntansi yang diterjemahkan oleh Aria farahmita, SE,Ak (2005: 492) , mendefinisikan aset tetap sebagai berikut. “Aset Tetap adalah aset yang berumur panjang yang sifatnya relatif tetap atau permanen yang dimiliki oleh perusahaan yang dibeli bukan untuk dijual kembali dan digunakan dalam operasi perusahaan.”
 Pengertian aset tetap menurut Soemarso S.R (2005: 20) dalam bukunya Akuntansi Suatu Pengantar, menyatakan bahwa. “Aset Tetap Berwujud (Tangible Fixed Assets) adalah aset berwujud yang masa manfaatnya lebih dari satu tahun, digunakan dalam kegiatan perusahaan, dimiliki tidak untuk dijual kembali dalam kegiatan normal perusahaan, serta nilainya cukup besar.” Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa suatu aset tetap disebut sebagai aset tetap apabila memenuhi kriteria-kriteria yaitu: 1. Merupakan aset yang mempunyai wujud; 2. tidak dimaksud untuk dijual kembali; 3. digunakan dalam operasi perusahaan; 4. bersifat relatif permanen dengan masa manfaat lebih dari satu tahun.

Aset/Aktiva (skripsi dan tesis)

Aset berasal dari kosa kata bahasa Inggris. Asset secara umumnya artinya adalah barang (thing) atau sesuatu barang (anything) yang mempunyai nilai ekonomi (economic value), nilai komersial (commercial value), atau nilai tukar (exchange value) yang dimiliki oleh instansi, organisasi, badan usaha, individu atau perorangan (Hidayat, 2011: 4). Aset adalah sarana atau sumber daya ekonomik yang dimiliki oleh suatu perusahaan yang harga perolehannya atau nilai wajarnya harus diukur secara objektif (Munawir, 2007: 30). Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah, aset diklasifikasikan ke dalam aset lancar (cuurent asset) dan aset non-lancar (non current asset). Suatu aset diklasifikasikan sebagai aset lancar jika dapat direalisasikan atau dimiliki untuk dipakai atau dijual dalam waktu dua belas bulan sejak tanggal pelaporan. Aset yang tidak dapat dimasukkan dalam kriteria tersebut diklasifikasikan sebagai aset non-lancar. Aset lancar meliputi kas dan setara kas, investasi jangka pendek, piutang, dan persediaan. Aset non-lancar diklasifikasikan menjadi investasi jangka panjang, aset tetap, dana cadangan, dan aset lainnya meliputi aset tak berwujud dan aset kerja sama atau kemitraan. Aset tetap meliputi tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jalan, irigasi, dan  jaringan, dan aset tetap lainnyaAset adalah barang yang dalam pengertian hukum disebut benda, terdiri dari benda tidak bergerak, baik yang berwujud (tangible) maupun yang tidak berwujud (intangible). Semuanya tercakup dalam aktiva atau aset atau harta aset dari suatu instansi, organisasi, badan usaha ataupun individu perorangan (Hidayat, 2011: 4). Ciri-ciri aset memiliki tiga fitur utama yaitu: 1. Kemungkinan keuntungan di masa depan yang melibatkan kapasitas, secara tunggal atau kombinasi dengan aset lain, dalam kasus pengusaha berorentasi mencari keuntungan sebesar-besarnya, untuk berkontribusi secara langsung, atau tidak langsung kepada dana tunai, dan dalam kasus organisasi bukan laba, untuk memberikan layanan; 2. entitas dapat mengontrol akses ke kebaikan itu; 3. transaksi atau peristiwa memberi hak kepada entity, atau kontrol keuntungan yang telah terjadi

Pekerja (skripsi dan tesis)

Tenaga kerja atau pegawai didefinisikan sebagai orang yang bekerja pada instansi atau lembaga ataupun organisasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994) dinyatakan bahwa “Pegawai merupakan pekerja, karyawan”. Pegawai memiliki hak dan kewajiban, hak dari pegawai adalah mendapatkan kompensasi, mendapatkan perlindungan baik secara fisik ataupun secara hukum dari instansi bersangkutan, memiliki jaminan kesehatan dan keselamatan dalam bekerja. Sedangkan untuk kewajiban pegawai yaitu menjalankan tugas pokok dari lembaga, mentaati segala peraturan, serta memiliki jiwa pegawai yang berkualitas. Pekerja adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah dan imbalan dalam bentuk lain. Dalam definisi tersebut terdapat dua unsur yaitu orang yang bekerja dan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain.
Hal tersebut berbeda dengan definisi dari tenaga kerja, dalam ketentuan Pasal 1 UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan disebutkan bahwa, “Tenaga Kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat”. Pekerja atau buruh merupakan bagian dari tenaga kerja yaitu tenaga kerja yang bekerja di dalam hubungan kerja, dibawah perintah pemberi kerja. Sedangkan menurut UU Nomor 13 Tahun 2003 Pasal 1 angka (3) menyebutkan bahwa, “Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain”. Jadi pekerja/buruh adalah tenaga kerja yang bekerja di dalam hubungan kerja dibawah perintah pengusaha/pemberi kerja dengan mendapatkan upah atau imbalan dalam bentuk lain.
 Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pekerja adalah orang yang bekerja kepada seseorang dengan perjanjian tertentu untuk mendapatkan upah dari orang yang mempekerjakan.

Pengukuran Ukuran Perusahaan (skripsi dan tesis)

Ukuran perusahaan bisa diukur dengan menggunakan total aktiva/aset, pendapatan atau modal dari perusahaan tersebut. Salah satu tolak ukur yang menunjukkan besar kecilnya perusahaan adalah ukuran aktiva/aset dari perusahaan tersebut. Perusahaan yang memiliki total aktiva besar menunjukkan bahwa perusahaan tersebut telah mencapai tahap kedewasaan (mature), dimana dalam tahap ini arus kas perusahaan sudah positif dan dianggap memiliki prospek yang baik dalam jangka waktu yang relatif stabil dan lebih mampu menghasilkan laba dibandingkan perusahaan dengan total aset yang kecil.

Ukuran Perusahaan (skripsi dan tesis)

Ukuran secara umum dapat diartikan sebagai suatu perbandingan besar kecilnya suatu objek. Menurut Agnes Sawir (2004: 101-102) ukuran perusahaan dinyatakan sebagai determinasi dari struktur keuangan dalam hampir setiap studi untuk alasan yang berbeda. Ukuran perusahaan dapat ditentukan berdasarkan penjualan, total aktiva/aset, tenaga kerja, dan lain-lain, yang semuanya berkorelasi tinggi (Machfoedz, 1994). Machfoedz (1994) dan Moses (1987) melakukan pengujian terhadap perusahaan besar yang memiliki kecenderungan lebih besar untuk pemerataan laba (bigger firms have greater propensity to smooth income). Hasil pengujian tersebut menyatakan bahwa perusahaan yang lebih besar memiliki dorongan yang lebih besar untuk melakukan perataan laba dibandingkan dengan perusahaan yang lebih kecil. Untuk itu, perusahaan besar kemungkinan melakukan praktik perataan laba untuk mengurangi fluktuasi laba yang besar, fluktuasi laba yang besar menunjukkan risiko yang besar pula dalam investasi sehingga mempengaruhi kepercayaan investor terhadap perusahaan.

