Ideologi adalah sebuah sistem yang berbentuk kepercayaan ataupun nilai
dimana ini diyakini sebagai kebenaran oleh sebagian orang atau kelompok.
Menurut Althusser, ideologi adalah dialektika yang dikarekteristikan dengan
kekuasaan yang mendominiasi (Halwati, 2014). Istilah ideologi pertama kali
dibahas oleh Antoine Destutt de Tracy (1754-1836), yang mendefinisikannya
sebagai ilmu tentang pemikiran manusia yang mampu menunjukkan arah yang
benar untuk masa depan. Dapat disimpulkan bahwa ideologi tersusun secara
sistematis dan dianggap benar serta dapat diterapkan pada pemikiran, gagasan,
gagasan, pedoman dalam kehidupan sehari-hari individu atau kelompok.
Pada dasarnya, wacana yang terdapat dalam media adalah konstruksi yang
bersifat ideologis. Ada sejumlah kepentingan dari pihak-pihak tertentu seperti
pemilik ataupun praktisi pers. Pembuatan berita yang ada di media adalah
penyusunan dari berbagai realitas hingga akhirnya membentuk menjadi sebuah
wacana yang memiliki makna. Sehingga seluruh wacana yang ada di media itu
realitas yang telah dikonstruksikan. Oleh seab itu, dalam mengkonstrusikan realitas
tidak terlepas dari isi media, yaitu peristiwa apa yang bisa dipublikasikan dan
kecenderungan pemberitaan media itu diarahkan (Halwati, 2014).
Menurut Soedibyo dalam (Wicaksono, 2018) Ideologi media tidak terlepas
dari nilai, kepentingan, dan kekuatan media. Hal ini membuat media kurang netral
dan lebih cenderung menjadi salah satu pemangku kepentingan atau memiliki
kekuatan. Kesimpulannya bahwa media berfungsi dalam masyarakat sebagai
perpanjangan tangan dari kelompok kekuasaan dan mereka yang berkuasa.
Kelompok kekuasaan percaya bahwa nilai-nilai penting akan dikomunikasikan
melalui media, dan isi media mencerminkan ideologi partai yang berkuasa
(Wicaksono, 2018).
Dalam penelitian yang dilakukan oleh peneliti, ideologi media sangat
penting untuk wacana yang diproduksi oleh media tersebut dalam hal ini adalah
Detik.com. Penentuan posisi dalam pemberitaan juga terkait dengan ideologi
media, kelompok mana yang akan diposisikan sebagai pencerita
