Pengukuran Kualitas Laba (skripsi dan tesis)

Menurut Schroeder et al (2015) beberapa teknik yang bisa digunakan dalam menilai kualitas laba adalah sebagai berikut : (1) Membandingkan antara prinsip akuntansi yang digunakan oleh perusahaan dengan prinsip yang umum digunakan dalam industri dan oleh kompetisi. Apakah prinsip akuntansi yang digunakan perusahaan akan menggelembukan laba? (2) Meninjau kembali perubahan terbaru dalam prinsip akuntansi dan perubahan dalam estimasi untuk menentukan jika terjadi penggelembungan laba. (3) Menentukan apakah pengeluaran diskresioner, seperti iklan telah ditunda pengakuannya dengan membandingkannya kepada periode sebelumnya. (4) Mencoba untuk menilai apakah sebuah beban seperti beban garansi ditampilkan di laporan laba atau tidak. (5) Menentukan biaya penggantian dari inventori dan aset lainnya. Menilai apakah perusahaan menghasilkan aliran kas yang cukup untuk mengganti asetnya (6) Meninjau kembali catatan atas laporan keuangan untuk menentukan apakah ada kerugian kontijensi yang mungkin bisa mereduksi laba dan aliran kas masa depan.  (7) Meninjau kembali hubungan antara penjualan dan piutang untuk menentukan apakah piutang meningkat lebih cepat dari pada penjualan. (8) Meninjau kembali diskusi manajemen dan bagian analisis dari laporan tahunan dan opini auditor untuk menentukan opini manajemen terhadap masa depan perusahaan dan untuk mengidentifikasikan berbagai masalah utama akuntansi. Subramanyam (2014) memberikan langkah–langkah dalam mengevaluasi kualitas laba sebuah perusahaan sebagai berikut : (1) Mengidentifikasi dan menilai kunci kebijakan akuntansi. Salah satu langkah penting adalah mengidentifikasi kunci kebijakan akuntansi yang digunakan oleh perusahaan. Apakah kebijkan tersebut beralasan atau tidak? Apakah kebijakan yang digunakan konsisten dengan norma industri? Apa dampak yang akan timbul dari kebijakan tersebut dalam pelaporan keuangan? (2) Mengevaluasi tingkat fleksibilitas akuntansi. Ini penting untuk mengevaluasi tingkat fleksibilitas yang tersedia dalam menyiapkan laporan keuangan. Tingkat fleksibilitas akuntansi berbeda antara satu industri dengan industri yang lainnya. Sebagai contoh: akuntansi untuk industri yang banyak memiliki aset tidak berwujud, perusahaan yang memiliki volatility yang lebih besar dalam operasi bisnisnya, dan pengakuan pendapatan yang tidak umum memerlukan lebih banyak judgments dan estimasi. (3) Menentukan strategi pelaporan. Identifikasi strategi akuntansi yang diadopsi oleh perusahaan. Apakah perusahaan mengadopsi praktik pelaporan yang agresif? Apakah perusahaan mempunyai laporan audit yang bersih? Apakah ada sejarah masalah akuntansi? Apakah manajemen mempunyai reputasi integritas atau tidak? Ini hal yang penting untuk diuji secara insentif untuk manajemen laba dan mencari konsistensi pola indikatif dari itu. Analis butuh untuk mengevaluasi kualitas dari pengungkapan perusahaan. Ketika pengungkapan tidak mewakili kualitas pelaporan kuangan yang baik, yang akan datang, dan detail pengungkapan dapat mengurangi kelemahan dalam pelaporan keuangan. (4) Identifikasi dan menilai red flags. Satu langkah yang paling berguna dalam mengevaluasi kualitas laba adalah berhati–hati terhadap red flags. Red flags adalah item yang memberi sinyal analis akan potensi masalah yang serius. Scott (2016) mengukur kualitas laba dengan dua cara, yaitu dengan melihat peristensi laba dan kualitas akrual. Peristensi laba berkaitan dengan earnings response coefficient (ERC) sedangkan kualitas akrual berhubungan dengan discretionary accruals (DAC). ERC mengukur luas dari pengembalian saham pasar abnormal dalam respon untuk komponen unexpected dari laba yang dilaporkan perusahaan yang menerbitkan sekuritas. Diharapkan nilai ERC akan lebih tinggi untuk laba yang memiliki peristensi dalam memprediksi laba dan arus kas di masa mendatang. Menurut Subramanyam (2014) peristensi laba didefinisikan secara luas untuk mencangkup stabilitas, prediktabilitas, variablitas dan pola di dalam laba. Analisis laporan keuangan yang baik mengindentifikasikan komponen dalam laba yang dapat menunjukkan stabilitas dan prediktabilitas adalah komponen peristensi. Jadi dapat disimpulkan bahwa laba yang memiliki peristensi yang tinggi akan membuat laba tersebut berkualitas yang dicerminkan dengan tingginya nilai ERC.