Budaya patriarki merupakan salah satu dari berbagai budaya di Indonesia
yang masih berkembang hingga saat ini. Budaya patriarki adalah fenomena di mana
kurang meratanya kekuasaan dalam berbagai aspek tertentu yang ada di masyarakat
antara perempuan dan laki-laki. Budaya patriarki ini bisa ditemukan di semua aspek
dan ruang lingkungan pendidikan, ekonomi, politik, hukum dan lainnya. Bagi
kebanyakan orang, patriarki adalah bentuk utama feminisme, yang dicirikan oleh
sistem sosial yang secara kurang adil mensubordinasi, menindas atau
mendiskriminasi perempuan.
Secara garis besar, dalam budaya patriarki sebenarnya ada tiga hal yang
perlu diketahui, yaitu:
1. Gender dan Seks
Gender adalah hubungan sosial di antara orang-orang. Gender menyinggung
hubungan antara orang-orang, pria dan wanita muda, dan seperti apa
hubungan sosial ini diatur. Pekerjaan orientasi bersifat dinamis atau berubah
dalam jangka panjang. Sebagai aturan, perempuan biasanya berperan dalam
mengarahkan penggandaan, penciptaan, dan masyarakat. Laki-laki lebih
khawatir tentang penciptaan dan masalah legislatif sosial.
Sedangkan seks adalah pembedaan yang wajar atau alamiah di antara
manusia. Misalnya, perempuan dapat mengandung anak dan laki-laki
menghasilkan sperma.
2. Feminis dan Maskulin
Feminisme adalah perkembangan sosial, perkembangan politik, dan filosofi
dengan tujuan bersama untuk mencirikan, menunjukkan, dan mencapai
orientasi dalam politik, moneter, individu, dan sosial. Feminisme
mengkonsolidasikan kebutuhan masyarakat ke perspektif laki-laki dan di
mana perempuan tidak diperlakukan secara tulus dalam lingkungan
masyarakat itu.
Sementara kata maskulin berasal dari kata muscle atau otot, yang merupakan
kualitas yang semata-mata didasarkan pada kekuatan otot (tubuh). Karakter
jantan ini digambarkan dengan kecenderungan serius, penyelesaian diri, dan
presentasi kekuatan. Atribut anggun dan jantan ini dimiliki oleh semua
orang, semua jenis orang. Seorang individu yang hanya membina
pribadinya yang maskulin akan melihat orang lain bukan sebagai kaki
tangan melainkan bersaing untuk keuntungannya sendiri, atau akan
kehilangan nilai identitasnya yang sehat ketika orang lain melihatnya
dengan cara yang tidak terduga.
3. Domestik dan Publik
Keluarga sangat dekat dengan latihan dalam keluarga. Dengan asumsi dia
memasang, kesempatannya dibatasi oleh status setengahnya yang lebih
baik, misalnya, dia tidak memiliki kesempatan berharga untuk melanjutkan
sekolahnya atau mengembangkan bakat dan kemampuannya. Mayoritas dari
mereka adalah ibu rumah tangga dan seringkali tidak berguna dengan cara
apa pun. Posisi mereka hanya berputar di sekitar pakaian, memasak,
membersihkan rumah tanpa henti.
Pekerjaan diliputi oleh pria di arena terbuka dan wanita hanya di lingkaran
rumahan. Dengan demikian, wanita dibatasi pada lingkaran rumahan,
sedangkan pria dapat memasuki arena terbuka.
Sylvia Walby dalam bukunya berjudul Teorisasi Patriarki membagi
patriarki ke dalam beberapa struktur (Walby, 2014):
1. Patriarki dalam produksi keluarga, berupa perempuan mengerjakan
pekerjaan rumah tangga dan mengasuh anak.
2. Patriarki di tempat kerja, honor dalam bentuk pembagian gender dan
perbedaan honor.
3. Patriarki dalam negara adalah perempuan tidak ada dalam posisi yang
penting di pemerintahan serta peran perempuan yang terbatas dalam politik
dan hukum.
4. Patriarki seksual adalah dimana perempuan sebagai penyedia seks dan
pemberi kasih sayang atau cinta.
5. Patriarki yang berkaitan berupa kekerasan yang oleh laki-laki berupa secara
verbal, non-verbal, maupun psikis.
6. Patriarki dalam budaya, diwujudkan sebagai desakan “perempuan ideal”
seorang perempuan dalam pendidikan, keluarga, media massa ataupun
dalam agama.
Keenam hal yang telah disebutkan Sylvia Walby dalam bukunya berjudul
Teorisasi Patriarki tersebut mengacu pada tiga inti hal penting dalam budaya
patriarki, yaitu gender dan seks, feminis dan maskulin, serta domestik dan
publik.Dalam penelitian ini, budaya patriarki digambarkan oleh kekuasaan laki-laki
itu lebih besar dibandingkan perempuan. Dalam hal ini, perempuan dianggap lebih
lemah, dan laki-laki lebih memiliki power
