Perusahaan perlu tampil maksimal dalam kinerja karena sulit bertahan dalam persaingan tinggi. Untuk bertahan dalam persaingan, kunci utamanya adalah kinerja dengan kualitas bagus sehingga perusahaan harus melakukan kinerja berkualitas tinggi.Kemampuan studi organisasi dan konsep ambidexterity diterima sebagai faktor yang memberikan kinerja perusahaan yang tinggi. Organisasi dapat menggunakan cara yang berbeda untuk aktivitas studi. Organisasi memori (organizational memory) kadang didesain ulang untuk mendapatkan pengetahuan baru. Selain itu, mereka menggunakan cara baru untuk mempelajari pengetahuan baru (Cheryl, 1997). Ada dua inovasi yang berbeda sebagai hasil dari pembelajaran organisasi, yaitu inovasi eksploitatif dan eksplorasi. Inovasi eksploitatif didefinisikan sebagai pengembangan pengetahuan, kemampuan dan proses terkini (March, 1991). Dasar inovasi eksploitatif terdiri dari peningkatan teknologi dan gagasan saat ini. Beberapa modifikasi dasar pada metode yang digunakan sebelumnya mencakup inovasi eksploitatif (Jansen et al., 2006; Cheryl, 1997). Inovasi eksplorasi didefinisikan sebagai mengeksplorasi pengetahuan, talenta dan proses baru (March, 1991). Kebutuhan akan keseimbangan yang tepat antar eksplorasi dan eksploitasi telah disimpulkan oleh kesimpulan Tuckman & O’Relly mengenai ambidextrous organization (He & Wong, 2004). Mereka berpendapat bahwa sebuah perusahaan ambidextrous yang mampu beroperasi secara simultan untuk eksplorasi dan eksploitasi kemungkinan mencapai kinerja superior sehingga perusahaan menekankan satu dengan mengorbankan yang lain (Tushman & O’Relly’s, 1996).
Menurut Katila dan Ahuja, keberadaan akan kemampuan eksploitasi seringkali dibutuhkan untuk mengeksplorasi kemampuan baru dan kemampuan eksplorasi baru juga meningkatkan dasar pengetahuan perusahaan yang ada (Katila dan Ahuja, 2002). Akhirnya, menurut hasil penemuan, inovasi eksplorasi dan inovasi eksploitasi saling berhubungan satu sama lain sehingga perusahaan harus melakukan menyeimbangkan kemampuan eksplorasi dan eksploitatif. Jika keseimbangan tidak dilakukan, perusahaan mungkin jatuh ke dalam perangkap sukses atau perangkap gagal. Perangkap sukses (A success trap) dapat didefinisikan tiap inovasi eksplorasi dan eksploitasi berhasil membuat organisasi membuat penemuan baru lainnya. Beberapa penemuan eksplorasi mungkin tidak berlaku setelah penemuan eksplorasi (Levinthal & March, 1993). Karena itu, inovasi eksploitasi tidak berguna saat inovasi eksplorasi tiba-tiba menonjol (Shekhar, 1996; Levinthal dan March, 1993). Ketika organisasi menganggap diri mereka tidak berhasil akibat inovasi eksplorasi yang diterapkan, mereka mengambil resiko lebih untuk menyelamatkan organisasi agar mudah diaplikasikan. Oleh karena itu organisasi dengan mudah menerapkan inovasi eksplorasi agar tidak gagal berikutnya. Selain itu, organisasi dapat melakukan inovasi eksploratif secara berurutan. Kegagalan secara berurutan disebut sebagai perangkap gagal (fail trap). Organisasi, yang hanya fokus pada inovasi eksplorasi, mungkin akan kecewa karena organisasi ini hanya bisa menerapkan inovasi eksplorasi. Selain itu, organisasi lain mungkin meniru penemuan ini dan menyebabkan hilangnya keunggulan persaingan (Shekhar, 1996; Levinthal & March, 1993; Henrich, 2007; March, 1991). Karena keseimbangan yang diperlukan antara inovasi eksplorasi dan eksploitatif, perusahaan harus menggunakan dua di antaranya dan menyeimbangkan antar keduanya (He & Wong, 2004)
