Locus of Control (skripsi dan tesis)

Locus of control merupakan konsep yang pertama kali dikemukakan
oleh Rotter. Locus of control adalah cara pandang seorang terhadap suatu
peristiwa apakah dia dapat atau tidak dapat mengembalikan sesuatu yang
terjadi padanya (Rotter dalam Susanti (2014). Menurut Myers (2012:73) locus
of control adalah sejauh mana orang merasakan hasil sebagai sesuatu yang
dikendalikan secara internal oleh usaha mereka sendiri atau eksternal oleh
kebetulan atau kekuatan diluar dirinya.
Menurut Reis dan Mitra dalam Susanti (2014) locus of control terbagi
menjadi dua, yaitu: internal locus of control dan external locus of control.
Internal locus of control adalah cara pandang individu bahwa segala hasil
yang di dapat, baik atau buruk adalah karena tindakan, perilaku, dan kerja
keras dari individu itu sendiri. Sedangkan external locus of control adalah cara
pandang individu dimana segala hasil yang didapat, baik atau buruk berada
diluar control diri mereka dan disebabkan karna faktor luar, seperti
keberuntungan, kesempatan dan takdir.
Hastuti (2007) menjelaskan bahwa seseorang dengan locus of control
internal meyakini bahwa apa yang terjadi pada dirinya merupakan
konsekuensi dari tindakan yang dia lakukan sendiri, sehingga orang dengan
Locus of control internal umumnya memiliki tanggung jawab terhadap
tindakan yang dilakukannya. Sedangkan seseorang dengan locus of control
eksternal meyakini bahwa kejadian-kejadian yang terjadi dalam hidupnya
dipegaruhi oleh takdir dan keberuntungan, sehingga seseorang dengan locus of
control eksternal cenderung untuk melimpahkan tanggung jawab atas
tindakan yang dilakukannya pada faktor luar dirinya.
Menurut Rotter dalam Lucyanda dan Endro (2012) terdapat tiga
indikator utama dalam locus of control yaitu: a) kepercayaan akan adanya
takdir; b) kepercayaan diri; c) dan usaha atau kerja keras.
Konsep tentang pusat kendali (locus of control) yang digunakan Rotter
(1966) memiliki empat konsep dasar (Ghufron dan Risawati, 2012:66-67),
yaitu:
a) Konsep perilaku, yaitu setiap kemungkinan yang secara relatif muncul
pada situasi tertentu berkaitan dengan hasil yang diinginkan dalam
kehidupan seseorang.
b) Harapan merupakan suatu kemungkinan dari berbagai kejadian yang akan
muncul dan dialami oleh seseorang.
c) Nilai unsur penguat adalah pilihan terhadap berbagai kemungkinan
penguatan atas hasil dari beberapa penguat hasil-hasil lainnya yang dapat
muncul pada situasi serupa.
d) Suasana psikologis adalah bentuk rangsangan baik secara internal maupun
internal yang diterima seseorang pada suatu tertentu, yang meningkatkan
atau menurunkan harapan terhadap munculnya hasil yang sangat
diharapkan.
Perkembangan pusat kendali individu dipengaruhi oleh berbagai aspek,
yaitu lingkungan fisik dan sosial. Lingkungan sosial yang pertama bagi
seseorang adalah keluarga. Didalam keluarga inilah terjadi suatu interaksi
antara orangtua dan anak, termasuk di dalamnya penanaman nilai-nilai dan
norma-norma yang akan diwariskan kepada anak-anaknya. Apabila tingkah
laku anak mendapatkan respons, maka anak akan merasakn sesuatu di dalam
lingkungannya. Dengan demikian, tingkah laku tersebut dapat menimbulkan
motif yang dipelajari. Hal ini merupakan langkah terbentuknya pusat kendali
yang internal. Sebaliknya jika tingkah lakunya tidak mendapat reaksi, maka
anak akan merasa bahwa perilakunya tidak mempunyai akibat apa pun. Anak
tidak kuasa menentukan akibatnya, keadaan diluar dirinyalah yang
menentukan. Hal ini dapat menimbulkan apa yang disebut pusat kendali
eksternal (Ghufron dan Risawati, 2012:70).