a. Definisi Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja merupakan perasaan berbeda-beda yang
dimiliki oleh seseorang. Kepuasan kerja merupakan suatu perasaan
positif tentang pekerjaan, dan seseorang yang memiliki tingkat
kepuasan kerja yang tinggi akan memiliki perasaan yang positif
terhadap pekerjaannya (Robbins, 2016).
Kepuasan kerja merupakan sikap positif atau negatif yang
dilakukan individu terhadap pekerjaan mereka (Greenberg and
Baron, 2003). Kepuasan kerja adalah sikap emosional yang
menyenangkan dan mencintai pekerjaannya. Sikap ini ditunjukkan
melalui moral kerja, kedisiplinan, dan prestasi kerja (Hasibuan,
2013).
Kepuasan kerja adalah keadaan emosional yang menyenangkan
atau emosi positif yang berasal dari penilaian pekerjaan atau
pengalaman kerja seseorang (Luthans, 2006). Menurut (Luthans,
2006) kepuasan kerja mempunyai dimensi. Diantaranya adalah:
a) Pekerjaan itu sendiri, tugas kerja biasanya akan dianggap
menarik dan memberikan kesempatan seseorang untuk maju
atau belajar.
b) Gaji atau upah, yaitu jumlah yang dapat diterima sesuai
dengan kesesuaian dalam bekerja.
c) Kesempatan promosi, berhubungan dengan masalah
kenaikan jabatan atau kesempatan untuk maju dan untuk
pengembangan karir.
d) Pengawasan, adanya hubungan antara karyawan dengan
atasan untuk pengawasan bekerja dan kualitas kerja.
e) Rekan kerja, hubungan antara sesama karyawan ditempat
kerja.
Kepuasan kerja memiliki arti penting atau manfaat untuk
perusahaan maupun individu, karena kecenderungan untuk
meningkatkan kinerja karyawan di sebuah perusahaan tidak
dapat tercapai tanpa adanya kepuasan kerja.
b. Indikator Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja memiliki beberapa indikator yang dinyatakan
oleh (Malayu S.P Hasibuan, 2008), yaitu:
a) Menyenangi pekerjaannya
Seseorang yang menyenangi pekerjaannya sadar mengapa ia
mengambil pekerjaan itu dan bagaimana ia harus meraih
tujuan dalam pekerjaan tersebut, karena ia bisa
mengerjakannya dengan baik.
b) Mencintai pekerjaannya
Seseorang mampu memberikan sesuatu yang terbaik dengan
segenap hati untuk mencapai suatu tujuan di dalam
pekerjaannya. Karyawan mau mengorbankan dirinya sendiri
walaupun susah atau sakit, karena ia terlalu mencintai
pekerjaannya.
c) Moral kerja
Suasana batin seseorang yang mempengaruhi perilaku
individu atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan
tertentu. Moral kerja yang positif atau dalam arti suasana
batin yang menyenangkan akan memiliki semangat tinggi
dalam melakukan pekerjaan.
d) Kedisiplinan
Kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari
serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai
kepatuhan, teratur, dan tertib.
e) Prestasi kerja
Hasil kerja baik yang dicapai seseorang dalam
melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya yang
didasarkan kecakapan atas kesungguhan serta waktu.
c. Faktor-Faktor dan Dampak Kepuasan Kerja
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja karyawan
dapat ditentukan dari beberapa hal, ada 6 faktor yang mempengaruhi
kepuasan kerja menurut (Luthans, 2006) yaitu:
a) Jenis pekerjaan yang dilakukan
Karyawan akan diberikan kesempatan untuk belajar dan
memperoleh suatu tanggung jawab sehingga dapat
menjadikan sebuah pekerjaan itu jadi tugas yang
menarik sekaligus menantang. Kesesuaian pekerjaan
yang dilakukan dengan kemampuan yang dimiliki akan
memberikan sebuah kepuasan kerja tersendiri dan akan
mendorong karyawan untuk lebih meningkatkan
produktivitas di dalam bekerja.
b) Upah atau gaji
Upah maupun gaji menjadi faktor utama dalam menarik
perhatian karyawan ataupun calon karyawan dalam
menciptakan kepuasan kerja. Karyawan akan selalu
menuntut agar sistem pemberian gaji adil dan transparan
sesuai dengan keinginan mereka. Gaji yang adil akan
disesuaikan dengan level keahlian atau skill, beban kerja,
serta pengalaman kerja. Apabila gaji yang diperoleh
tidak sesuai dengan hasil yang ia kerjakan selama ini,
maka itu akan mempengaruhi kepuasan kerja.
