Kepuasan kerja (job satisfaction) adalah suatu sikap seseorang terhadap
pekerjaan sebagai perbedaan antara banyaknya ganjaran yang diterima pekerja dan banyaknya yang diyakini yang seharusnya diterima (Robbin, 1996 dalam Sinta Setiana, 2006:34) menyatakan bahwa kepuasan kerja memiliki tiga dimensi.
Kedua, kepuasaan kerja sering ditentukan oleh sebagaimana hasil kerja memenuhi atau melebihi harapan seseorang. Ketiga, kepuasan kerja mencerminkan hubungan berbagai sikap lainnya dari para individual.
Kepuasaan kerja (job satisfaction) adalah keadaan emosional yang
menyenangkan dan tidak menyenangkan dengan mana para karyawan
memandang pekerjaan mereka. Kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang
terhadap pekerjaannya.
Menurut Luthans (1995) dalam Shorea Dwarawati (2005 :41), kepuasan
kerja adalah keadaan emosional yang menyenangkan atau positif yang dihasilkan
dari penilaian kerja seseorang atau pengalaman kerja seseorang. Kepuasan kerja merupakan hasil dari persepsi seseorang mengenai seberapa baik pekerjaan mereka memberikan sesuatu yang dipandang penting. Ada tiga dimensi penting dalam kepuasan kerja, yaitu :
1. Kepuasan kerja adalah sebuah respon emosional terhadap situasi kerja
2. Kepuasan kerja sering ditentukan oleh seberapa baik outcome kurang atau
melebihi pengharapan,
3. Kepuasan kerja menggambarkan beberapa perilaku yang berhubungan
Kepuasan kerja adalah seperangkat perasaan pegawai tentang
menyenangkan atau tidaknya pekerjaan mereka. Kepuasan kerja adalah perasaan
senang atau tidak senang yang relatif berbeda dari pemikiran obyektif dan
keinginan perilaku. Kepuasan kerja menunjukkan kesesuaian antara harapan
seseorang yang timbul dan imbalan yang disediakan pekerjaan, jadi kepuasan
kerja juga berhubungan erat dengan teori keadilan.
Menurut Gibson (2000) dalam Shorea Dwarawati (2005:42), kepuasan
kerja adalah suatu sikap yang dipunyai individu mengenai pekerjaannya. Hal ini
dihasilkan dari persepsi mereka terhadap pekerjaannya, didasarkan pada faktor
lingkungan kerja, seperti gaya penyedia, kebijakan dan prosedur, afiliasi
kelompok kerja dan tunjangan. Sementara banyak dimensi telah dihimpun dari
kepuasan kerja, ada lima hal yang terutama mempunyai karakteristik penting,
yaituMenurut Gibson (2000) dalam Shorea Dwarawati (2005:42), kepuasan kerja adalah suatu sikap yang dipunyai individu mengenai pekerjaannya. Hal ini
dihasilkan dari persepsi mereka terhadap pekerjaannya, didasarkan pada faktor lingkungan kerja, seperti gaya penyedia, kebijakan dan prosedur, afiliasi
kelompok kerja dan tunjangan. Sementara banyak dimensi telah dihimpun dari
kepuasan kerja, ada lima hal yang terutama mempunyai karakteristik penting,
yaitu :
1. Pembayaran : suatu jumlah yang diterima dan keadaan yang dirasakan dari
pembayaran,
2. Pekerjaan : sampai sejauh mana tugas kerja dianggap menarik dan
memberikan kesempatan untuk belajar dan untuk menerima tanggung jawab;
3. Kesempatan promosi : adanya kesempatan untuk maju;
4. Penyedia : kemampuan penyedia untuk memperlihatkan ketertarikan dan
perhatian kepada pekerja
5. Rekan sekerja : sampai sejauh mana rekan sekerja bersahabat, kompeten dan mendukung.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja menurut Robbins (1999)
dalam Shorea Dwarawati (2005 : 47) adalah pekerjaan yang menantang,
penghargaan yang sepadan, kondisi kerja yang mendukung dan rekan kerja yang
mendukung serta kesesuaian antara pekerjaan dengan kepribadian individu. Dapat
dijelaskan sebagai berikut :
1. Pekerjaan yang menantang
Pekerjaan yang memberikan kesempatan kepada mereka untuk menawarkan
berbagai macam tugas, kebebasan dan feedback atas pekerjaan mereka.