Proses Pengendalian Industri Manufaktur (skripsi dan tesis)

Menurut Amin (2009: 52) proses pengendalian manufaktur yaitu pengendalian persediaan bahan baku. Ketika perusahaan menanggung persediaan bahan baku yang berlebihan, mereka mungkin perlu meminjam tambahan dana untuk mendanai persediaan tersebut. Hal ini akan menyebabkan naiknya biaya penyimpanan (carrying cost), atau biaya yang dikeluarkan perusahaan dalam memelihara (menyimpan) persediaan. Biaya penyimpanan mencakup biaya pendanaan sekaligus juga biaya-biaya yang terkait dengan penyimpanan dengan sering melakukan pemesanan bahan baku dalam jumlah kecil, strategi ini akan menaikkan biaya-biaya yang terkait dalam penempatan pesanan, disebut biaya pemesanan (order cost). Setiap penyesuaian yang terjadi dalam strategi pembelian bahan baku pada umumnya akan mengurangi biaya penyimpanan dengan menaikkan biaya pemesanan sebagai pengorbanannya atau sebaliknya. Sedangkan menurut Daryanto (2012: 43) proses manufaktur digolongkan menurut tiga macam cara, yaitu:
1. Sifat Proses Produksi Penggolongan proses produksi berdasarkan sifat menentukan jenis atau bentuk pokok yang dipakai dalam pengolahan suatu produk. Berdasarkan sifatnya, proses produksi dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu:
 a. Proses ekstraktif adalah proses produksi yang mengambil bahan-bahan langsung dari alam. Contoh, proses penambangan batu-bara, bijih besi, bijih emas, pengeboran minyak, dsb. Proses ekstraktif ini terdapat dalam industri proses produksi dasar, oleh karena itu pertanian dan perikanan disebut industri ekstraktif;
 b. proses analitik adalah suatu proses pemisahan dari suatu bahan menjadi beberapa macam barang yang hampir menyerupai bentuk/jenis aslinya. Contoh penyulingan minyak;
 c. proses fabrikasi/pengubahan adalah suatu proses yang mengubah suatu bahan menjadi beberapa bentuk. Pengubahan bentuk tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan mesin, gergaji, pengepres, dan sebagainya. Contoh, proses pembuatan pakaian, sepatu, jenis meubel tertentu, dan sebagainya; d. proses sistetik adalah metode pengkombinasian beberapa bahan ke dalam bentuk produk. Dalam pengolahan baja, gelas/kaca, produk akhirnya sangat berbeda dengan jenis aslinya karena ada perubahan fisik atau kimia. Dalam industri lain seperti dalam produksi mobil, alat-alat listrik, barang elektronik (radio, TV, lemari pendingin, dll.), dimana bahanbahan dirakit tanpa mengubah fisik atau susunan kimiawinya, disebut proses perakitan atau assembling. Sering ini digunakan sebagai bagian dari proses pengolahan.
 2. Jangka Waktu Produksi
Beberapa macam proses produksi dapat ditentukan menurut periode waktu dimana fasilitas produksi digunakan. Dalam hal ini, proses produksi digolongkan menjadi dua macam, yaitu:
 a. Proses terus-menerus (continuous process). Istilah ini digunakan untuk menunjukkan suatu keadaan manufaktur dimana periode waktu yang lama diperlukan untuk mempersiapkan mesin dan peralatan yang akan dipakai. Dalam hal ini banyak atau semua mesin akan melaksanakan operasi yang sama dalam waktu yang tidak terbatas. Contoh, produksi mobil, dimana perubahan model hanya satu kali dalam setahun. Istilah terus-menerus juga terdapat di dalam industri yang hanya mempunyai satu saat operasi (satu shift) yaitu pada pagi sampai sore hari, sedangkan pada malam hari tidak beroperasi;
b. proses terputus-putus (intermittent process). Istilah terputusputus ini terdapat dalam keadaan manufaktur dimana mesinmesin itu beroperasi dengan mengalami beberapa kali berhenti dan dirancang lagi untuk membuat produk lain yang berbeda. Jadi alat yang sama dapat digunakan untuk membuat beberapa macam produk sesuai dengan keinginan atau pesanan konsumen. Contoh, alat-alat pengecoran logam.
 3. Sifat Produk Proses produksi yang ditentukan menurut sifat produknya, yang melibatkan ada atau tidaknya spesifikasi pembeli suatu produk tertentu. Dalam hal ini proses produksi dibagi dalam dua macam, yaitu:
a. Produksi standar adalah produksi barang-barang yang dilakukan oleh produsen. Produksi standar ini, dihasilkan sejumlah barang untuk persediaan, disamping dikirim untuk pembeli dan penyalur. Contoh, produk televisi, lemari es, sikat gigi, dsb;
 b. produksi pesanan. Produksi ini dilakukan apabila ada pembeli yang menghendaki spesifikasi tertentu. Contoh, pakaian seragam, furniture tertentu.

Industri Manufaktur (skripsi dan tesis)

Industri adalah kelompok perusahaan yang menghasilkan dan menjual barang sejenis. Misalnya industri tekstil adalah kelompok perusahaan yang menjual dan menghasilkan bahan baku tekstil, barang setengah jadi tekstil dan barang jadi tekstil. Manufaktur berasal dari kata manufacture yang berarti membuat dengan tangan (manual) atau dengan mesin sehingga menghasilkan sesuatu barang. Misalnya membuat kue, baik dengan tangan maupun dengan mesin merupakan kegiatan yang disebut manufaktur. Menurut Kieso (2002: 44) perusahaan manufaktur terdapat tiga jenis barang yaitu: 1. Persediaan bahan baku untuk diproduksi, meliputi bahan baku yang diperoleh dari sumber daya alam ataupun beberapa jenis produk yang dibeli dari perusahaan lain; 2. persediaan barang dalam proses, meliputi produk-produk yang telah dimasukkan ke dalam proses produksi, namun belum selesai diolah; 3. persediaan barang jadi, meliputi produk olahan yang siap dijual kepada pelanggan.

Pengaruh return on equity terhadap perubahan laba (skripsi dan tesis)

ROE merupakan indikator untuk mengukur kemampuan perusahaan memperoleh laba bersih berdasarkan modal tertentu. Kenaikan rasio ini berarti terjadi kenaikan laba bersih, jadi rasio ini mempunyai pengaruh positif terhadap perubahan laba. Hasil penelitian Nurjanti Takarini dan Erni Ekawati (2003) tentang analisis rasio keuangan dalam memprediksi perubahan laba pada perusahaan manufaktur di pasar modal Indonesia, dengan menggunakan delapan belas variabel menunjukkan bahwa rasio return on equity mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap perubahan laba

Pengaruh profit margin terhadap perubahan laba (skripsi dan tesis)

Rasio profit margin merupakan indikator perusahaan untuk menghasilkan laba pada tingkat penjualan tertentu. Rasio yang tinggi menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba juga tinggi pada tingkat penjualan tertentu. Jadi, rasio ini berpengaruh positif terhadap perubahan laba (Mamduh dan Halim, 2009:83). Hal ini didukung penelitian sebelumnya yang dilakukan Nurjanti Takarini dan Erni Ekawati (2003) tentang analisis rasio keuangan dalam memprediksi perubahan laba pada perusahaan manufaktur di pasar modal Indonesia, dengan menggunakan delapan belas variabel dan hasil menunjukkan bahwa rasio profit margin berpengaruh positif signifikan tehadap perubahan laba

Keterbatasan analisis laporan keuangan (skripsi dan tesis)

Menurut Mamduh dan Halim (2009:90) keterbatasan analisa laporan keuangan, yaitu: 1. Data yang dicatat dan dilaporkan oleh laporan keuangan berdasarkan pada harga perolehan (historical cost). 2. Perbedaan metode akuntansi yang digunakan perusahaan dalam penyusunan laporan keuangan (misal metode FIFO, LIFO, rata-rata persediaan). 3. Upaya perbaikan barangkali bisa dilakukan oleh pihak manajemen suatu perusahaan untuk memprediksi laporan keuangan sehingga laporan keuangan nampak bagus. 4. Banyak perusahaan yang mempunyai beberapa divisi atau anak perusahaan yang bergerak pada beberapa bidang usaha (industri), yang mana data-data divisi pada umumnya tidak lengkap dilaporkan sehingga analis mengalami kesulitan dalam menganalisis prestasi divisi-divisi dalam perusahaan . 5. Inflasi atau deflasi mempengaruhi laporan keuangan terutama yang berkaitan dengan rekening-rekening jangka panjang seperti investasi jangka panjang. 6. Ada beberapa perusahaan yang tidak bagus dipakai juga untuk perhitungan rata-rata industri. Rata-rata industri bukan merupakan standar yang selalu baik, yang seharusnya diikuti oleh perusahaan karena rata-rata industri hanya rata-rata perusahaan di industri. Angka yang lebih rendah 16 dibandingkan rata-rata industri tidak selalu jelek. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum menentukan baik buruknya suatu angka.

