Teori ini pertama kali dikenalkan oleh Donaldson pada tahun
1961, dalam Pecking Order Theory manajer konsisten dengan tujuan
utama perusahaan yaitu memakmurkan kekayaan pemegang saham.
Pada Pecking Order Theory mengatakan bahwa perusahaan lebih
cenderung memilih pendanaan yang berasal dari internal dari pada
eksternal perusahaan. Penggunaan dana internal lebih didahulukan
dibandingkan dengan penggunaan dana yang bersumber dari eksternal.
Penggunaan sumber pendanaan eksternal oleh perusahaan dilakukan
apabila sumber internal tidak mencukupi. Urut-urutan yang
dikemukakan oleh teori ini dalam hal pendanaan yaitu laba ditahan,
kemudian hutang, dan yang terakhir adalah penerbitan saham sebagai
pilihan terakhir (Pithaloka, 2009).
Secara spesifik, perusahaan mempunyai urutan-urutan preferensi
dalam penggunaan dana. Skenario urutan dalam Pecking Order Theory
adalah sebagai berikut:
1) Perusahaan memilih pendanaan internal. Dana internal tersebut
diperoleh dari laba (keuntungan) yang dihasilkan dari kegiatan
perusahaan.
2) Perusahaan menghitung target rasio pembayaran didasarkan pada
perkiraan kesempatan investasi. Perusahaan berusaha menghindarai
perubahan dividen yang tiba-tiba. Dengan kata lain, pembayaran
dividen diusahakan konstan atau, kalau berubah terjadi secara
gradual dan tidak berubah signifikan.
3) Karena kebijakan dividen yang konstan (sticky), digabungkan
dengan fluktuasi keuntungan dan kesempatan investasi yang tidak
bisa di prediksi, akan menyebabkan aliran kas yang diterima oleh
perusahaan akan lebih besar dibandingkan dengan pengeluaran
investasi pada saat-saat tertentu, dan akan lebih kecil pada saat yang
lain. Jika kas tersebut lebih besar, perusahaan akan membayar utang
atau membeli surat berharga. Jika kas tersebut kecil, perusahaan
akan menggunakan kas yang dipunyai atau menjual surat berharga.
4) Jika pendanaan eksternal diperlukan, perusahaan akan
mengeluarkan surat berhargayang paling aman terlebih dahulu.
Perusahaan akan memulai dengan hutang, kemudia dengan surat
berharga campuran (hybrid) seperti obligasi konvertibel, dan
kemudian barangkali saha sebagai pilihan terakhir
