Persistensi laba adalah revisi laba yang diharapkan di masa mendatang (expected future earnings) yang diimplikasikan oleh laba tahun berjalan yang dihubungkan dengan perubahan harga saham (Scott, 2009 dalam Asma, 2013). Semakin permanen laba dari waktu ke 53 waktu semakin tinggi earnings response coefficientnya. Hal ini mengindikasikan laba yang diperoleh perusahaan tersebut meningkat terus menerus. Persistensi laba sering digunakan sebagai pertimbangan kualitas laba karena persistensi laba merupakan komponen dari karakteristik kualitatif relevansi yaitu predictive value (Jonas dan Blanchet, 2000 dalam Persada dan Martani, 2010). Berdasarkan pada penjelasan diatas maka sangat penting bagi peneliti untuk melakukan analisis atas faktor –faktor yang dapat mempengaruhi persistensi suatu laba. Variabel volatilitas arus kas, besaran akrual, volatilitas penjualan, tingkat hutang dan siklus operasi diduga dapat mempengaruhi persistensi laba secara signifikan. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Fanani (2010) yang menyatakan bahwa variabel volatilitas arus kas, besaran akrual, dan volatilitas penjualan, tingkat hutang, dan siklus operasi secara simultan berpengaruh signifikan terhadap persistensi laba, kecuali variabel siklus operasi yang menunjukan tidak berpengaruh signifikan. Penelitian kedua dilakukan oleh Barus dan Rica (2014) yang menyatakan bahwa variabel aliran kas operasi, book-tax gap, dan tingkat hutang secara simultan berpengaruh signifikan terhadap persistensi laba. Penelitian ketiga dilakukan oleh Indra (2014), menyatakan bahwa volatilitas arus kas, besaran akrual, dan volatilitas penjualan secara simultan berpengaruh signifikan terhadap persistensi laba