Langkah – langkah melakukan analisis laporan keuangan (skripsi dan tesis)

Menurut Mamduh dan Abdul Halim (2009:5) untuk melakukan analisis laporan keuangan seorang analis keuangan harus melakukan beberapa langkah, yaitu : 1. Menentukan tujuan dari analisis keuangan. 2. Memahami konsep–konsep dan prinsip–prinsip yang mendasari laporan keuangan. 3. Memahami kondisi ekonomi dan bisnis yang mempengaruhi usaha perusahaan tersebut

Analisis rasio keuangan (skripsi dan tesis)

Menurut Van Horne (2005:192), dari sudut pandang pengendalian internal, manajemen perlu melakukan analisis keuangan demi perencanaan dan   pengendalian yang efektif. Untuk merencanakan masa depan, manajer keuangan harus menilai posisi perusahaan saat ini. Menurut Mamduh dan Abdul Halim (2009:76) bahwa rasio–rasio keuangan pada dasarnya disusun dengan menggabungkan angka-angka di dalam atau antara laporan laba rugi dan neraca, dengan cara rasio semacam ini diharapkan pengaruh perbedaan akan hilang. Dari hasil rasio keuangan ini digunakan untuk menilai kinerja manajemen dalam suatu periode apakah mencapai target seperti yang telah ditetapkan. Kemudian juga dapat dinilai kemampuan manajemen dalam memberdayakan sumber daya perusahaan secara efektif. Dan dari kinerja yang dihasilkan ini juga dapat dijadikan sebagai evaluasi hal-hal yang perlu dilakukan ke depan agar kinerja manajemen dapat ditingkatkan atau dipertahankan sesuai dengan target perusahaan (Kasmir, 2008:105)

Prediksi perubahan laba (skripsi dan tesis)

Dalam penelitian ini mencoba untuk melakukan prediksi atau peramalan terhadap laba, dimana menggunakan peramalan kuantitatif. Menurut Makridakis, Wheelwright dan Mc Gee (1999: 19-20 dalam Lerbin R. Aritonang, 2009:5) Peramalan kuantitatif dapat diterapkan bila terdapat tiga kondisi berikut ini : 1. Tersedia informasi tentang masa lalu. 2. Informasi tersebut dapat dikuantitatifkan dalam bentuk numerik. 3. Dapat diasumsikan bahwa beberapa aspek pola masa lalu akan terus berlanjut di masa mendatang.
Salah satu manfaat laba adalah untuk memprediksi laba perusahaan tahun yang akan datang. Laba dapat dijadikan sebagai alat ukur keberhasilan suatu perusahaan yang tercermin dalam kinerja manajemennya Informasi mengenai kinerja masa lalu yang terdapat pada informasi laba dapat digunakan untuk memprediksi kinerja masa depan perusahaan, walaupun kesuksesan masa lalu tidak menjamin kesuksesan masa yang akan datang akan tetapi prediksi mengenai laba yang akan datang dapat dilakukan jika ada hubungan yang cukup kuat antara kinerja masa lalu dengan kinerja masa depan. Bagi para investor informasi laba dapat digunakan sebagai faktor utama dalam meramalkan distribusi deviden di masa yang akan datang yang merupakan faktor penting untuk menetapkan nilai berjalan atas sebagian saham atau atas keseluruhan perusahaan, sedangkan bagi pemegang obligasi dan kreditor informasi laba dapat digunakan untuk menilai tingkat pengembalian tahunan dan menerima pembayaran kembali pokok pinjaman pada saat hutang tersebut telah jatuh tempo. Prediksi laba sering digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan investasi dan penilaian kinerja manajemen suatu perusahaan untuk masa yang akan datang. Penilaian terhadap kemampuan manajemen dan tersedianya informasi yang memadai merupakan faktor penting dalam membuat prediksi laba untuk masa yang akan datang.

Pengertian laba dan perubahan laba (skripsi dan tesis)

Ikatan Akuntan Indonesia (Standar Akuntansi Keuangan no.23, revisi 2009) menyatakan bahwa penghasilan didefinisikan dalam kerangka dasar penyusunan laporan keuangan sebagai peningkatan manfaat ekonomi selama sauatu periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak berasal dari kontribusi penanaman modal.  Menurut Nurjanti dan Erna (2003) Laba sebagai suatu pengukuran kinerja dan bagian dari laporan keuangan perusahaan, merefleksikan telah terjadinya proses peningkatan atau penurunan ekuitas dari berbagai sumber transaksi kecuali transaksi dengan pemegang saham dalam suatu periode tertentu

Langkah-langkah analisis regresi ordinal (skripsi dan tesis)

Langkah-langkah analisis regresi ordinal yang digunakan dalam menganalisis data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Pembentukan model regresi logistik ordinal dari seluruh variabel prediktor yang berpengaruh dengan variabel respon. 2. Menguji secara parsial model regresi logistik ordinal. 3. Menguji secara serentak model regresi logistik ordinal. 4. Menguji kesesuaian model regresi logistik ordinal 5. Menghitung nilai probabilitas masing-masing Y dari model regresi logistik ordinal. 6. Melakukan interpretasi model regresi logistik ordinal.

Regresi Logistik (skripsi dan tesis)

Regresi logistik merupakan bagian dari analisis statistik kategori yang juga merupakan model-model linear umum. Regresi logistik dapat memprediksi hasil analisis data diskrit seperti pengelompokan dari variabel kontinu, variabel diskrit, variabel dikotomi atau campuran dari semuanya (Agresti, 2007). Secara umum, variabel respon (dependent) merupakan variabel dikotomus, seperti hadir/tidak, sukses/gagal. Variabel dependen dalam regresi logistik biasanya berupa data dikotomi, variabel dependen bernilai 1 dengan peluang sukses (p), atau 0 jika peluang gagal (1-p). Variabel ini disebut sebagai variabel Bernoulli (biner). Sebagaimana disebutkan sebelumnya, variabel independen (penjelas/ prediktor) dalam regresi logistik dapat memiliki beberapa bentuk. Sehingga dalam regresi logistik tidak ada asumsi mengenai distribusi dari variabel independen (penjelas). Variabel penjelas tersebut tidak harus berdistribusi normal, tidak harus mempunyai hubungan linear atau varians sama dalam tiap grup (kelompok). Dalam analisis regresi standar, sebenarnya model regresi yang dibangun adalah membuat model nilai tengah dari variabel respon (Hosmer, et al, 2000).Oleh karena itu, untuk kasus variabel dikotomi sebagai variabel respon maka sesungguhnya model regresi yang dibuat adalah bagaimana membangun model proporsi dari variabel respon dengan variabel-variabel penjelasnya.

Perkembangan Remaja (skripsi dan tesis)

1. Perkembangan Fisik

 Menurut Dacey & Travers (2004), perkembangan fisik remaja ditandai dengan adanya suatu periode yang disebut pubertas. Pada masa pubertas, hormone seseorang menjadi aktif dalam memproduksi dua jenis hormon yang berhubungan dengan pertumbuhan, yaitu Follicle-Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH). Perkembangan secara cepat dari kedua hormon tersebut menyebabkan terjadinya perubahan sistem biologis seorang anak. Pada anak perempuan, peristiwa pertawa yang terjadi adalah telarke, yaitu terbentuknya payudara diikuti oleh pubarke, yaitu tumbuhnya rambut pubis di ketiak, lalu menarke, yaitu  periode haid pertama. Selain itu terjadi juga pertumbuhan otot yang cepat, tumbuhnya rambut pubis serta suara yang semakin halus. Perubahan yang terjadi pada anak laki-laki yaitu suara yang semakin berat, pertumbuhan otot dan pertumbuhan rambut tubuh. Perkembangan fisik remaja akan berlangsung sangat cepat sejak awal terjadinya pubertas.
2. Perkembangan Kognitif
Tahap ini merupakan tahap yang paling tinggi dalam perkembangan kognitif individu, dimana remaja mempunyai kemampuan untuk memanipulasi informasi dan mempunyai pemikiran yang lebih luas lagi. Pada masa remaja, proses pembentukan gambaran tubuh sudah diikuti dengan proses kognisi. Pproses kognisi tersebut berupa pemikiran dan keinginan untuk mengidentifikasikan diri sesuai dengan tokoh idolanya. Proses pembentukan gambaran tubuh yang baru pada masa remaja ke dalam diri adalah bagian dari tugas perkembangan yang sangat penting (Dacey & Kenny, 2001).
3. Perkembangan Sosial
Menurut Handel (dalam Rice, 1990), sejak masa puber, remaja umumnya mulai memperhatikan dan membandingkan hal-hal khusus seperti penampilan fisik (misalnya bentuk tubuh) dan kemampuan sosialisasinya dengan lingkungan pergaulan dan tokoh idolanya. Salah satu tugas perkembangan masa remaja yang tersulit adalah yang berhubungan dengan penyesuaian social. Remaja harus menyesuaikan diri dengan lawan jenis dalam hubungan yang sebelumnya belum pernah ada dan harus menyesuaikan dengan orang dewasa di luar lingkungan keluarga dan sekolah (Hurlock, 1999)

