Filosofi Tri Kaya Parisudha (skripsi dan tesis)

Tri kaya parisudha merupakan salah satu falsafah kultur Bali yang mengajarkan setiap manusia senantiasa berbuat baik menjalankan kebenaran, memiliki etika dan budi pekerti luhur melalui pembinaan sikap. Dengan nilai etika yang dimiliki, akan dapat menuntun dan memberi arah individu pada perilaku atau perbuatan yang dilakukannya. Filosofi tri kaya parisudha tedapat dalam kitab Sarasamuccaya yang memuat ajaran-ajaran etika. Di dalam kitab Sarasamuccaya disajikan berbagai perintah dan larangan bagi individu sebagai tuntunan berperilaku. Sura (2001:95) menyebutkan tri kaya parisudha adalah tiga anggota badan yang telah disucikan terdiri dari: 1) Manacika parisudha adalah pikiran yang baik atau suci Disebutkan dalam Sarasamuccaya sloka 74: Prawrttyaning manah rumuhun ajarakena, telu kwehnya, pratyekanya, si tan engine adenghya ridrbyaning len, si tan kordha ring sarwa sattwa si mamituha ri hana ning karmaphala, nahan tang tiga ulahaning manah, kahrtaning indriya ika. Artinya ada tiga banyak gerak pikiran yang harus disucikan yaitu tidak ingin dan dengki terhadap milik orang lain, kasih sayang terhadap semua mahluk dan percaya akan adanya karmaphala atau hasil dari perbuatan. 2) Wacika parisudha artinya perkataan yang baik atau suci. Disebutkan dalam Sarasamuccaya sloka 75: Nyang tanpa prawrttyaning wak, pat kwehnya, pratyekanya ujar ahala, ujar apregas ujar pisuna, ujar mitya, nahan yang pat singgahananing wak, tan ujarakena, tan angina-ngenan kojarannya. Artinya perkataan yang tidak patut dan harus dihindari ada empat banyaknya yaitu perkataan jahat, perkataan kasar menghardik, perkataan memfitnah dan perkataan bohong (tidak dapat dipercaya). 3) Kayika parisudha artinya perbuatan yang baik atau suci. Disebutkan dalam Sarasamuccaya sloka 76: Nihan yang tan ulahakena, syamatimati mangahalahal, si paradara, nahan tang telu tan ulahakena ring asing ring parihasa, ring apatkala, ri pangipyan tuwi singgahana jugeka Artinya perbuatan yang tidak patut dilakukan ada tiga banyaknya yaitu membunuh, mencuri, dan berbuat zina. Ketiganya itu jangan hendaknya dilakukan terhadap siapapun, baik secara berolok-olok, bersendau gurau, baik dalam keadaan dirundung malang, keadaan darurat dalam khayalan sekalipun, hendaknya dihindari semua itu. Tri Kaya Parisudha merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan yang akan memberikan tuntunan dan jalan menuju pada kedamaian. Menurut Sudharta dan Atmaja (2001:53) tri kaya parisudha adalah tiga dasar perilaku manusia yang harus disucikan yaitu manacika, wacika dan kayika. Dengan adanya pikiran yang baik akan timbul perkataan yang baik sehingga mewujudkan perbuatan yang baik. Dengan demikian haruslah kita pupuk satunya pikiran, perkataan dan perbuatan yang baik dan suci sebagai dasar perilaku kita. Pada dasarnya perkataan dan perbuatan bersumber atau berawal dari pikiran, kemudian pikiran yang baik akan menuntun manusia untuk berkata dan berbuat baik pula. Dari prinsip tersebut, maka yang paling awal harus dikendalikan individu adalah pikirannya. Hal-hal yang mempengaruhi pikiran harus selalu terjaga, seperti kestabilan jiwa atau emosi. Dengan jiwa yang tenang, individu akan dapat mengendalikan pikirannya sehingga dapat berpikir dengan jernih yang pada akhirnya akan tercermin pada perkataan yang baik dan perbuatan yang baik. Filosofi tri kaya parisudha pada umumnya memang hanya dikenal oleh masyarakat Hindu Bali. Namun ajaran-ajaran etika untuk berpikir, berkata dan berbuat baik seperti yang terkandung di dalam filosofi tri kaya parisudha juga terdapat pada ajaran agama lainnya yang menuntun manusia dalam menentukan hal yang baik dan buruk dalam berperilaku. Tarigan (2007:33) menyatakan bagi umat Buddha, kebahagiaan dan kesengsaraan hidup dimaknai sebagai akibat dari segala perbuatan atau karma, ucapan dan pikiran di masa lalu. Dalam kitab Dhammapada umat Buddha ditulis bahwa perbuatan tidaklah membeku seperti air susu yang mengental, akan tetapi membara seperti api menjalar mengikuti si pembuat. Siapa yang berbuat jahat, berpikir jahat dan berkata jahat, maka penderitaan akan menimpanya, mengikutinya ibarat roda pedati yang mengikuti jejak lembu yang menariknya. Sebaliknya siapa yang berbuat baik, berpikir maupun berkata baik maka kebahagiaan akan menyusulnya ibarat bayangan tak terlepas dari benda yang bersangkutan. Kutipan dan pernyataan dalam kitab suci agama tersebut dapat membuktikan bahwa pada dasarnya semua agama memiliki ajaran kebajikan yang menuntun setiap individu untuk berperilaku etis. Jika dalam Hindu Bali dikenal dengan ajaran tri kaya parisudha maka pada agama lain disebutkan dengan istilah berbeda namun memiliki nilai moral dan tujuan yang sama yaitu menuntun manusia untuk berperilaku etis.