Experiental Marketing

Strategi Experiential Marketing menurut Keller (2013:209) berguna dalam mengkomunikasikan kepada orang lain visi strategi experiential marketing,   dan sangat diperlukan dalam mengasah interaksi karyawan dan pelanggan dalam memperoleh secara tepat sifat dan intensitas reaksi pelanggan yang diinginkan.

Experiential Marketing mempromosikan suatu produk dengan tidak hanya mengkomunikasikan fitur dan manfaat produk tetapi juga menghubungkannya dengan pengalaman konsumen yang unik dan menarik. Experiential Marketing mencakup kegiatan pemasaran yang memperdalam dan memperluas cara konsumen berpikir dan bertindak terhadap merek. One to one dan permission marketing adalah semua cara untuk membuat konsumen lebih aktif terlibat dengan produk atau layanan. Program aftermarketing dan kesetiaan juga merupakan cara untuk membantu mendapatkan pengalaman pembelian yang personal.

Experiential Marketing menurut Keller (2013:187) di sisi lain sangat efektif dalam membangun citra merek dan memanfaatkan berbagai perasaan yang berbeda serta membantu membangun komunitas merek. Keempat pendekatan dapat membangun merek ke konsumen yang lebih kuat. Implikasi dari pendekatan baru ini adalah konsep “bauran pemasaran” tradisional dan gagasan “4 P” pemasaran yaitu produk, harga, tempat (atau distribusi), dan promosi (atau komunikasi pemasaran) tidak sepenuhnya menggambarkan program pemasaran yang modern, atau banyak kegiatan, seperti program loyalitas, yang mungkin belum tentu cocok dengan salah satu dari sebutan tersebut.

Perusahaan masih harus membuat keputusan tentang apa sebenarnya yang akan mereka jual, bagaimana (dan di mana) mereka akan menjualnya, dan berapa harganya. Perusahaan masih harus merancang produk, harga, dan strategi  distribusi sebagai bagian dari program pemasaran. Experiential marketing didasarkan pada teori individu pelanggan dan perilaku sosialnya yang psikologis, namun praktis. Kerangka kerja ini memiliki dua aspek: Strategic Experiential Modules (SEM), yang membentuk fondasi strategis pemasaran pengalaman, dan penyedia pengalaman (ExPros) yang merupakan alat taktis dari pemasaran pengalaman (Schmitt and rogers, 2008:116).

Strategic Experiential Modules (SEM) menurut Schmitt and rogers (2008:116) merupakan tujuan dari upaya pemasaran. Lima jenis Experiential Marketing yang membentuk dasar dari Kerangka Experiential Marketing:

  1. Sense

 

Sense atau rasa menarik bagi indera dengan tujuan menciptakan pengalaman sensoris melalui penglihatan, suara, sentuhan, rasa dan bau. Sense dapat digunakan untuk membedakan perusahaan dan produk, untuk memotivasi pelanggan dan untuk menambah nilai produk. Prinsip utama Sense adalah ‘variasi konsistensi / sensori kognitif’, yaitu, pendekatan sense yang ideal memberikan konsep yang mendasari jelas dapat dideteksi tetapi muncul selalu segar dan baru. Selain itu, kampanye sense yang sukses membutuhkan pemahaman tentang rangsangan apa yang paling tepat untuk pengaruh sensorik.

  1. Feel

 

Feel menarik bagi pelanggan dalam perasaan dan emosi, dengan tujuan menciptakan pengalaman yang efektif yang berkisar dari suasana hati yang sedikit positif terkait dengan merek (misalnya, untuk merek barang atau jasa yang tidak melibatkan, tidak tahan lama atau produk industri) untuk emosi kegembiraan dan kebanggaan yang kuat (misalnya, untuk kampanye konsumen yang tahan lama, teknologi, atau pemasaran sosial). Sebagian besar pengaruh terjadi selama konsumsi. Karena itu, iklan emosional standar sering tidak sesuai karena tidak menargetkan perasaan selama konsumsi. Apa yang diperlukan untuk pemasaran feel untuk bekerja adalah pemahaman yang erat tentang rangsangan apa yang dapat memicu emosi tertentu serta kemauan konsumen untuk terlibat dalam pengambilan perspektif dan empati.

  1. Think

 

Think marketing menarik bagi intelek dengan tujuan menciptakan pengalaman kognitif, pemecahan masalah yang melibatkan pelanggan secara kreatif. Think marketing menarik untuk menargetkan pemikiran konvergen dan divergensi pelanggan melalui kejutan, intrik dan provokasi. Think mengkampanyekan untuk produk teknologi baru. Tapi Think marketing tidak terbatas hanya untuk produk teknologi tinggi. Think marketing juga telah digunakan dalam desain produk, ritel dan komunikasi di banyak industri lainnya.

  1. Act

 

Act bertujuan untuk memengaruhi perilaku, gaya hidup, dan interaksi. Act memperkaya pengalaman pelanggan dengan menargetkan pengalaman fisik mereka, menunjukkan kepada mereka cara-cara alternatif dalam melakukan sesuatu (misalnya, di pasar bisnis-ke-bisnis dan industri), gaya hidup alternatif, dan interaksi. Analitis, pendekatan rasional untuk perubahan perilaku (yaitu, teori tindakan beralasan) hanyalah salah satu dari banyak opsi perubahan perilaku. Perubahan gaya hidup dan perilaku sering lebih memotivasi, inspiratif dan emosional di alam dan dibawa oleh model peran (misalnya, bintang film atau atlet terkenal).

  1. Relate

 

Relate mengandung aspek pemasaran sense, feel dan think. Namun, relate memperluas di luar perasaan pribadi dan pribadi seseorang, sehingga menghubungkan individu tersebut dengan sesuatu di luar keadaannya saat ini. Kampanye relate menarik keinginan individu untuk meningkatkan diri (misalnya, ‘diri ideal’ masa depan yang ingin ia kaitkan). Himbauan kebutuhan untuk dirasakan secara positif oleh orang lain (misalnya, teman sebaya, pacar, atau pasangan; keluarga dan rekan kerja). Mereka menghubungkan orang itu dengan sistem sosial yang lebih luas (subkultur, negara, dan sebagainya), sehingga membangun hubungan merek yang kuat dan komunitas merek.