c) Kesempatan promosi kenaikan jabatan
Promosi kenaikan pangkat merupakan salah satu faktor
yang diincar oleh sebagian besar karyawan. Adanya
kenaikan promosi juga dapat meningkatkan kepuasan
kerja karyawan karena hal ini memberikan kesempatan
kepada karyawan untuk mengembangkan dirinya. Selain
itu promosi juga dapat meningkatkan tanggung jawab
dan status sosial karyawan. Pemberian promosi jabatan
kepada karyawan harus dilakukan secara adil sehingga
memberikan kepuasan kerja untuk mereka.
d) Pengawasan
Salah satu fungsi kepemimpinan adalah dalam
melaksanakan tugas untuk mengontrol manajemen
perusahaan. Langkah pada tugas ini adalah
berkomunikasi dengan karyawan mengenai segala
tujuan perusahaan yang dicapai bersama. Adanya
pengarahan, motivasi, dan perhatian dari pimpinan
kepada karyawan akan menciptakan kepuasan kerja dan
mendorong karyawan untuk melakukan kerja dengan
lebih baik.
e) Rekan kerja
Rekan kerja dalam sebuah kerja sama tim akan saling
mendukung dan membantu. Kepuasan kerja yang
didapatkan dari rekan kerja biasanya akan datang dari
interaksi atau komunikasi yang baik dengan sesama
rekan kerja. Tim kerja yang kompak akan membuat
setiap anggota tim merasa puas berada di dalam
lingkungan tersebut. Semakin baik hubungan antara
rekan kerja maka berpengaruh pada tingkat kepuasan
kerja.
f) Kondisi kerja
Kondisi atau lingkungan kerja yang rapi, bersih, teratur,
dan menyenangkan akan menciptakan suasana kerja
yang baik. Oleh karena itu, menjaga lingkungan kerja
juga akan dapat meningkatkan kepuasan kerja karyawan.
Menurut Robbins & Judge (2016) ada beberapa faktor yang
dapat mempengaruhi terjadinya kepuasan kerja, yaitu:
a) Kondisi kerja
Karyawan selalu berhubungan dengan kondisi dan
lingkungan di mana mereka bekerja. Karyawan dapat
menjalin hubungan dilingkungan kerja yang bertujuan
untuk kenyamanan pribadi dan kemudahan dalam
melakukan pekerjaan. Sebagian karyawan lebih
menyukai fasilitas pekerjaan yang bersih dan rapi dan
didukung dengan jarak rumah yang dekat.
b) Kepribadian
Karyawan yang memiliki evaluasi diri yang positif akan
merasa lebih puasa dengan pekerjaan mereka dibanding
mereka yang memiliki evaluasi diri yang negatif.
c) Gaji
Gaji dapat meningkatkan kepuasan kerja seseorang
karyawan. Karyawan yang memiliki tujuan untuk
membenahi kondisi keuangan di dalam dirinya biasanya
akan melihat gaji sebagai tujuannya. Gaji yang cocok
dan adil dengan pekerjaan mereka akan membuat
kepuasan kerja mereka menjadi tinggi.
d) Corporate Social Responbility (CSR)
Corporate social responbility (CSR) adalah tanggung
jawab perusahaan, yang di mana merupakan tindakan
yang bertujuan untuk memberikan manfaat untuk
masyarakat atau lingkungan di sekitar perusahaan sesuai
dengan apa yang di syaratkan oleh hukum yang telah
ada. Adanya program CSR ini adalah untuk membuat
karyawan merasa nyaman untuk bekerja, hal ini dapat
meningkatkan tingginya tingkat kepuasan kerja yang ada
pada karyawan.
