Karakteristik Budaya Organisasi (skripsi dan tesis)

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai apa yang dimaksud dengan budaya
organisasi itu, dapat dilakukan dengan mengetahui sifat atau karakteristik dari
budaya organisasi. Menurut Robbins (2013) terdapat beberapa karakteristik yang
apabila dicampur dan dicocokkan maka akan menjadi budaya internal yaitu:
1. Inisiatif individu yaitu sejauh mana organisasi memberikan kebebasan
kepada setiap pegawai dalam mengemukakan pendapat atau ide-ide yang
di dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya. Inisiatif individu tersebut perlu
dihargai oleh kelompok atau pimpinan suatu organisasi sepanjang
menyangkut ide untuk memajukan dan mengembangkan inovasi
organisasi.
2. Toleransi terhadap tindakan beresiko yaitu sejauh mana pegawai
dianjurkan untuk dapat bertindak agresif, inovatif dan mengambil resiko
dalam mengambil kesempatan yang dapat memajukan dan
mengembangkan organisasi. Tindakan yang beresiko yang dimaksudkan
adalah segala akibat yang timbul dari pelaksanaan tugas dan fungsi yang
dilakukan oleh pegawai.
3. Pengarahan yaitu sejauh mana pimpinan suatu organisasi dapat
menciptakan dengan jelas sasaran dan harapan yang diinginkan, sehingga
para pegawai dapat memahaminya dan segala kegiatan yang dilakukan para
pegawai mengarah pada pencapaian tujuan organisasi. Sasaran dan harapan
tersebut jelas tercantum dalam visi dan misi.
4. Integrasi yaitu sejauh mana suatu organisasi dapat mendorong unit-unit
organisasi untuk bekerja dengan cara yang terkoordinasi.
5. Dukungan manajemen yaitu sejauh mana para pimpinan organisasi dapat
memberikan komunikasi atau arahan, bantuan serta dukungan yang jelas
terhadap pegawai. Dukungan tersebut dapat berupa adanya upaya
pengembangan kemampuan para pegawai seperti mengadakan pelatihan.
6. Kontrol yaitu adanya pengawasan dari para pimpinan terhadap para
pegawai dengan menggunakan peraturan-peraturan yang telah ditetapkan
demi kelancaran organisasi. Sistem imbalan yaitu sejauh mana alokasi
imbalan (seperti kenaikan gaji, promosi, dan sebagainya) didasarkan atas
prestasi kerja pegawai, bukan sebaliknya didasarkan atas senioritas, sikap
pilih kasih, dan sebagainya.
7. Toleransi terhadap konflik yaitu sejauh mana para pegawai didorong untuk
mengemukakan konflik dan kritik secara terbuka guna memajukan
organisasi, dan bagaimana pula tanggapan organisasi terhadap konflik
tersebut.
8. Pola komunikasi yaitu sejauh mana komunikasi dalam organisasi yang
dibatasi oleh hierarki kewenangan yang formal dapat berjalan baik.
Menurut Muchlas (2005: 534) terdapat tiga karakteristik budaya organisasi
yaitu kebersamaan, peran pemimpin, dan intensitas. Kebersamaan ditunjukan
dengan besarnya derajat kebersamaan yang dimiliki oleh anggota organisasi.
Derajat kebersamaan dipengaruhi oleh faktor orientasi dan penghargaan. Lalu,
terdapat faktor peran pemimpin yang menetapkan arah organisasi dan melahirkan
perubahan untuk mencapai tujuan organisasi. Sedangkan, intensitas merupakan
struktur penghargaan dimana karyawan menyadari bahwa mereka akan diberi
penghargaan ketika melakukan pekerjaan dengan baik dan hal tersebut dapat
meningkatkan kinerja karyawan.
Sedangkan, Luthan (2005: 110) membagi karakteristik budaya organisasi
menjadi enam yaitu aturan perilaku yang diamati, dimana anggota organisasi dapat
berinteraksi satu sama lain dengan menggunakan bahasa istilah, dan ritual umum
yang berkaitan dengan rasa hormat dan cara berperilaku. Norma, atau standar
perilaku yang mencakup pedoman atau aturan mengenai seberapa banyak pekerjaan
yang akan dilakukan. Selain itu, terdapat nilai dominan dimana organisasi memiliki
harapan serta memberikan dukungan kepada peserta dapat membagikan nilai-nilai
utama contohnya kualitas produk yang tinggi dan kinerja yang baik. Karakteristik
selanjutnya ialah filosofi, atau kebijakan yang membentuk kepercayaan organisasi
dalam memperlakukan karyawan serta pelanggannya. Aturan, merupakan pedoman
yang ketat dan berkaitan dengan pencapaian perusahaan. Karyawan baru harus
dapat mempelajari teknik dan prosedur yang ada agar diterima sebagai anggota
kelompok yang berkembang. Karakteristik yang terakhir ialah iklim organisasi,
dimana seluruh “perasaan” yang disampaikan dengan pengaturan yang bersifat
fisik, cara peserta berinteraksi, dan cara anggota organisasi berhubungan dunia luar.
Sedangkan menurut Kreitner dan Kinicki (2014) budaya organisasi
memiliki tiga karakteristik diantaranya ialah budaya organisasi diberikan kepada
karyawan baru melalui proses sosialisasi, selanjutnya budaya organisasi dapat
mempengaruhi perilaku karyawan di tempat kerja, dan budaya organisasi dapat
dilakukan di dua tingkat yang berbeda.
Dilihat dari beberapa pendapat mengenai karakteristik budaya organisasi,
maka dapat dikatakan bahwa budaya organisasi berkaitan dengan hal yang ada
dalam organisasi tersebut, seperti pola komunikasi, toleransi, arahan manajemen,
cara berinteraksi, serta hasil yang dicapai melalui kinerja tim atau individual, sifatsifat yang dapat meningkatkan produktivitas karyawan, serta aturan-aturan yang
mengikat karyawan dalam sebuah organisasi.