Remaja (skripsi dan tesis)

Istilah remaja berasal dari kata latin, yaitu adolescere yang berarti perkembangan menjadi dewasa (Monks, 1999). Menurut Santork (2003), masa remaja adalah masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif dan sosial. Masa remaja memiliki batasan yang berbeda-beda menurut beberapa ahli. Hall (dalam Santrock, 2003) menyatakan bahwa usia remaja adalah masa antara usia 12 sampai 23 tahun. Monks (1999) berpendapat bahwa batasan usia remaja antara 12 sampai 21 tahun yang terbagi dalam tiga fase, yaitu remaja awal (12-15 tahun), remaja tengah/madya (15-18 tahun), dan remaja akhir (18-21 tahun)

Dampak Perilaku Diet (skripsi dan tesis)

Menurut Hawks (2008), tindakan diet penurunan berat badan menimbulkan beberapa dampak bagi seseorang yang melakukannya, yaitu : 1. Dampak Biologis Diet akan meningkatkan level systemic cortisol. Cortisol merupakan pertanda dari timbulnya stress yang merupakan predictor terhadap level rasa lapar dan hal lain merupakan faktor yang beresiko terhadap timbulnya tulang yang rapuh. 2. Dampak Psikologis Individu yang melakukan diet biasanya akan lebih depresi dan emosional dari pada individu yang tidak diet, dan akan mengalami kecemasan serta kurangnya penyesuaian diri yang baik pada area sosialisasi, kematangan, tanggung jawab dan struktur nilai intrapersonal. 3. Dampak Kognitif Kerusakan dalam working memory, waktu reaksi, tingkat perhatian dan performansi kognitif dipengaruhi oleh bentuk tubuh, makanan dan diet yang disebabkan oleh kecemasan yang dihasilkan oleh efek stress terhadap diet.

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Tindakan Diet (skripsi dan tesis)

Menurut McDuffie dan Kirkley dalam Kurnianingsih (2009) mengemukakan secara umum faktor-faktor yang memengaruhi tindakan diet penurunan berat badan pada remaja yaitu :

 1. Status Gizi
Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi (Almatsier, 2001). Cara untuk mengetahui status gizi seseorang ada berbagai macam cara, salah satunya dengan menghitung nilai Indeks Massa Tubuh (IMT) berdasarkan berat badan dan tinggi badan seseorang tersebut. Dwyer (1997) mengatakan bahwa orang yang memiliki berat badan lebih, lebih perhatian terhadap berat badannya dari pada orang yang  memiliki berat badan lebih ringan. Pada umumnya memang seseorang yang memiliki berat badan lebih melakukan banyak cara untuk dapat menurunkan berat badanya sampai seperti yang diinginkan.
2. Citra Tubuh
 Citra tubuh merupakan gambaran kombinasi tentang keakuratan satu persepsi mengenai ukuran tubuh, perasaan dan perilaku yang menerima atau menolak perasaan tersebut (Heinberg, 1996). Seseorang yang menilai buruk akan bentuk tubuhnya cenderung akan melakukan tindakan diet untuk mendapatkan bentuk tubuh ideal
. 3. Pengetahuan tentang Diet
Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoadmojo, 2003). Pengetahuan tentang diet berarti seseorang tersebut telah melakukan penginderaan terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan diet, baik melalui indera penglihatan maupun pendengaran.
 4. Sikap Keluarga
Keluarga memberikan pengaruh yang besar terhadap sikap dan perilaku makan remaja. Pada umumnya seorang remaja putri meniru pola makan yang dilakukan ibunya. Menurut Strober dalam Kurnianingsih  (2009), komentar negatif dan sindiran tentang bentuk tubuh dan ukuran tubuh yang dilontarkan oleh keluarga akan menyakiti hati anak dan mengakibatkan anak tersebut mengembangkan hubungan dan kebiasaan yang tidak sehat dengan makanan
. 5. Sikap Teman Sebaya
Davis (1999) mengatakan bahwa teman sebaya dapat memberikan pengaruh buruk terhadap kebiasaan yang tidak sehat seperti melakukan upaya penurunan berat badan dan kebiasaan makan yang salah dan timbulnya persaingan sekaligus tekanan untuk menjadi yang terkurus dan terkecil. Pada umumnya para remaja merasa lebih nyaman berteman dengan seseorang yang sebaya karena dapat memberikan keamanan emosional dan memiliki masalah yang sama. Levine dalam Field (2001) berpendapat bahwa perilaku mengontrol berat badan berhubungan dengan teman sebaya, tekanan yang ditimbulkan oleh teman sebaya ditemukan dapat meningkatkan resiko terjadinya perilaku makan menyimpang.
6. Media Massa
Media massa memiliki pengaruh yang besar terhadap perubahan sikap dan perilaku remaja, apalagi di jaman yang modern seperti sekarang ini. Malinauskas (2006) menyatakan bahwa media massa dipercaya mendorong dan memberi tekanan pada remaja putri untuk membentuk tubuh yang ideal, hal ini akan mengakibatkan seseorang menjadi cemas akan berat dan bentuk tubuhnya. Penelitian yang dilakukan oleh Bergs dalam Kurnianingsih (2009) di Minnesota menunjukkan membaca artikel diet di majalah juga dapat memengaruhi perilaku diet, sebesar 44% remaja putri tingkat menengah yang membaca artikel tentang diet akan menunjukkan perubahan perilaku makan menjadi ekstrim, lebih ketat, dan tidak sehat selama lima tahun kedepan, selain itu juga menimbulkan perilaku makan dan kesehatan yang salah seperti penggunaan pil diet, laksatif, memuntahkan makanan dengan sengaja untuk mengontrol berat badan.

Jenis Diet (skripsi dan tesis)

Kim dan Lennon (2006), menjabarkan beberapa perilaku diet kedalam dua kelompok, yaitu : 1. Diet Sehat Diet dapat diasosiasikan dengan perubahan perilaku ke arah yang lebih sehat, seperti mengubah pola makan dengan mengkonsumsi makanan rendah kalori dan melakukan aktifitas fisik secara wajar. Diet sehat adalah penurunan berat badan yang dilakukan dengan jalan perubahan perilaku ke arah yang lebih sehat, seperti mengubah pola makan dengan mengkonsumsi makanan rendah kalori dan rendah lemak, menambah aktifitas fisik secara wajar. Diet sehat dilakukan dengan memperhitungkan asupan makanan sehari hari yang diperbolehkan. 2. Diet Tidak Sehat Orang-orang yang melakukan diet semata-mata bertujuan untuk memperbaiki penampilan akan cenderung menempuh cara-cara yang tidak sehat untuk menurunkan berat badan. Diet tidak sehat adalah penurunan berat badan yang dilakukan dengan melakukan perilaku-perilaku yang membahayakan kesehatan, seperti melewatkan waktu makan dengan sengaja, penggunaan obat-obatan penurunan berat badan, mengkonsumsi penahan nafsu makan serta muntah dengan sengaja

Diet Penurunan Berat Badan (skripsi dan tesis)

