Pengaruh Siklus Operasi terhadap Persistensi Laba (skripsi dan tesis)

Siklus operasi adalah periode waktu rata-rata antara pembelian persediaan dengan pendapatan kas yang nantinya akan diterima penjual, atau rangkaian seluruh transaksi dimana suatu bisnis menghasilkan penerimaannya dan penerimaan kasnya dari pelanggan (Fanani, 2010). Siklus operasi bersinggungan langsung dengan laba perusahaan, hal ini dikarenakan ada faktor penjualan di dalam siklus operasi (Purwanti, 2010). Persistensi laba adalah revisi laba yang diharapkan di masa mendatang (expected future earnings) yang diimplikasikan oleh laba tahun berjalan yang dihubungkan dengan perubahan harga saham (Scott, 2009 dalam Asma, 2013). Semakin permanen laba dari waktu ke waktu semakin tinggi earnings response coefficientnya. Hal ini mengindikasikan laba yang diperoleh perusahaan tersebut meningkat  terus menerus. Persistensi laba sering digunakan sebagai pertimbangan kualitas laba karena persistensi laba merupakan komponen dari karakteristik kualitatif relevansi yaitu predictive value (Jonas dan Blanchet, 2000 dalam Persada dan Martani, 2010). Fanani (2010) meneliti analisa faktor-faktor penentu persistensi laba dan berpendapat bahwa siklus operasi tidak berpengaruh signifikan terhadap persistensi laba. Perusahaan yang memiliki siklus operasi yang lama dapat menimbulkan ketidakpastian, estimasi dan kesalahan estimasi yang makin besar yang dapat menyebabkan persistensi laba yang rendah. Siklus operasi yang lebih lama menyebabkan ketidakpastian yang lebih besar, membuat akrual lebih terganggu (noise) dan kurang membantu dalam memprediksi aliran kas di masa yang akan datang