Orientasi etis merupakan alternatif pola perilaku seseorang untuk
menyelesaikan dilema etika dan konsekuensi yang diharapkan oleh fungsi
yang berbeda. Menurut Salim orientasi etis didefinisikan sebagai dasar
pemikiran untuk menentukan sikap, arah dan sebagainya secara tepat dan
benar yang berkaitan dengan dilema etis (Audry, 2010).
Orientasi etis merupakan bagaimana pandangan seseorang mengenai
etika itu sendiri. Forsyth (1980) menyebutkan bahwa orientasi etis
dikendalikan oleh dua karakteristik, yaitu idealisme dan relativisme.
a. Idealisme
Idealisme mengacu pada suatu hal yang dipercaya oleh individu
dengan konsekuensi yang dimiliki dan diinginkannya tidak melanggar
nilai-nilai moral. Atau dapat dikatakan dalam setiap tindakan yang
dilakukan harus berpijak pada nilai-nilai moral yang berlaku dan tidak
sedikitpun keluar dari nilai-nilai tersebut (mutlak). Idealisme didefinisikan
sebagai suatu sikap yang menganggap bahwa tindakan yang tepat atau
benar akan menimbulkan konsekuensi atau hasil yang diinginkan.
Seseorang yang idealis mempunyai prinsip bahwa merugikan orang lain
adalah hal yang selalu dapat dihindari dan mereka tidak akan melakukan
tindakan yang mengarah pada tindakan yang berkonsekuensi negatif. Jika
terdapat dua pilihan yang keduanya akan berakibat negatif terhadap
individu lain, maka seorang yang idealis akan mengambil pilihan yang
paling sedikit mengakibatkan akibat buruk pada individu lain. Orientasi
etis idealisme dapat diukur dengan tindakan tidak boleh merugikan orang
lain, selalu memikirkan kehormatan dan kesejahteraan anggota, perbuatan
bermoral tanpa menimbang positif atau negatif, tindakan bermoral adalah
tindakan yang bersifat ideal yang dikemukakan oleh Nurfarida (2011).
b. Relativisme
Relativisme adalah suatu sikap penolakan terhadap nilai-nilai
moral yang absolut dalam mengarahkan perilaku. Dalam hal ini individu
masih mempertimbangkan beberapa nilai dari dalam dirinya maupun
lingkungan sekitar. Relativisme etis merupakan teori yang menyatakan
bahwa suatu tindakan dapat dikatakan etis atau tidak, benar atau salah,
yang tergantung kepada pandangan masyarakat. Teori ini meyakini bahwa
tiap individu maupun kelompok memiliki keyakinan etis yang berbeda.
Dengan kata lain, relativisme etis maupun relativisme moral adalah
pandangan bahwa tidak ada standar etis yang secara absolute benar. Dalam
penalaran moral seorang individu, ia harus selalu mengikuti standar moral
yang berlaku dalam masyarakat dimanapun ia berada. Secara garis besar
ada 3 pihak yang melakukan penolakan, mereka sama-sama menolak
bahwa nilai-nilai moral yang berlaku mutlak dan umum. Pihak pertama
berpendapat bahwa ternyata nilai moral di berbagai masyarakat dan
kebudayaan tidaklah sama. Pihak kedua menyatakan bahwa suatu nilai
moral tidak pernah berlaku mutlak, mereka memasang nilai atau norma
sendiri yaitu bahwa suatu nilai moral tidak boleh mengikat secara mutlak.
Pihak ketika mendekati nilai moral dari segi yang lain yaitu dari segi
metode etika, disini mereka menolak norma moral secara mutlak berdasar
logika tiap-tiap individu itu sendiri. Orientasi etis relativisme ini dapat
diukur dengan indikator nilai moral di berbagai masyarakat dan
kebudayaan tidaklah sama, prinsip moral dipandang sebagai sesuatu yang
sifatnya subyektif nilai moral tidak pernah berlaku mutlak, penetapan
aturan etika secara tegas akan menciptakan hubungan manusia yang lebih
baik, dan kebohongan dinilai bermoral atau tidak tergantung pada situasi
yang mengelilinginya (Nurfarida, 2011).
Meskipun idealisme dan relativisme merupakan dua karakteristik,
namun bukan berarti bertolak belakang, tetapi merupakan skala yang
terpisah, yang terkadang masih saling mempengaruhi di dalam diri setiap
individu. Selanjutnya, Forsyth (1980) menyilangkan secara ekstrim
idealisme tinggi-rendah dengan relativiasme tinggi rendah, sehingga
membentuk empat klasifikasi orientasi etika : 1) Situasionisme, 2)
Absolutisme, 3) Subyektif dan 4) Eksepsionis
