Bhal (2006:107) mendefinisikan LMX adalah perilaku karyawan
terhadap perusahaan yang mempunyai peran penting terhadap keberhasilan
sebuah organisasi. Morrow et al. (2005:682) menjelaskan bahwa Leader
Member Exchange adalah peningkatan kualitas hubungan antara supervisi
dengan karyawan yang akan meningkatkan kerja keduanya. Truckenbrodt
(2000:233) menyatakan bahwa Leader Member Exchange adalah penilaian
terhadap hubungan dan interaksi antara supervisor (atasan) dan bawahan.
Tingkat kedekatan dari hubungan antara pimpinan dan bawahan ini yang
menunjukkan adanya indikasi dari Leader Member Exchange di perusahaan.
Berdasarkan pengertian diatas, maka disimpulkan bahwa Leader
Member Exchange adalah merupakan suatu hubungan atasan dan bawahan
yang terjalin di dalam perusahaan atau organisasi. Oktavianda dan Iqbal (2018:182) menjelaskan indikator LMX, yaitu:
a. Respect, hubungan antar atasan dan bawahan tidak dapat terbentuk tanpa
adanya saling menghormati (respect) terhadap kemampuan orang lain.
b. Trust, tanpa adanya rasa percaya yang timbal balik, hubungan antara
atasan dengan bawahan akan sulit terbentuk.
c. Obligation, pengaruh kewajiban akan berkembang menjadi suatu
hubungan kerja antara atasan dengan bawahan.
Gutama et al. (2015:257-258) mengklasifikasikan indikator Leader
Member Exchange yaitu:
a. Afeksi
Bentuk kepedulian, yang demikian mungkin saja dapat ditunjukkan
dalam suatu keinginan untuk melakukan hubungan yang menguntungkan
dan bermanfaat, seperti antar sahabat.
b. Loyalitas
Loyalitas menyangkut suatu kesetiaan penuh terhadap seseorang secara
konsisten dari satu situasi ke situasi yang lainnya.
c. Kontribusi
Persepsi tentang kegiatan yang berorientasi pada tugas di tingkat tertentu
antara setiap anggota untuk mencapai tujuan bersama.
d. Penghormatan profesional
Persepsi mengenai sejauh mana setiap hubungan timbal balik telah
memiliki dan membangun reputasi di dalam atau luar organisasi,
melebihi apa yang telah ditetapkan di dalam pekerjaan.
Truckenbrodt (2000:234) karyawan kelompok in group bisa
diidentifikasikan dari:
a. Adanya perlakuan-perlakuan khusus yang diberikan pimpinan kepada
karyawan. Karyawan yang masuk kelompok in group cenderung
mendapatkan perlakuan khusus dari pimpinan, misalnya perihal
kompensasi kerja, toleransi absensi kerja dan lainnya.
b. Adanya perhatian yang memadai dari pimpinan terhadap karyawan
dalam kelompok in group akan menilai pimpinan memiliki perhatian
yang memadai kepada karyawan.
c. Adanya kepercayaan pimpinan terhadap karyawan dan sebaliknya
Pimpinan menaruh kepercayaan kepada pimpinan dan demikian pula
sebaliknya yaitu karyawan mempercayai pimpinan untuk berbuat yang
terbaik bagi karyawan.
d. Kemauan menerima tambahan tanggung jawab dari perusahaan.
Karyawan yang masuk dalam kelompok in group mau diserahi tanggung
jawab untuk pekerjaan yang lainnya, meskipun sebenarnya bukan
menjadi tanggung jawab karyawan bersangkutan.
e. Kemauan karyawan untuk menerima tugas yang tidak terstruktur
Karyawan yang masuk dalam kelompok in group mau menerima tugas
yang tidak terstruktur yaitu tugas-tugas yang sifatnya mendadak dan
mungkin bukan pekerjaan yang seharusnya ditanagni karyawan
bersangkutan. Misalnya karyawan bagian produksi diminta pimpinan
untuk mengantarkan surat, menjemput anggota keluarga pimpinan, dan
lainnya.
f. Kemauan karyawan untuk secara sukarela bekerja tambahan di
perusahaan.