Diet berasal dari bahasa Yunani, yaitu diaita yang berarti cara hidup. Menurut Saraswati (2006), diet adalah membatasi dengan cermat konsumsi kalori atau jenis makanan tertentu. Pada prinsipnya diet adalah membatasi konsumsi makanan sampai di bawah kebutuhan ideal tubuh. Dengan demikian, diet tidak saja berarti menurunkan berat badan, tetapi mengatur dan membatasi jumlah asupan makanan yang dibutuhkan tubuh yang bersangkutan agar terjadi keseimbangan energi. Menurut tim kedokteran EGC tahun 1994 (dalam Hartantri, 1998) diet adalah kebiasaan yang diperbolehkan dalam hal makanan dan minuman yang dimakan oleh seseorang dari hari ke hari, terutama yang khusus dirancang untuk mencapai tujuan dan memasukkan atau mengeluarkan bahan makanan tertentu. Berdasarkan penjelasan diatas, dapat dikatakan bahwa fungsi diet itu sendiri bermacam-macam. Saraswati (2013) membagi diet itu sendiri menjadi diet normal, diet untuk menaikkan dan menurunkan berat badan, diet khusus penyakit tertentu, diet alergi makanan, diet kelompok usia tertentu, dan diet ibu menyusui dan mengandung. Akan tetapi didalam masyarakat pada umumnya, diet dilakukan untuk tujuan penurunan berat badan. Maka dari itu dalam penelitian ini, diet yang dimaksud adalah diet yang bertujuan untuk menurunkan berat badan.

 Hill, dkk (1992) berpendapat bahwa perilaku diet menjadi populer di masyarakat, termasuk di kalangan remaja karena dipandang sebagai usaha yang mudah dilakukan, ekonomis, dan yang terpenting tanpa efek samping yang nyata. Menurut French (1995), diet dapat memberi keuntungan psikososial yaitu berkurangnya berat badan maka penampilan diri menjadi semakin baik. Hal ini tentu membuat seseorang dengan bentuk badan yang tidak ideal atau memiliki berat badan lebih dari normal akan melakukan tindakan diet penurunan berat badan untuk memperbaiki penampilannya dan menumbuhkan rasa percaya diri akan bentuk tubuhnya. Tubuh ideal menjadi dambaan bagi kebanyakan kaum perempuan, namun tidak menutup kemungkinan bahwa kaum lelaki tidak menginginkan bentuk tubuh yang ideal. Untuk itu baik kaum perempuan maupun kaum lelaki melakukan banyak cara untuk dapat menurunkan berat badan agar terlihat lebih menarik dan lebih percaya diri dalam beraktifitas

Uji Normalitas (skripsi dan tesis)

Untuk menguji kenormalan ganda (Multivariate Normality) adalah dengan mencari nilai jarak kuadrat untuk setiap pengamatan yaitu dengan rumus sebagai berikut : Dimana : = Nilai jarak kuadrat untuk setiap pengamatan ke-i Xi = Pengamatan ke-i (i=1, 2, …, n) = Rata-rata variabel independen S-1 = Kebalikan (inverse) matriks varians-kovarians S Kemudian diurutkan dari yang paling kecil ke yang paling besar. Selanjutnya dibuat plot dimana i = urutan 1, 2, …, n. Bila hasil plot dapat didekati dengan garis lurus maka dapat disimpulkan bahwa peubah ganda menyebar normal.

Proses Dasar Analisis Diskriminan (skripsi dan tesis)

Menurut Santoso (2010), terdapat beberapa proses dasar yang harus dilakukan dalam analisis diskriminan, diantaranya yaitu : 1. Memisah variabel-variabel menjadi variabel dependen dan variabel independen. 2. Menentukan metode untuk membuat fungsi diskriminan. Pada prinsipnya ada dua metode dasar, yaitu : a. Simultaneous Estimation Semua variabel dimasukkan secara bersama-sama kemudian dilakukan proses diskriminan. b. Step-Wise Estimation Variabel dimasukkan satu per satu ke dalam model diskriminan. Pada proses ini tentu ada variabel yang tetap ada pada model, dan ada kemungkinan satu atau lebih variabel independen yang dibuang dari model. 3. Menguji signifikansi dari fungsi diskriminan yang telah terbentuk dengan menggunakan Wilk’s Lambda, Pilai, F-test dan lainnya. 4. Menguji ketepatan klasifikasi dari fungsi diskriminan, termasuk mengetahui ketepatan klasifikasi secara individual dengan Casewise Diagnostics. 5. Melakukan interpretasi terhadap fungsi diskriminan tersebut. 6. Melakukan uji validasi fungsi diskriminan

Analisis Diskriminan (skripsi dan tesis)

Analisis diskriminan merupakan teknik menganalisis data, dimana variabel dependen merupakan data kategorik (nominal dan ordinal) sedangkan variabel independen berupa data interval atau rasio. Analisis diskriminan ini termasuk dalam analisis multivariat dengan metode dependensi. Ada dua metode dalam analisis multivariat yaitu metode dependensi dan metode interdenpendensi. Metode dependensi yaitu variabel-variabelnya tidak saling bergantung satu dengan yang lain, sedangkan metode interdenpendensi adalah antarvariabelnya ada saling ketergantungan. Jika variabel dependen terdiri dari dua kelompok atau  kategori disebut Two-Group Discriminant Analysis , sedangkan jika lebih dari dua kelompok atau kategori disebut dengan Multiple Discriminant Analysis.

Analisis diskriminan bertujuan untuk mengklasifikasikan suatu individu atau observasi ke dalam kelompok yang saling bebas (mutually exclusive/disjoint) dan menyeluruh (exhaustive) berdasarkan jumlah variabel independen. Menurut Johnson dan Wichern (2007) analisis diskriminan digunakan untuk mengklasifikasikan individu ke dalam salah satu dari dua kelompok atau lebih. Suatu fungsi diskriminan layak untuk dibentuk, bila terdapat perbedaan nilai rataan di antara kelompok-kelompok yang ada. Persamaan fungsi diskriminan yang dihasilkan untuk memberikan peramalan yang paling tepat untuk mengklasifikasi individu kedalam kelompok berdasarkan skor variabel independen. Sebelum fungsi diskriminan dibentuk, perlu dilakukan pengujian terhadap perbedaan nilai rataan dari kelompokkelompok tersebut.
Menurut Santoso (2010), terdapat beberapa asumsi yang harus dipenuhi dalam pengujian ini, yaitu :
1. Multivariate Normality atau variabel independen seharusnya berdistribusi normal, jika tidak berdistribusi normal akan menyebabkan masalah pada ketepatan fungsi model diskriminan.
2. Matriks kovarians dari semua variabel independen seharusnya sama (equal).
3. Tidak ada korelasi antar variabel independen. Jika dua variabel independen mempunyai korelasi yang kuat, dikatakan terjadi multikolinearitas.
 4. Tidak adanya data yang sangat ekstrim (outlier) pada variabel independen. Jika ada data outlier yang tetap diproses, hal ini bisa berakibat kurangnya ketepatan klasifikasi dari fungsi diskriminan.

Uji Kesesuaian (skripsi dan tesis)

Model Uji kesesuaian model digunakan untuk menilai apakah model sesuai dengan data atau tidak. Untuk mengetahui apakah model sesuai atau tidak terhadap data yang ada menggunakan uji Hosmer dan Lemeshow. Jika uji Hosmer dan Lemeshow dipenuhi maka model dinilai dapat memprediksi nilai observasinya. Menurut Hosmer dan Lemeshow (1989), uji Hosmer dan Lemeshow yang biasa ditulis dengan uji Ĉ dihitung berdasarkan taksiran probabilitas. Pada uji ini sampel dimasukkan ke sejumlah g kelompok dengan tiap-tiap kelompok memuat n/10 sampel pengamatan, dengan n adalah jumlah sampel. Jumlah kelompok ada sekitar 10, dengan kelompok pertama memuat sampel yang memiliki taksiran probabilitas sukses terkecil yang diperoleh dari model taksiran.

