Persistensi laba adalah laba yang mampu dijadikan sebagai indikator laba pada tahun yang akan datang (future earnings) yang dicapai oleh perusahaan secara berulang dan berkelanjutan (Hayati, 2014). Menurut Fanani (2010) persistensi laba adalah besaran laba yang mencerminkan kemampuan perusahaan untuk membuat laba yang dicapai saat ini dapat bertahan hingga masa yang akan datang. Persistensi laba merupakan revisi dalam laba akuntansi yang diharapkan di masa mendatang (expected future earnings) yang diimplikasikan oleh inovasi laba tahun berjalan serta dihubungkan dengan perubahan harga saham, besarnya revisi ini menunjukkan tingkat persistensi laba (Penman, 2001). Hal tersebut serupa dengan pendapat yang dikemukakan oleh Meyti (2006) bahwa persistensi laba adalah revisi laba yang diharapkan di masa depan yang tercermin dari laba tahun berjalan. Persistensi laba diartikan sebagai alat untuk mengukur kualitas suatu laba, serta laba yang dianggap memiliki kualitas adalah laba yang mampu bertahan di masa depan, maka laba akan dikatakan persisten apabila laba tersebut tidak mengalami fluktuasi atau cenderung lebih stabil dari tahun ke tahun (purwanti, 2010).
Persistensi laba memiliki peran yang cukup penting dalam menghasilkan suatu informasi yang andal, dimana informasi yang dihasilkan akan dikatakan memiliki keandalan apabila informasi tersebut dapat membantu pihak-pihak yang membutuhkan informasi tersebut dalam mengambil keputusan terkait keputusan ekonomi, diantaranya dapat berupa keputusan invenstasi (investment decision), keputusan kontak (contracting decision) dan pembuat standar (standartd setters). Informasi yang disajikan juga memiliki kaitan erat dengan suatu relevansi, yang artinya bahwa suatu informasi akan dinyatakan relevan jika informasi yang disajikan dapat digunakan untuk melakukan evaluasi terhadap peristiwa masa lalu, masa kini dan masa depan. Briliane (2012) berpendapat bahwa persistensi laba merupakan ukuran terkait kemampuan probabilitas laba akan terulang di masa yang akan datang. Perusahaan dikatakan akan menerima arus kas yang tinggi di masa akan datang apabila perusahaan memiliki tingkat persistensi yang tinggi pula. Persistensi laba adalah salah satu indikator pengukur kualitas laba dimana laba yang memiliki kualitas tercermin dari kemampuan laba (sustainable earnings), sehingga laba yang persisten akan terlihat lebih stabil atau tidak terdapat fluktuasi tajam pada periode tersebut (Alamsyah, 2014)
