SOCIAL IDENTITY

Teori social identityadalah suatu landasan seseorang untuk
mendeskripsikan dirinya dalam suatu lingkungan sosial dan merupakan tolak
ukur terhadap keberhasilan seseorang dalam menunjukan definisi dari dirinya
sendiri (Arenas-Gaitán et al., 2018). Social identity memiliki kaitan dengan
posisi seseorang dalam suatu lingkungan sosial yang dimiliki (Arenas-Gaitan et al., 2013), karena dalam suatu lingkungan sosial sesorang dapat
mendefinisikan dirinya dengan baik dan apabila semakin erat ikatan antara
identitas seseorang dengan lingkungan sosialnya maka akan meningkatkan
kepercayaan diantara dirinya dan lingkungan sosial tersebut (Islam, 2014).
Social identity memiliki faktor penting yang harus diperhatikan dalam
membangun hubungan sosial di suatu lingkungan yaitu komunikasi (ArenasGaitán et al., 2018), untuk menciptakan komunikasi yang mudah dimana saja
dan kapan saja masyarakat saat ini memanfaatkan teknologi SNS termasuk
didalamnya penyebaran WOM (Arenas-Gaitan et al., 2013). WOM dalam
kehidupan sosial seseorang mampu merepresentatifkan persepsi seseorang
terhadap suatu hal dan dapat menggambarkan apa yang menjadi harapan
mereka (Alexandrov et al., 2013). WOM seringkali dilakukan oleh seseorang
dengan tujuan untuk memberikan kesan kepada pihak lain,selain itu WOM
juga dimanfaatkan untuk menunjukkan antusias yang dirasakan dalam suatu
percakapan, sehingga dalam prakteknya WOM dan social identity tidak dapat
dipisahkan (Arenas-Gaitán et al., 2018).
Intensitas penggunaan SNS yang meningkat dikalangan penggunanya
menunjukan seberapa tinggi faktor social identity dan altrusim dalam
kehidupan seseorang, hal ini disebabkan karena adanya perceived encourage
yang dirasakan dari dalam dirinya (Kwon & Wen, 2010). Perceived
encourage menjadi faktor yang penting dalam social idetity karena mampu
menunjukan persepsi pribadi yang dapat menggambarkan kepribadian
seseorang (Choi et al., 2015), begitupun dengan faktor altruism yang mampu  menghubungkan komunikasi dalam suatu lingkungan sosial dengan baik
sehingga dapat memberikan keuntungan dalam membangun social identity
(Arenas-Gaitán et al., 2018).