Kelompok kedua memuat sampel yang memiliki taksiran probabilitas sukses terkecil kedua, dan seterusnya (Liu, 2007). Statistik uji Ĉ yang dihitung berdasarkan nilai y = 1 dirumuskan dengan hipotesis sebagai berikut : H0 : Model sesuai, tidak terdapat perbedaan antara hasil observasi dengan hasil prediksi. Ha : Model tidak sesuai, terdapat perbedaan antara hasil observasi dengan hasil prediksi.

Estimasi Parameter (skripsi dan tesis)

Dalam regresi linier dikenal istilah last square yang digunakan untuk estimasi parameter model, sedangkan untuk regresi logistik digunakan prinsip estimasi maximum likelihood. Prinsip dari maximum likelihood ini adalah parameter populasi diestimasi dengan cara memaksimumkan kemungkinan dari data observasi. Setiap observasi untuk model regresi logistik adalah variabel random dari distribusi Bernoulli (Netter et al., 1996). Menurut Hosmer dan Lemeshow (1989), fungsi likelihood distribusi Bernoulli untuk n sampel independen adalah sebagai berikut : Untuk log-likelihood atau logaritma natural fungsi probabilitas bersamanya adalah sebagai berikut :  Taksiran parameter , diperoleh dengan mendiferensialkan fungsi loglikelihood terhadap dengan k = 0;1. Nilai maksimum diperoleh bila hasil diferensial fungsi log-likelihood bernilai nol (0). Diperlukan metode iterasi untuk mendapatkan taksiran pada metode maksimum likelihood karena tidak bisa diperoleh taksiran parameter dari pendeferensialan fungsi log-likelihood

Regresi Logistik (skripsi dan tesis)

 Analisis regresi dalam statistika adalah salah satu metode untuk menentukan hubungan sebab-akibat antara satu variabel dengan variabel yang lain. Variabel penyebab disebut dengan bermacam istilah, seperti variabel penjelas, variabel eksplanatorik, variabel independen atau variabel X (karena seringkali digambarkan dalam grafik sebagai absis atau sumbu X). Variabel terkena akibat dikenal sebagai variabel yang dipengaruhi, variabel dependen, variabel terikat atau variabel Y. Kedua variabel ini dapat merupakan variabel acak, namun variabel yang dipengaruhi harus selalu variabel acak. Analisis regresi adalah salah satu analisis yang paling populer dan luas pemakaiannya. Hampir semua bidang ilmu yang memerlukan analisis sebab-akibat boleh dipastikan mengenal analisis ini. Regresi logistik merupakan salah satu bagian dari analisis regresi yang digunakan untuk memprediksi probabilitas kejadian suatu peristiwa dengan mencocokkan data pada fungsi logit kurva logistik. Metode ini merupakan model linear umum yang digunakan untuk regresi binomial. Seperti analisis regresi pada  umumnya, metode ini menggunakan satu atau beberapa variabel bebas dengan satu variabel tak bebas bersifat dikotomi.
 Regresi logistik juga digunakan secara luas pada bidang kedokteran, ilmu sosial dan bahkan pada bidang pemasaran, seperti prediksi kecenderungan pelanggan untuk membeli suatu produk atau berhenti berlangganan.
Regresi logistik tidak memerlukan asumsi normalitas, heteroskedastisitas dan autokorelasi, dikarenakan variabel terikat yang terdapat pada regresi logistik merupakan variabel dummy (0 dan 1), sehingga residualnya tidak memerlukan ketiga pengujian tersebut. Untuk asumsi multikolinearitas, karena hanya melibatkan variabel-variabel bebas, maka masih perlu untuk dilakukan pengujian. Untuk pengujian multikolinearitas ini dapat digunakan uji kesesuaian (goodness of fit test) yang kemudian dilanjutkan dengan pengujian hipotesis guna melihat variabel bebas mana saja yang signifikan dan dapat tetap digunakan dalam penelitian. Selanjutnya di antara variabel bebas yang signifikan, dapat dibentuk suatu matriks korelasi, dan apabila tidak terdapat variabel bebas yang saling memiliki korelasi yang tinggi, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat gangguan multikolinearitas pada model penelitian (David W. Hosmer, 2011).
Regresi logistik merupakan salah satu metode statistik nonparametrik untuk menguji hipotesis. Metode regresi logistik adalah metode matematika yang menggambarkan hubungan antara satu atau lebih variabel bebas dengan satu variabel tak bebas yang dikotomi yang variabelnya dianggap hanya mempunyai dua nilai yang mungkin yaitu 0 dan 1, dimana kondisi ini dapat diartikan sebagai  solusi atau gagal pada analisis regresi logistik tunggal dan regresi logistik berganda. Pada umumnya analisis regresi membentuk suatu persamaan untuk memprediksi variabel dependen berdasarkan variabel independennya. Model regresi logistik ganda adalah model regresi logistik dengan variabel independennya lebih dari satu variabel. Fungsi probabilitas untuk setiap observasi adalah sebagai berikut : Dimana jika y = 0 maka f(y) = 1-π dan jika y = 1 maka f(y) = π. Fungsi regresi logistik dapat dituliskan sebagai berikut : dengan k=banyaknya variabel independen Nilai z antara – dan + sehingga nilai f(z) terletak antara 0 dan 1 untuk setiap z yang diberikan. Hal tersebut menunjukkan bahwa model logistik sebenarnya menggambarkan probabilitas atau risiko dari suatu objek. Model regresi logistik dapat dituliskan sebagai berikut : Untuk mempermudah pendugaan parameter regresi maka model regresi logistik diatas dapat diuraikan dengan menggunakan transformasi logit dari π(x). Sehingga diperoleh persamaan sebagai berikut :  Model tersebut merupakan fungsi dari parameter-parameternya. Pada regresi logistik, variabel dependen diekspresikan sebagai y = π(x) + dimana mempunyai salah satu dari kemungkinan dua nilai, yaitu =1-π(x) dengan peluang π(x) jika y = 1 dan = -π(x) dengan peluang 1-π(x) jika y = 0 dan mengikuti distribusi binomial dengan rataan nol dan varians (Lemeshow, 2000)

Regresi Logistik Ordinal (skripsi dan tesis)

Regresi logistik adalah model regresi yang digunakan apabila variabel respons bersifat kualitatif. Model ini terdiri dari regresi logistik sederhana yang bersifat dikotomus yang mensyaratkan variabel respons terdiri dari dua kategori, dan regresi logistik polytomous dengan variabel respons lebih dari dua kategori. Regresi logistik polytomous dengan variabel respons bertingkat dikenal dengan regresi logistik ordinal. Variabel prediktor yang dapat disertakan dalam model berupa data kategori dan kontinu yang terdiri atas dua variabel atau lebih (Hosmer dan Lemeshow, 2000).

Regresi Logistik (skripsi dan tesis)

