Komitmen Organisasional (skripsi dan tesis)

a. Definisi Komitmen Organisasional
Tingkat di mana seorang pekerja mengidentifikasi sebuah
organisasi, tujuan, dan harapannya untuk menjadi anggota disebut juga
dengan komitmen organisasi (Robbins, 2016). Menurut Allen & Meyer
(1991) komitmen organisasi adalah suatu keadaan psikologis yang
memperlihatkan karakteristik hubungan karyawan dengan organisasi
serta memiliki implikasi terhadap keputusan individu untuk tetap
bertahan dalam organisasi.
Komitmen organisasi penting untuk perusahaan karena tidak
dapat dipungkiri, jalannya sebuah perusahaan adalah karena
keterlibatan SDM. Maka SDM harus memiliki komitmen yang baik di
dalam sebuah perusahaan untuk menjaga loyalitas dan kesetiaan
terhadap perusahaannya. Ketika seorang karyawan memiliki komitmen
organisasi yang tinggi, maka hal tersebut akan mempengaruhi
produktivitas kerja dan akan berdampak pada produktivitas sebuah
perusahaan.
Menurut Luthans (2006) komitmen organisasional adalah sikap
yang mencerminkan kesetiaan karyawan terhadap organisasi mereka
dan merupakan proses yang berkelanjutan di mana karyawan
mengekspresikan kepedulian mereka terhadap organisasi.
b. Indikator dan Faktor Komitmen Organisasional
Terlepas dari definisi-definisi komitmen organisasi, terdapat
beberapa pendapat mengenai indikator komitmen organisasi menurut
(Lincoln, 1996) yaitu:
a) Kemauan karyawan
Karyawan yang memiliki kemauan untuk bekerja dengan
tulus dan ikhlas dari hati biasanya akan memiliki sebuah
komitmen di dalam organisasi tempat ia bekerja.
b) Kesetiaan karyawan pada sebuah organisasi
Komitmen organisasi bisa berasal dari faktor kesetiaan
karyawan. Karyawan yang memiliki rasa setia atau rasa cinta
kepada organisasi tempat ia bekerja biasanya akan memiliki
komitmen organisasi yang tinggi dan tidak mudah
meninggalkan pekerjaannya.
c) Kebanggaan karyawan pada organisasi
Karyawan yang memiliki rasa bangga terhadap organisasi
tempat ia bekerja biasanya akan memiliki rasa komitmen
yang tinggi kepada tempat di mana dia bekerja.
Menurut Allen & Meyer (1991) indikator komitmen organisasi
ada tiga macam, yaitu komitmen afektif, komitmen normatif, dan
komitmen berkelanjutan. Pengertian tersebut dapat dijelaskan sebagai
berikut:
a) Komitmen afektif (affective commitment)
Berkaitan dengan hubungan emosional karyawan,
identifikasi dan keterlibatan karyawan di dalam suatu
organisasi.
b) Komitmen normatif (normative commitment)
Terkait dengan adanya perasaan terikat untuk terus berada di
dalam suatu organisasi.
c) Komitmen berkelanjutan (continuance commitment)
Berkaitan dengan kesadaran karyawan akan sebuah kerugian
apabila meninggalkan organisasi tempat ia bekerja.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi komitmen organisasi,
yaitu ada empat faktor menurut David (dalam Minner, 1997):
a) Faktor personal, misalnya jenis kelamin, pengalaman kerja,
kepribadian, usia, tingkat pendidikan, dll.
b) Karakteristik pekerjaan, contohnya seperti jabatan, konflik
peran di dalam pekerjaan, tingkat kesulitan ketika bekerja,
tantangan di dalam pekerjaan, dll.
c) Karakteristik struktur, contohnya seperti besar atau kecilnya
sebuah organisasi, tingkat pengendalian yang dilakukan
organisasi terhadap karyawan, dan bentuk organisasi seperti
sentralisasi atau desentralisasi.
d) Pengalaman kerja, sangat berpengaruh terhadap tingkat
komitmen karyawan. Karyawan yang baru sebentar bekerja
dan karyawan yang sudah lama bekerja bahkan hingga
puluhan tahun bekerja tentunya akan memiliki tingkat
komitmen yang berbeda.
