Feminisme merupakan gerakan para perempuan yang memperjuangkan
keadilan hak, serta emansipasi dengan laki-laki. Littlejhon (2017) memberikan
definisi feminisme sebagai perkembangan yang bermaksud untuk membuka pintu
bagi artikulasi diri dan pertunjukan diri dengan sedikit memperhatikan orientasi
atau kualitas yang berbeda. Sebagian besar, feminisme memang berurusan dengan
beberapa kombinasi gender, penindasan, dan penentuan nasib. Kemudian, Creswell
(2014) mengatakan bahwa pendekatan penelitian yang berfokus pada feminis
berfokus pada dan mempelajari kondisi berbagai permasalahan perempuan dan
pembentukan dari institusi. Adapun topik yang dapat diangkat mencakup isu-isu
kebijakan terkait pencapaian keadilan sosial untuk perempuan dalam konteks
tertentu dan pemahaman tentang penindasan perempuan.
Menurut Mujianto dalam (Artificianti, 2012), penyebab utama munculnya
feminisme karena adanya pandangan yang sebelah mata terhadap perempuan,
kemudian disertai juga hal-hal buruk yang distereotipekan pada perempuan serta
citra negatif. Teori feminis melihat pendekatan wacana partiarkal melalui
pengaitannya dengan masalah perempuan dan permasalahan yang lebih luas atau
dalam kata lain jangkauan publik. Seiring perkembangannya, terdapat aliran
feminisme yang terbagi menjadi delapan, yaitu:
1. Feminisme Liberal
Berfokus kebebasan terhadap individu sepenuhnya dari perempuan. Hak-
hak sipil individu, seperti hak pilih perempuan dan ekspresi diri. Selain itu,
ada kesetaraan dan keadilan.
2. Feminisme Radikal
Feminisme radikal berfokus pada akar penyebab ketidaksetaraan di antara
perempuan. Feminisme lahir di Barat pada tahun 1960-an, dengan
kelompok pengikut radikal yang percaya bahwa penindasan terhadap
perempuan disebabkan oleh patriarki.
3. Feminisme Marxis
Aliran ini meyakini bahwa akar feminisme adalah penindasan terhadap
perempuan, yang bersumber dari eksploitasi kelas dan metode produksi.
Feminisme Marxis berfokus pada pembebasan perempuan dari pembagian
kelas, gender, patriarki, dan kapitalisme (Jonesy, 2021).
4. Feminisme Sosialis
Feminisme sosialis, komitmen untuk perempuan dapat terjadi di setiap
ruang belajar dan menggunakan kelas dan ujian orientasi untuk
mengetahuinya. Perusahaan swasta dan masyarakat yang dikendalikan laki-
laki umumnya merupakan kekuatan pendukung.
5. Feminisme Postmodern
Dikenal sebagai “feminisme akademis”, ini menantang untuk dipahami dan
dianggap tidak terlibat dengan pertempuran progresif sejati seperti
perkelahian, daftar hitam, dan pameran. Bagian ini membuat sesuatu terjadi
dengan memuji penyalahgunaan (Jonesy, 2021)
6. Feminisme Psikoanalisis
Usulan feminis ini bergerak menuju masyarakat androgini, yang berarti
masyarakat secara keseluruhan merupakan perpaduan antara karakteristik
perempuan dan laki-laki.
7. Feminisme Multikultural dan Global
Feminisme ini menawarkan pandangan bahwa perempuan adalah heterogen
tetapi memiliki komponen yang saling terkait seperti usia, status sosial
ekonomi, agama, pendidikan, budaya, lokasi, dan kewarganegaraan. Karena
pengalaman dan identitas yang berbeda, setiap kelompok perempuan
mengalami penindasan secara berbeda.
8. Ekofeminisme
Fokus terhadap hubungan spiritual perempuan dengan ekologi di sekitarnya.
Dalam aliran ini, status perempuan sebagai “perawat” lebih dibutuhkan
daripada laki-laki, dan mereka lebih dekat dan peka terhadap alam. Seperti
perempuan, alam “dipelihara”, “dieksploitasi”, dan “diperkosa” oleh
kapitalisme yang dominannya laki-laki. (Jonesy, 2021).
Pada penelitian ini, feminisme terlihat pada ketidakadilan bagi perempuan
korban kekerasan seksual yang secara pemberitaan ditempatkan sebagai objek.
Artinya, masih ada media yang tidak memberikan keadilan pada perempuan sebagai
korban