Menurut Hosmer dan Lemeshow (2000) tujuan melakukan analisis data kategori menggunakan regresi logistik adalah mendapatkan model terbaik dan sederhana untuk menjelaskan hubungan antara keluaran dari variabel respons (𝑌) dengan variabel-variabel prediktornya (𝑋). Variabel respons dalam regresi logistik dapat berupa kategori atau kualitatif, sedangkan variabel prediktornya dapat berupa kualitatif dan kuantitatif. Jika variabel 𝑌 merupakan variabel biner atau dikotomi dalam artian variabel respons terdiri dari dua kategori yaitu “sukses” (𝑌 = 1) atau “gagal” (𝑌 = 0), maka variabel 𝑌 mengikuti sebaran Bernoulli yang memiliki fungsi densitas peluang: 𝑓(𝑦𝑖 ) = 𝜋(𝑥𝑖) 𝑦𝑖(1 − 𝜋(𝑥𝑖)) 1−𝑦𝑖 , ; 𝑦𝑖 = 0,1 (2.1) sehingga diperoleh: Untuk 𝑦𝑖 = 0, maka 𝑓(0) = 𝜋(𝑥𝑖) 0 (1 − 𝜋(𝑥𝑖)) 1−0 = 1 − 𝜋(𝑥𝑖), untuk 𝑦𝑖 = 1, maka 𝑓(1) = 𝜋(𝑥𝑖) 1 (1 − 𝜋(𝑥𝑖)) 1−1 = 𝜋(𝑥𝑖). Misalkan probabilitas dari variabel respons 𝑌 untuk nilai 𝑥 yang diberikan, dinotasikan sebagai 𝜋(𝑥). Model umum 𝜋(𝑥) dinotasikan sebagai berikut: 𝜋(𝑥) = exp(𝛽0 + 𝛽1𝑥1 + 𝛽2𝑥2 + ⋯ + 𝛽𝑝𝑥𝑝) 1 + exp(𝛽0 + 𝛽1𝑥1 + 𝛽2𝑥2 + ⋯ + 𝛽𝑝𝑥𝑝) , Persamaan (2.2) disebut fungsi regresi logistik yang menunjukkan hubungan antara variabel prediktor dan probabilitas yang tidak linear, sehingga untuk mendapatkan (2.2) 9 hubungan yang linear dilakukan transformasi yang sering disebut dengan transformasi logit. Bentuk logit dari 𝜋(𝑥) dinyatakan sebagai 𝑔(𝑥), yaitu: logit [𝜋(𝑥)] = 𝑔(𝑥) = ln ( 𝜋(𝑥) 1−𝜋(𝑥) ) = 𝛽0 + 𝛽1𝑥1 + 𝛽2𝑥2 + ⋯ + 𝛽𝑝𝑥𝑝. (2.3) Persamaan (2.3) merupakan bentuk fungsi hubungan model regresi logistik yang disebut model regresi logistik berganda (Hosmer dan Lemeshow, 2000).

Multikolinieritas (skripsi dan tesis)

Salah satu syarat yang harus terpenuhi dalam pembentukan model regresi dengan beberapa variabel prediktor adalah tidak ada kasus multikolinieritas atau tidak terdapat korelasi antara satu variabel prediktor dengan variabel prediktor yang lain. Dalam model regresi, adanya korelasi antar variabel prediktor menyebabkan taksiran parameter regresi yang dihasilkan akan memiliki error yang sangat besar. Pendeteksian kasus multikolinieritas dilakukan menggunakan kriteria VIF (Varians Inflation Factor) lebih besar dari menunjukkan adanya multikolinieritas anatar variabel prediktor. Nilai VIF dinyatakan sebagai berikut : 𝑉𝐼𝐹 = 1 1−𝑅𝑗 2 (4) Dengan 𝑅𝑗 2 adalah koefisien determinasi antara satu variabel prediktor Xj dengan variabel prediktor lainnya

Heteroskedastisitas (skripsi dan tesis)

 Uji heterokedastisitas spasial dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat karakteristik atau keunikan sendiri di setiap lokasi pengamatan. Adanya heterogenitas spasial dapat menghasilkan parameter regresi yang berbeda-beda di setiap lokasi pengamatan. Heterogenitas spasial di uji menggunakan statistik uji Breusch-Pagan dengan hipotesis sebagai berikut : H0 : 𝛼1 2 = 𝛼2 2 = … 𝛼 2 (homoskedastisitas) H1 : minimal ada satu 𝛼1 2 ≠ 𝛼 2 (heteroskedastisitas) Statistik uji : 𝐵𝑃 = ( 1 2 ) 𝑓 𝑇𝑍(𝑍 𝑇𝑍) −1𝑍 𝑇𝑓 (3) Dengan elemen vektor f adalah 𝑓1 = ( 𝑒𝑡 2 𝛼2 − 1) dimana 𝑒𝑖 = 𝑦𝑖 − 𝑦̂𝑖 adalah least square residual untuk pengematan ke-i dan z merupakan matrik berukuran (n x (p+1)) berisi vektor yang sudah di normal standarkan untuk tiap pengamatan. Daerah penolakan : repository.unimus.ac.id Tolak H0, jikan 𝐵𝑃 > 𝑥𝑝 2 atau jika p-value < alpha dengan p adalah banyaknya prediktor.

Autokorelasi (skripsi dan tesis)

Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan asumsi klasik autokorelasi yaitu korelasi yang terjadi antara residual pada satu pengamatan dengan pengamatan lain pada model regresi. Persyaratan yang harus terpenuhi adalah tidak adanya autokorelasi dalam  model regresi. Metode pengujian yang sering digunakan adalah dengan uji Durbin-Watson (Uji DW) dengan ketentuan sebagai berikut : 1. Jika d lebih < dL, berarti hipotesis nol ditolak, yang berarti terdapat autokorelasi. 2. Jika (d > dL), berarti terdapat autokorelasi. 3. Jika d terletak antara du dan (4-dU), maka hipotesis nol diterima, yang berarti tidak ada autokorelasi 4. Jika dL < d < dU atau (4-dU), berarti tidak dapat disimpulkan

Normalitas (skripsi dan tesis)

Asumsi persyaratan normalitas harus terpenuhi untuk mengetahui apakah residual/error dari data berdistribusi normal atau untuk mengetahui apakah data sampel berasal dari populasi tang berdistribusi normal. Uji statistik yang yang digunakan adalah kolmogorov-smirnov. Hipotesis yang digunakan adalah sebagai berikut : H0 : data berdistribusi normal H1 : data tidak berdistribusi normal Tingkat signifikan 𝛼 = 5% Pengambilan keputusan : Jika p-value < 0,05 maka H0 ditolak

Uji Durbin-Watson (skripsi dan tesis)

