Loyalitas konsumen merupakan inti dari brand equity yang menjadi gagasan sentral dalam pemasaran, karena hal ini merupakan satu ukuran keterkaitan seorang pelanggan terhadap sebuah merek. Apabila meningkat maka kerentanan kelompok pelanggan konsumen dari serangan kompetitor dapat dikurangi. Hal ini merupakan suatu indikator dari brand equity yang berkaitan dengan perolehan laba di masa yang akan datang karena loyalitas konsumen secara langsung dapat diartikan sebagai penjualan di masa yang akan datang (Rangkuti. 2011: 60). Ketika persaingan usaha semakin berat perusahaan dituntut melakukan upaya kongkret dan signifikan dalam menjalankan strategi pemasaran yang tepat agar dapat menjamin kesinambungan produk di pasar. Melalui penciptaan ekuitas merek yang baik untuk mempertahankan loyalitas pelanggan, berarti perusahaan berorientasi pada konsumen yang memiliki selera, keinginan, dan perilaku yang sifatnya berubah-ubah. Merek (brand) kerap kali dihubungkan dengan pembelian ulang sehingga dapat memuaskan konsumen. Maka konsumen akan menjadi loyal terhadap merek yang mereka gunakan baik pada produk atau pun jasa. Brand Equity merupakan total nilai dari atribut yang masuk dalam sebuah merek yang menyebabkan pembelian oleh konsumen akan suatu produk yang ditawarkan oleh perusahaan. Ekuitas merek yang positif akan menyebabkan konsumen untuk lebih sering membeli (Alaiquist, 2012: 78). Selain itu, konsumen yang setia pada merek tertentu cenderung “terikat” pada merek tersebut dan akan membeli produk yang sama lagi sekalipun tersedia banyak alternatif lainnya (Tjiptono. 2010 : 108). Brand Equity yang positif dapat meningkatkan penjualan karena mampu meningkatkan loyalitas konsumen (Sitinjak 2012: 6).
