Tingkat Hutang (skripsi dan tesis)

Menurut Nurochman dan Solikhah (2015) tingkat hutang diartikan sebagai jumlah hutang atau tinggi rendahnya hutang yang dihasilkan oleh suatu perusahaan. Tingkat hutang dikatakan sebagai salah satu bagian penting dalam laporan keuangan yang memberikan pengaruh terhadap minat investor. Kusuma dan Sadjiarto (2014) mengatakan   bahwa investor memiliki sikap yang cenderung hati-hati jika ingin melakukan investasi terhadap perusahaan dengan jumlah tingkat hutang yang besar. Sudana (2009) menyatakan bahwa hutang (leverage) disebabkan karena perusahaan dalam beroperasi cenderung memakai aktiva dan sumber dana yang menyebabkan timbulnya biaya tetap. Menurut FASB (Financial Accounting Standard Board) hutang diartikan sebagai manfaat ekonomi yang dikorbankan di masa akan datang yang disebabkan karena timbulnya kewajiban sekarang sehingga suatu entitas memberikan aktiva atau jasa kepada entitas lain di masa yang akan datang sebagai konsekuensi transakasi yang terjadi di masa lampau. Scott (2003) mengatakan bertambah besarnya tingkat hutang maka akan bertambah besar juga bagian laba dari perusahaan yang akan diserahkan ke kreditur dibandingkan bagian laba yang diserahkan kepada pemegang saham. Saputra (2003) mengemukakan bahwa tingkat hutang merupakan besaran tingkat penggunaan hutang jangka panjang oleh suatu perusahaan. Semakin besar tingkat hutang jangka panjang yang dihasilkan oleh suatu perusahaan demi kepentingan pembiayaan aktiva perusahan akan memperlihatkan kestabilan perusahaan tersebut. Hal ini berarti bahwa tingkat hutang dapat mempengaruhi kestabilan peusahaan, semakin tinggi tingkat hutang suatu perusahaan, maka   perusahaan akan lebih mampu membiayai aktiva operasional perusahaan sehingga perusahaan akan cenderung lebih stabil. Fanani (2010) berpendapat bahwa perusahaan akan cenderung meningkatkan persistensi labanya apabila perusahaan memiliki tingkat hutang yang tinggi. Hal ini dilakukan untuk menjaga kinerja yang baik dimata auditor serta investor, karena investor akan cenderung lebih mempercayai perusahaan dinilainya memiliki kinerja yang baik. Menurut Sulastri (2014), perusahaan dengan tingkat huang yang cenderung tinggi akan melakukan peningkatan persistensi labanya demi menjaga kinerja perusahaannya. Kinerja yang baik menurut kreditor dan investor yaitu mereka tetap dapat mempercayai perushaan tersebut, tetap mengalirkan dana, serta perusahaan memiliki kemampuan bayar yang mudah dan lancar. Menurut Tarjo (2008), hutang adalah salah satu cara perusahaan dalam memperoleh dana selain melakukan penjualan saham di pasar modal, namun adanya hutang mencerminkan kurang baiknya kinerja perusahaan. Tingkat hutang yang besar menimbulkan tingginya risiko pada kreditor terkait ketidakmampuan perusahaan dalam proses pembayaran hutang