Karyawan yang mengendalikan pekerjaan mereka akan lebih puas bekerja
daripada karyawan yang dikendalikan oleh mesin.
2. Penghargaan yang sepadan
Promosi menawarkan kesempatan untuk pertumbuhan pribadi, tanggung
jawab yang lebih besar dari peningkatan status sosial.
3. Kondisi kerja yang mendukung
Adanya lingkungan kerja yang sesuai dengan individu, dukungan atasan
untuk bekerja lebih baik sehingga terciptanya kenyamanan kerja pribadi dan
kepuasan kerja.
4. Rekan kerja yang suportif
Rekan kerja yang ramah dan penuh dukungan perilaku atasan, seperti
mendengarkan pendapat karyawan dan menunjukkan ketertarikan pribadi
terhadap karyawan
5. Kesesuaian pekerjaan dengan kepribadian individu
Bakat dan kemampuan yang dimiliki sesuai dengan tuntutan pekerjaan, dan
bisa mengekspreikan diri dalam pekerjaannya.
Sedangkan faktor-faktor yang menberikan kepuasan kerja menurut Blum
(1956) adalah sebagai berikut :
1. Faktor individual, meliputi umur, kesehatan, watak, dan harapan
2. Faktor sosial, meliputi hubungan kekeluargaan, pandangan masyarakat,
kesempatan berekreasi, kegiatan perserikatan pekerja, kebebasan berpolitik,
dan hubungan bermasyarakat.
3. Faktor utama dalam pekerjaan, meliputi upah, pengawasan, ketentraman
kerja, kondisi kerja, dan kesempatan kerja untuk maju. Selain itu juga
penghargaan terhadap kecakapan, hubungan sosial didalam pekerjaan,
ketepatan dalam menyelesaikan konflik antar manusia, perasaan
diperlakukan adil baik yang menyangkut pribadi atau tugas (Moh. As’ad,
1995:114)
Dari berbagai pendapat diatas dapat dirangkum mengenai faktor-faktor
yang mempengaruhi kepuasan kerja yaitu : (Moh. As’ad, 1995:115-116)
1. Faktor psikologi, merupakan faktor yang berhubungan dengan kejiwaan
karyawan yang meliputi minat, ketentraman dalam bekerja, sikap terhadap
kerja, bakat, dan keterampilan
2. Faktor sosial merupakan faktor yang berhubungan dengan interaksi sosial
baik antar sesama karyawan, dengan atasannya, maupun karyawan yang
berbeda jenis pekerjaannya.
3. Faktor fisik merupakan faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik
lingkungan kerja dan kondisi fisik karyawan, meliputi jenis pekerjaan,
pengaturan waktu kerja, dan waktu istirahat, perlengkapan kerja, keadaan
ruangan, suhu, penerangan, pertukaran udara, kondisi kesehatan karyawan,
umur dan sebagainya.
4. Faktor finansial, merupakan faktor yang berhubungan erat dengan jaminan
sosial, macam-macam tunjangan, fasilitas yang diberikan, promosi dan
sebagainya.
Kepuasan kerja juga dipengaruhi oleh fungsi dan level karyawan dalam
organisasi. Karyawan pada level tingkat tinggi ,erasa lebih puas karena memiliki
otonomi yang lebih besar, pekerjaan lebih bervariasi serta memiliki kebebasan
dalam penilaian. Karyawan pada level bawah lebih mungkin mengalami
ketidakpuasan dan kebebasan. Hal itu juga terjadi pada karyawan yang
berpendidikan tinggi yang diberikan pekerjaan tetapi tidak sepadan dengan
kemampuan dan keahliannya. Ketidakpuasan dan kebosanan juga bisa terjadi pada
karyawan yang menghendaki status sosial yang tinggi dalam pekerjaan, sehingga
mereka mencari pekerjaan yang memberikan tanggung jawab yang besar (Shorea
Dwarawati, 2005:48)
