Wacana Kritis

Menurut Chaer dalam Sari (2019) wacana merupakan satuan linguistik yang
lengkap, sehingga merupakan satuan terbesar atau gramatikal tertinggi dalam
hierarki gramatikal. Sebuah ucapan bisa berupa kata, paragraf, kalimat, atau bahkan
buku. Baik itu berupa pengumuman, karangan, karangan, peribahasa, puisi, dll.
Dengan demikian tidak terbatas pada kata-kata yang tertulis saja di media cetak
atau media massa.
Wacana yang telah dihasilkan dapat dianalisis dan dikritisi oleh orang lain,
yang sering disebut sebagai analisis wacana kritis atau Critical Discourse Analysis
(CDA). Wacana melihat bahwa bahasa selalu berkaitan dengan hubungan
kekuasaan, terutama pembentukan subjek, dan berbagai tindakan representasional
yang terlibat dalam masyarakat. Dalam wacana kritis, pada akhirnya, ia
menggunakan bahasa dalam teks yang dianalisis, tetapi tidak hanya dari segi
bahasa, tetapi juga dalam konteks. Konteks di sini berarti bahasa digunakan untuk
tujuan dan praktik tertentu, termasuk praktik kekuasaan (Eriyanto, 2017, p. 7).
Eriyanto (2017) menuliskan karakteristik dari analisis wacana kritis
menurut Teun A. van Dijk, Fairclough, dan Wodak, yaitu:
1. Tindakan
Tindakan dalam wacana artinya adalah menghubungkan wacana sebagai
bentuk interaksi. Ada dua perspektif dalam tindakan di wacana, pertama,
pandangan wacana sebagai sesuatu atau hal yang dibentuk untuk
mempengaruhi, memperdebatkan, membujuk, mendukung, bereaksi, dll.
Kedua, memahami wacana sebagai hal yang secara sadar diekspresikan,
dikendalikan, bukan sesuatu yang di luar kendali.
2. Konteks
Analisis wacana kritis mencakup unsur-unsur kontekstual dalam wacana,
seperti konteks, kondisi, peristiwa, dan situasi. Konteks mencakup semua
keadaan dan apapun yang ada di luar teks serta dapat berpengaruh pada
penggunaan bahasa.
3. Historis
Tanpa sisi sejarah, itu tidak bisa dipahami. Untuk memahami sebuah teks
dalam histrosis adalah menempatkan wacana dalam konteks sejarah
tertentu. Sebuah teks akan dipahami ketika diberikan berbagai aspek historis
seperti apa, dimana, kapan, mengapa, dan bagaimana, seperti contoh: pada
Zaman Ketertiban atau Perang Kemerdekaan, dll. (Masitoh, 2020).
4. Kekuasaan
Wacana yang muncul, baik itu berbentuk dialog ataupun teks, atau lainnya
tidak dilihat sebagai hal yang netral, dan natural, melainkan sebagai
perebutan kekuasaan. Kekuatan yang terkait dengan wacana penting untuk
memahami apa yang disebut kontrol, mengendalikan struktur wacana.
5. Ideologi
Ideologi adalah ide sentral dari ujian bicara. Hal ini dengan alasan bahwa
teks, pertukaran, dan sebagainya adalah jenis praktik ideologi atau kesan
dari sebuah ideologi. Ideologi bekerja dengan pertemuan yang berlaku
untuk menduplikasi dan melegitimasi standar mereka. Misalnya, dalam
sebuah teks berita, apakah teks yang seolah-olah mencerminkan sistem
kepercayaan seseorang, apakah ia seorang aktivis perempuan, bermusuhan
dengan aktivis perempuan, pengusaha, komunis, dan sebagainya.
Dalam penelitian ini menggunakan wacana kritis karena ingin melihat
bagaimana sebuah teks atau wacana dapat dikritisi atau dimaknai, melalui teks
dalam pemberitaan kekerasan seksual yang terjadi di perguruan tinggi yang
dipublikasikan oleh Detik.com