Vincent Gaspersz (1991), J.Durbin dan G.S.Watson dalam dua artikel yang dimuat dalam majalah ilmiah Biometrika pada tahun 1950 dan 1951 telah mengemukakan uji untuk autokorelasi yang populer dengan nama uji DurbinWatson. Uji Durbin-Watson dapat digunakan untuk menguji hipotesis berikut: H0 : 𝜌𝜌 = 0 ; tidak terdapat autokorelasi H1 : 𝜌𝜌 ≠ 0 ; terdapat autokorelasi Untuk menguji H0, dapat digunakan uji Durbin-Watson yang dirumuskan sebagai berikut: 𝑑𝑑 = ∑ (𝑒𝑒𝑡𝑡−𝑒𝑒𝑡𝑡−1) 𝑛𝑛 2 𝑡𝑡=2 ∑ 𝑒𝑒𝑡𝑡 𝑛𝑛 2 𝑡𝑡=1 = ∑ 𝑒𝑒𝑡𝑡 𝑛𝑛 2 𝑡𝑡=2 +∑ 𝑒𝑒𝑡𝑡−1 𝑛𝑛 2 𝑡𝑡=2 −2 ∑ 𝑒𝑒𝑡𝑡𝑒𝑒𝑡𝑡−1 𝑛𝑛 𝑡𝑡=2 ∑ 𝑒𝑒𝑡𝑡 𝑛𝑛 2 𝑡𝑡=1 (2.17) Adapun beberapa asumsi yang melandasi uji Durbin-Watson ini yaitu:
 1. Uji Durbin-Watson diterapkan untuk model regresi yang mencakup parameter 𝛽𝛽0 , dengan kata lain dipergunakan untuk model regresi yang mengandung intersep. Jika kita mempunyai model regresi tanpa intersep atau model regresi melalui titik asal maka perlu membangun model regresi dengan intersep untuk menghitung nilai error dari model itu
 2. Variabel-variabel bebas 𝑋𝑋 adalah nonstokastik, atau bersifat tetap dalam penarikan sampel yang berulang (repeated sampling)
3. Bentuk kesalahan pengganggu/error mengikuti pola autoregresif derajatpertama dengan bentuk persamaan: 𝜀𝜀𝑡𝑡 = 𝜌𝜌𝜀𝜀𝑡𝑡−1 + 𝑢𝑢𝑡𝑡
4. Model regresi tidak mencakup nilai-nilai lag dari variabel terikat sebagai suatu variabel bebas
5. Tidak ada pengamatan yang hilang dalam data, dengan demikian uji Durbin-Watson hanya dapat diterapkan untuk model regresi yang dibangun berdasarkan data yang lengkap. Untuk sampel yang berukuran besar, maka bentuk-bentuk: ∑ 𝑒𝑒𝑡𝑡 𝑛𝑛 2 𝑡𝑡=2 , ∑ 𝑒𝑒𝑡𝑡−1 𝑛𝑛 2 𝑡𝑡=2 , 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑 ∑ 𝑒𝑒𝑡𝑡 𝑛𝑛 2 𝑡𝑡=1 akan mendekati hasil yang sama atau memiliki besaran yang hampir serupa atau hampir sama besar. Dengan demikian, kita dapat menulis statistik d dalam pendekatan berikut:
 𝑑𝑑 ≈ 2 ∑ 𝑒𝑒2 𝑡𝑡−1 ∑ 𝑒𝑒2𝑡𝑡−1 − 2 ∑ 𝑒𝑒𝑡𝑡 𝑒𝑒𝑡𝑡−1 ∑ 𝑒𝑒2𝑡𝑡−1 ≈ 2(1 − ∑ 𝑒𝑒𝑡𝑡 𝑒𝑒𝑡𝑡−1 ∑ 𝑒𝑒2𝑡𝑡−1 ). Dan didefinisikan 𝜌𝜌� = ∑ 𝑒𝑒𝑡𝑡 𝑒𝑒𝑡𝑡−1 ∑ 𝑒𝑒2𝑡𝑡−1 sehingga 𝑑𝑑 ≈ 2(1 − 𝜌𝜌�) . Oleh karena terdapat suatu batasan bahwa −1 ≤ 𝜌𝜌 ≤ 1 , maka statistik d akan terletak dalam selang (0,4) sehingga dapat ditulis 0 ≤ 𝑑𝑑 ≤ 4.
 Dari uraian yang dikemukakan, maka dapat diambil kesimpulan tentang beberapa sifat uji Durbin-Watson antara lain:
1. Jika tidak terdapat autokorelasi, maka 𝜌𝜌� = 0 maka 𝑑𝑑 = 2 sehingga apabila berdasarkan perhitungan diperoleh 𝑑𝑑 ≈ 2 maka dapat dinyatakan tidak terdapat autokorelasi dalam fungsi regresi 2. Jika 𝜌𝜌� = 1 maka 𝑑𝑑 = 0 , dan dalam keadaan seperti ini menunjukkan adanya autokorelasi positif sempurna. Dengan demikian, jika 0 < 𝑑𝑑 < 2 menunjukkan adanya suatu autokorelasi positif di mana autokorelasi tersebut akan semakin kuat bersifat positif apabila nilai 𝑑𝑑 ≈ 0 , dan sebaliknya autokorelasi positif tesebut akan semakin lemah apabila nilai 𝑑𝑑 ≈ 2
 3. Jika 𝜌𝜌� = −1 maka 𝑑𝑑 = 4, dan dalam keadaan ini menunjukkan adanya autokorelasi negatif sempurna. Dengan demikian, jika 2 < 𝑑𝑑 < 4 menunjukkan adanya autokorelasi negatif dimana autokorelasi negatif tersebut akan semakin kuat apabila 𝑑𝑑 ≈ 4, sebaliknya autokorelasi negatif tersebut akan semakin lemah apabila 𝑑𝑑 ≈ 2. Keuntungan dari uji Durbin-Watson ini adalah statistik tersebut didasarkan pada error/residual yang diestimasi, yang secara rutin dihitung pada analisis regresi. Dan kelemahan dari uji ini yaitu jika d jatuh dalam daerah yang meragukan atau daerah ketidaktahuan maka kita tidak dapat menyimpulkan apakah autokorelasi ada atau tidak (Gujarati, 1988). Durbin-Watson telah menetapkan batas atas (dU) dan batas bawah (dL) untuk taraf nyata tertentu yang cocok untuk menguji hipotesis tentang ada atau tidak adanya autokorelasi.
Mekanisme dari uji Durbin-Watson adalah sebagai berikut, dengan mengasumsikan bahwa asumsi yang mendasari pengujian terpenuhi:
1. Lakukan regresi OLS dan dapatkan nilai error/residual
2. Hitung nilai d
3. Untuk ukuran sampel tertentu dan jumlah variabel bebas tertentu, tentukan nilai kriteria dL dan dU. 4
. Menarik kesimpulan dengan mengikuti aturan pengambilan keputusan pada uji Durbin-Watson

Konsekuensi Autokorelasi (skripsi dan tesis)

Jika semua asumsi model regresi linier klasik dipenuhi, teori Gauss-Markov menyatakan bahwa dalam kelas semua penduga tak bias linier penduga OLS adalah yang terbaik yaitu penduga tersebut mempunyai varians minimum (Gujarati, 1988). Akan tetapi jika suatu model regresi linier menunjukkan adanya autokorelasi maka telah disebutkan sebelumnya bahwa penduga parameter 𝛽𝛽0, 𝛽𝛽1, 𝛽𝛽2, … , 𝛽𝛽𝑘𝑘 yang diperoleh dengan metode OLS tidak lagi bersifat BLUE.Gujarati (1988), jika kita tetap melakukan penerapan OLS dalam situasi autokorelasi, konsekuensi sebagai berikut terjadi:

1. Jika kita mengabaikan autokorelasi dalam penduga OLS yang dihitung secara konvensional dan variansnya, penduga tersebut masih tetap tidak efisien. Oleh karena itu, selang keyakinannya menjadi lebar dan pengujian arti (signifikan) kurang kuat
2. Jika kita tidak memperhatikan batas masalah autokorelasi dan terus menerapkan formula OLS klasik (dengan asumsi tidak ada autokorelasi) maka konsekuensinya akan lebih serius karena:

 a.) Varians error 𝜎𝜎�2 menduga terlalu rendah (underestimate) 𝜎𝜎2 sebenarnya
b.) Jika 𝜎𝜎2 tidak diduga terlalu rendah, varians dan kesalahan standar OLS nampaknya akan menduga varians terlalu rendah dan juga kesalahan standar yang sebenarnya
c.) Pengujian arti (signifikan) t dan F tidak lagi sah, dan jika diterapkan akan memberikan kesimpulan yang menyesatkan secara serius mengenai arti statistik dari koefisien regresi yang diduga

3. Meskipun penduga OLS tidak bias yang merupakan sifat penyampelan berulang, tetapi dalam satu sampel tertentu penduga tersebut memberikan gamabaran yang menyimpang dari populasi sebenarnya. Seperti telah dikemukakan dalam batasan masalah di bab sebelumnya bahwa kesalahan pengganggu/error mengikuti persamaan berikut: 𝜀𝜀𝑡𝑡 = 𝜌𝜌𝜀𝜀𝑡𝑡−1 + 𝑢𝑢𝑡𝑡 (2.16) keterangan: 𝜀𝜀𝑡𝑡= kesalahan pengganggu/error pada waktu t 𝜌𝜌 = koefisien autokorelasi dengan nilai −1 ≤ 𝜌𝜌 ≤ 1 𝜀𝜀𝑡𝑡−1 = kesalahan pengganggu/error pada periode 𝑡𝑡 − 1 𝑢𝑢𝑡𝑡= kesalahan pengganggu/error yang mana dalam hal ini 𝑢𝑢𝑡𝑡 diasumsikan memenuhi semua asumsi OLS yaitu: 𝐸𝐸(𝑢𝑢𝑡𝑡) = 0, 𝑣𝑣𝑣𝑣𝑣𝑣(𝑢𝑢𝑡𝑡) = 𝜎𝜎2, 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑 𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐𝑐(𝑢𝑢𝑡𝑡, 𝑢𝑢𝑡𝑡+𝑠𝑠) = 0 , 𝑠𝑠 ≠ 0. Persamaan (2.16) di atas dikenal sebagai autoregresif derajat-satu yang ditulis sebagai AR(1), disebut autoregresif karena persamaan (2.16) diinterpretasikan sebagai regresi 𝜀𝜀𝑡𝑡 atas dirinya sendiri yang terlambat satu periode dan dinamakan derajat-satu karena hanya 𝜀𝜀𝑡𝑡 dan nilai error pada satu periode sebelumnya (𝜀𝜀𝑡𝑡−1) saja yang terlibat