Faktor-faktor kepuasan kerja lainnya menurut Hasibuan (2008)
ada tujuh faktor, yaitu:
a) Penempatan yang tepat sesuai dengan keahlian
Penempatan pekerjaan yang tepat sesuai dengan
keahlian merupakan salah satu faktor meningkatkan
kepuasan kerja seseorang, karena penempatan pekerjaan
yang tepat sesuai dengan bidangnya maka dia akan
menguasai pekerjaan itu dengan baik.
b) Balas jasa yang adil
Balas jasa yang adil sama dengan kompensasi, di dalam
pekerjaan yang kita lakukan, kita pasti menginginkan
balas jasa yang adil dari atasan. Balas jasa merupakan
sesuatu yang diterima karyawan sebagai pengganti
kontribusi mereka terhadap perusahaan.
c) Berat atau ringannya pekerjaan
Faktor dari kepuasan kerja bisa dilihat dari berat atau
ringannya suatu pekerjaan yang dilakukan di
perusahaan. Pekerjaan yang ringan biasanya akan lebih
menimbulkan rasa kepuasan kerja karena seorang
karyawan tidak perlu mengerjakan pekerjaan yang berat.
d) Suasana dan lingkungan pekerjaan
Suasana dan lingkungan pekerjaan yang baik biasanya
akan menimbulkan rasa puas di dalam pekerjaannya.
Kenyamanan lingkungan kerja harus menjadi prioritas
utama dalam bekerja karena karyawan nanti akan merasa
nyaman dan betah bekerja.
e) Peralatan yang menunjang pekerjaan
Pekerjaan yang kita lakukan setiap harinya hendaknya
memiliki peralatan yang menunjang dan lengkap agar
situasi di dalam bekerja bisa menjadi menyenangkan dan
nyaman.
f) Sikap pimpinan
Sebuah organisasi atau perusahaan hendaknya memiliki
pimpinan yang baik dan bijaksana, terutama dalam
bersikap kepada semua karyawan. Pemimpin yang baik
akan memiliki sikap yang adil kepada setiap karyawan,
ini akan menimbulkan kepuasan dalam bekerja jika kita
memiliki pimpinan yang bersikap baik, adil, dan
bijaksana.
g) Sikap pekerjaan yang monoton atau tidak
Seringnya kepuasan kerja bisa diukur dari sebuah
pekerjaan yang monoton atau tidak. Pekerjaan yang
terlalu monoton biasanya akan tampak membosankan
apalagi jika dilakukan terus menerus dan itu bisa
membuat rasa puas di dalam bekerja bisa menurun.
Dalam sebuah perusahaan pasti ada juga karyawan yang memiliki
rasa ketidakpuasan dalam bekerja, dampak dari ketidakpuasan kerja
menurut Robbins (1998) (dalam Munandar;367) menggambarkan ada 4
cara seorang karyawan dalam mengungkapkan ketidakpuasan kerja
seorang karyawan, yaitu:
a) Contrustive-destructive, yaitu di mana karyawan akan
langsung mengekspresikan ketidakpuasannya dalam
bekerja dengan cara keluar dari perusahaan.
b) Active-constructive, yaitu di mana karyawan memilih
bertahan diperusahaan dengan memberikan kritik, saran,
dan usaha lainnya dalam artian ingin memperbaiki
kondisi yang ada.
c) Passive-destructive, yaitu di mana karyawan akan
menunjukkan sikap acuh tak acuh atau tidak pedulinya
kepada pekerjaan ataupun perusahaan tempatnya
bekerja.
d) Passive-constructive, yaitu di mana karyawan masih
menunjukkan loyalitas pada perusahaan tempat ia
bekerja meskipun dengan cara menunggu secara pasif
lalu mengharapkan jika kondisi kembali normal (stabil)
atau bahkan lebih baik.
Dampak dari ketidakpuasan lain ada dari Robbins (2016), yang
membedakan dua dimensi konstruksif atau destruktif dan aktif atau
pasif. Responnya dapat dijelaskan di bawah ini:
a) Keluar adalah suatu respon yang mengarah kepada perilaku
untuk meinggalkan sebuah organisasi, termasuk untuk
mencari sebuah posisi yang baru dan pengunduran diri.
b) Suara adalah salah satu respon yang secara aktif dan
kontruktif berguna untuk mencoba memperbaiki kondisi
yang terjadi, termasuk menyarankan perbaikan,
mendiskusikan masalah dengan atasan, dan mengambil
suatu aktivitas.
c) Kesetiaan adalah respon yang secara pasif tetapi optimis
untuk menunggu agar kondisi membaik, salah satunya
adalah berbicara kepada organisasi saat menghadapi kritikan
eksternal, mempercayai organisasi atau perusahaan dan
manajemennya untuk melakukan suatu hal yang besar.
d) Pengabaian adalah respon pasif yang membiarkan kondisikondisi memburuk, salah satunya adalah termasuk absen
atau keterlambatan yang kronis, berkurangnya usaha, dan
tingkat kesalahan yang bertambah.