Menurut Allen & Meyer (1990) faktor-faktor yang
mempengaruhi komitmen organisasi ada tiga, yaitu:
a) Karakteristik pribadi individu
Karakteristik ini dibagi menjadi dua variable, yang pertama
variabel demografis yang mencakup usia, jenis kelamin,
34
usia, status pernikahan, tingkat pendidikan, dan lamanya
orang bekerja pada suatu perusahaan. Variabel kedua adalah
variabel disposisional yang mencakup kepribadian dan nilai
yang dimiliki anggota organisasi. Variabel disposisional ini
memiliki hubungan yang lebih kuat dengan komitmen
organisasi karena adanya perbedaan pengalaman masingmasing anggota dalam sebuah organisasi.
b) Karakteristik organisasi
Karakteristik organisasi itu sendiri yaitu, struktur organisasi,
desain kebijaksanaan dalam organisasi dan bagaimana
kebijaksanaan organisasi tersebut disosialisasikan.
c) Pengalaman beroganisasi
Pengalaman organisasi ini mencakup kedalam kepuasan dan
motivasi anggota organisasi selama berada di sebuah
organisasi, perannya adalah hubungan antara anggota
organisasi dengan supervisor pimpinannya.
Faktor-faktor komitmen organisasi menurut Stum (1998)
dalam Adolfina (2014) yaitu:
a) Budaya keterbukaan
Sebuah organisasi yang memiliki budaya keterbukaan di
dalamnya maka menimbulkan rasa percaya seorang
karyawan terhadap organisasinya, jika rasa kepercayaan itu
sudah terbentuk dalam diri karyawan, maka komitmen
organisasi akan meningkat.
b) Kepuasan kerja
Jika seorang karyawan memiliki rasa puas di dalam diri
mereka, maka komitmen yang akan diberikan untuk
organisasinya akan meningkat.
c) Kesempatan untuk berkembang
Jika sebuah organisasi memberikan karyawan kesempatan
untuk berkembang untuk dirinya sendiri, maka secara tidak
langsung komitmen yang ada dalam diri karyawan akan
meningkat.
c. Dimensi Komitmen Organisasional
Terdapat tiga bentuk dimensi komitmen organisasi seseorang,
yaitu menurut (Allen dan Meyer, 1991):
a) Komitmen afektif (Affective commitment)
Komitmen ini berhubungan kepada sebuah hubungan
emosional karyawan terhadap organisasi. Seseorang ingin
terus bekerja untuk sebuah organisasi karena mereka
berpikir jika mereka memiliki nilai dan tujuan yang sama
dengan organisasi tersebut. Seseorang yang memiliki
komitmen afektif ini memiliki keinginan yang tinggi untuk
tetap berada di organisasi.
b) Komitmen Berkelanjutan (Continuance commitment)
Komitmen ini berhubungan kepada keinginan karyawan
untuk tetap tingal di sebuah organisasi namun karena adanya
perhitungan tentang untung dan rugi tentang sebuah nilai
ekonomi dari bertahan dalam suatu organisasi dibandingkan
dengan meninggalkan suatu organisasi. Semakin lama
karyawan tinggal di organisasi tersebut, maka mereka
semakin takut untuk kehilangan apa yang telah mereka
investasikan di dalam perusahaan selama ini.
c) Komitmen normatif (Normative Commitment)
Komitmen ini mengacu kepada perasaan karyawan di mana
mereka diharuskan untuk tetap bekerja di sebuah organisasi
karena adanya tekanan dari pihak luar atau pihak yang lain.
Karyawan yang memiliki komitmen normatif yang tinggi
akan sangat memperhatikan apapun yang dikatakan oleh
orang lain tentang mereka jika mereka benar-benar
meninggalkan organisasi tempat mereka bekerja.