Perkembangan Penalaran Moral (skripsi dan tesis)

Hurlock (1980: 225) menyebutkan bahwa salah satu tugas
perkembangan penting yang harus dikuasai remaja adalah mempelajari apa
yang diharapkan oleh kelompok dari padanya dan kemudian mau
membentuk perilakunya agar sesuai dengan harapan social tanpa harus
dibimbing, diawasi, didorong dan diancam hukuman seperti yang dialami
saat kanak-kanak. Remaja diharapkan mampu mengganti konsep-konsep
moral yang berlaku khusus di masa kanak-kanak dengan prinsip moral yang
berlaku umum dan merumuskannya ke dalam kode moral yang akan
berfungsi sebagai pedoman bagi perilakunya. Tak kalah pentingnya,
sekarang remaja harus mengendalikan perilakunya sendiri, yang
sebelumnya menjadi tanggung jawab orang tua dan guru.
Pada masa remaja, laki-laki dan perempuan telah mencapai apa yang
disebut oleh Piaget sebagai tahap pelaksanaan formal dalam pelaksanaan
kognitif. Sekarang remaja mampu mempertimbangkan semua kemungkinan
untuk menyelesaikan suatu masalah dan mempertanggungjawabkannya
berdasarkan suatu hipotesis atau proposisi. Jadi ia dapat memandang
masalahnya dari berbagai sudut pandang dan menyelesaikannya dengan
mengambil banyak factor sebagai bahan pertimbangan.
Penentuan perilaku moral seseorang antara yang satu dengan yang lain
tidak selalu sama. Hal ini mengindikasikan adanya perkembangan moral.
Perkembangan moral adalah perubahan dari standar tersebut dari waktu ke
waktu. Perkembangan moral menentukan bagaimana seorang individu
menilai dunia luarnya, perkembangan moral ini membedakan antara anak
kecil dan orang dewasa dalam hal penilaian baik buruk sebuah perilaku.
Perkembangan moral tergantung dari perkembangan kecerdasan. Ia
terjadi dalam tahapan yang dapat diramalkan yang berkaitan dengan tahapan
dalam perkembangan kecerdasan. Berubahnya kemampuan menangkap dan
mengerti, anak-anak bergerak ke tingkat perkembangan moral yang lebih
tinggi. Sementara urutan tahapan perkembangan moral tetap, usia anak
mencapai tahapan ini berbeda menurut tingkat perkembangan kecerdasan
mereka (Hurlock, 1993;79).
Pada waktu perkembangan kecerdasan mencapai tingkat
kematangannya, perkembangan moral juga harus mencapai tingkat
kematangannya. Bila hal ini tidak terjadi, individu dianggap sebagai seorang
yang tidak matang secara moral. Yakni seseorang yang secara intelektual
mampu berperilaku moral secara matang, namun berperilaku moral pada
tingkat seorang anak (Hurlock, 1993;79).
Telaah-telaah mengenai perkembangan moral telah menekankan
bahwa cara yang efektif bagi semua orang untuk mengawasi perilakunya
sendiri adalah melalui pengembangan suara hati, yaitu kekuatan ke-dalam
(batiniah) yang tidak memerlukan pengendalian lahiriah. Dalam diri
seseorang yang mempunyai moral yang matang, selalu ada rasa bersalah dan
malu. Namun, rasa bersalah berperan lebih penting daripada rasa malu
dalam mengendalikan perilaku apabila pengendalian lahiriah tidak ada.
Hanya sedikit remaja yang mampu mencapai tahap perkembangan moral
yang demikian sehingga remaja tidak dapat disebut secara tepat sebagai
“orang yang matang secara moral” (Hurlock, 1980: 226).
Menurut Santrock, perkembangan moral berhubungan dengan
peraturan-peraturan dan kesempatan mengenai apa yang harus dilakukan
seseorang dalam interaksinya dengan orang lain (Santrock, 2003;439).
Kohlberg menyatakan bahwa perkembangan moral adalah tahapan atau
tatanan pertimbangan tentang keadilan (D. Hamid, 2006;44).