Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Penalaran Moral (skripsi dan tesis)

Suatu faktor penting dalam perkembangan penalaran moral adalah
faktor kognitif, terutama kemampuan berfikir abstrak dan luas (Budiningsih,
2001; 32). Adapun faktor lain yang dapat mempengaruhi perkembangan
moral seseorang anak juga banyak dipengaruhi oleh lingkungannya. Anak
memperoleh nilai-nilai moral dari lingkungannya, terutama dari orang tua.
Dia belajar untuk mengenal nilai-nilai dan berperilaku sesuai dengan niai
tersebut dalam mengembangkan moral anak, peranan orang tua sangatlah
penting terutama pada waktu anak masih kecil. Beberapa sikap orang tua yang
perlu diperhatikan sehubungan dengan perkembangan moral anak,
diantaranya sebagai berikut:
a. Konsisten dalam mendidik anak
Ayah dan ibu harus memiliki sikap dan perlakuan yang sama dalam
melarang atau membolehkan tingkah laku tertentu pada anak.
b. Sikap orang tua dalam keluarga
Secara tidak langsung, sikap orang tua terhadap anak, sikap ayah
terhadap ibu dan sebaliknya, dapat mempengaruhi perkembangan
moral anak, yaitu melaui proses peniruan (imitasi). Sikap orang tua
yang keras (otoriter) cenderung melahirkan sikap disiplin semua
pada anak, sedangkan sikap yang acuh tak acuh, cenderung
mengembangkan sikap kurang bertanggung jawab dan kurang
memperdulikan norma pada diri anak. Sikap yang sebaiknya
dimiliki oleh orang tua adalah sikap kasih sayang, keterbukaan,
musyawarah dan konsisten.
c. Penghayatan dan pengalaman agama yang dianut
Orang tua merupakan panutan bagi anak, termasuk disini panutan
dalam mengamalkan ajaran agama. Orang tua yang menciptakan
iklim yang agamis, dengan cara membersihkan ajaran atau
bimbingan tentang nilai-nilai agama kepada anak, maka anak akan
mengalami perkembangan moral yang baik.
d. Sikap konsisten orang tua dalam menerapkan norma
Apabila orang tua mengajarkan kepada anak, agar berperilaku jujur,
bertutur kata yang sopan, bertanggung jawab atau taat beragama,
tetapi orang tua sendiri menampilkan perilaku yang sebaliknya,
maka anak akan mengalami konflik pada dirinya, dan menggunakan
ketidak konsistenan (ketidak ajegan) orang tua sebagai alasan untuk
tidak melakukan apa yang diinginkan oleh orang tuanya, bahkan
mungkin dia akan berperilaku seperti orang tua.