Wacana Kritis Model Sara Mills

Analisis wacana kritis model Sara Mills memiliki titik fokus wacana tentang
feminisme. Wacana berperspektif feminis ini, menunjukkan bagaimana teks bias
dalam menampilkan perempuan (Eriyanto, 2017, p. 199). Sara Mills akan
menggambarkan seperti apa perempuan dimunculkan dalam sebuah wacana, hal ini
karena perempuan selalu diposisikan terpinggirkan dan tidak diberikan kesempatan
untuk membela diri. Wacana yang dimaksud dapat melalui foto, gambar, novdel,
ataupun dalam berita. Sasaran utama Sara Mills adalah ketidakadilannya dan
penggambaran yang buruk tentang wanita dalam sebuah wacana.
Mayoritas pemberitaan cenderung menampilkan perempuan sebagai objek
informasi di pemberitaan, misalnya berita tentang kekerasan seksual dan perkosaan.
Pada intinya, Sara Mills memiliki poin menarik dalam analisisnya, menunjukkan
seperti apa perempuan digambarkan dan terpinggirkan dalam teks pemberitaan, dan
bagaimana bentuk serta pola marginalisasi terjadi. Melihat itu, pasti ada cara atau
strategi tertentu sehingga perempuan digambarkan secara buruk ketika ditampilkan
dalam teks (Eriyanto, 2017, p. 199).
Penggunaan analisis yang digunakan oleh Sara Mills dengan melihat
bagaimana posisi-posisi aktor yang ditampilkan dalam teks, utamanya dalam
penelitian ini adalah teks pemberitaan. Posisi tersebut terbagi menjadi dua, siapa
yang akan menjadi subjek penceritaan dan siapa yang akan menjadi objek
penceritaan, serta bagaimana makna diperlakukan dalam teks secara keseluruhan.
Selain posisi subjek dan objek, Sara Mills juga memiliki perhatian terdapat
bagaimana pembaca dan penulis ditampilkan dalam teks. Bagaimana pembaca
memposisikan dirinya dalam penceritaan teks berita. Hingga akhirnya, cara
penceritaan dan posisi yang ditempatkan dan ditampilkan dalam teks membuat satu
pihak menjadi legitimate dan pihak lain menjadi illegitimate (Eriyanto, 2017, p.
200).
1. Posisi Subjek dan Objek
Posisi ini akan menentukan semua elemen dalam teks bahwa mereka yang
memiliki posisi lebih tinggi dalam mencirikan realitas akan
memperkenalkan satu lagi kesempatan atau pertemuan sebagai konstruksi
kursif khusus yang akan diperkenalkan kepada orang banyak.
Kesempatan setiap orang berbeda-beda, akibatnya ada pihak yang berdiri
pada posisi subjek dan menceritakan dirinya sendiri, namun ada juga pihak
yang hanya menjadi objek, tidak hanya tidak mampu menampilkan diri
dalam teks, tetapi melalui aktor lain. (Eriyanto, 2017, p. 201).
2. Posisi Pembaca dan Penulis
Sara Mills percaya bahwa dalam teks, posisi pembaca sangat penting dan
harus diperhatikan dalam teks. Menurutnya, teks merupakan hasil negosiasi
antara penulis dan pembaca. Dalam pandangan Sara Mills, ada keuntungan
membentuk model yang menggabungkan teks dan penulis di satu sisi, dan
teks dan pembaca di sisi lain.
Kehadiran terencana yang menarik dukungan, penekanan, atau menarik
simpati atau persuasi dari pembaca, ada negosiasi antara reporter sebagai
penulis dan penonton sebagai pembaca.
Penelitian ini menggunakan wacana kritis model Sara Mills karena ingin
melihat bagaimana perempuan sebagai korban kekerasan seksual ditampilkan
dalam pemberitaan. Seperti yang dikatakan oleh Sara Mills, bahwa dikebanyakan
berita tentang pemerkosaan dan kekerasan seksual, perempuan seringkali
ditempatkan sebagai objek pemberitaan