Stephen P. Robbins (2013) dalam bukunya Organizational Behavior
membagi lima fungsi budaya organisasi, sebagai berikut:
1. Berperan menetapkan batasan.
2. Mengantarkan suatu perasaan identitas bagi anggota organisasi.
3. Mempermudah timbulnya komitmen yang lebih luas dari pada kepentingan
individual seseorang.
4. Meningkatkan stabilitas system sosial karena merupakan perekat sosial yang
membantu mempersatukan organisasi.
5. Sebagai mekanisme control dan menjadi rasional yang memandu dan
membentuk sikap serta perilaku para karyawan.
Pendapat lain yang mengemukakan fungsi-fungsi dari budaya organisasi
salah satunya menurut Chatab (2007: 226) yaitu sebagai identitas yang merupakan
ciri atau karakter organisasi, lalu social cohension atau pengikat dan pemersatu,
selanjutnya adalah sumber penggerak dan pola perilaku. Budaya organisasi
merupakan sebagai mekanisme adaptasi terhadap perubahan.
Tika (2006: 85-87) memaparkan pendapatnya mengenai fungsi budaya
organisasi yaitu sebagai batas pembeda terhadap lingkungan, organisasi maupun
kelompok lain, sebagai perekat bagi staf dalam suatu organisasi, untul
mempromosikan stabilitas sistem sosial, sebagai mekanisme kontrol dalam
memadu dan membentuk sikap serta perilaku staf, sebagai integrator, untuk
membentuk perilaku bagi para staf, sebagai sarana untuk menyelesaikan masalahmasalah pokok organisasi, sebagai acuan dalam menyusun perencanaan
perusahaan, sebagai alat komunikasi, dan terakhir adalah sebagai penghambat
berinovasi.
Berdasarkan pendapat-pendapat para peneliti dapat disimpulkan bahwa
fungsi budaya organisasi ialah sebagai identitas, alat perekat atau pemersatu dalam
organisasi, pembentuk perilaku karyawan dalam meningkatkan produktivitas, serta
sebagai alat peningkatan dan promosi stabilitas sistem sosial.
