Pada tanggal 20 – 22 Juni 1992, para pemimpin kepala Negara serta
pemimpin bisnis dunia berkumpul di Rio de Janeiro, Brasil untuk melakukan
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) tentang bumi (Earth Summit). Pada KTT
tersebut, mereka menyepakati konsep baru dalam model pembanguan dunia yaitu
Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development). Dalam konsep baru
tersebut dinyatakan bahwa pembangunan berkelanjutan (sustainable development)
adalah pembangunan yang menyelaraskan kepentingan ekonomi, sosial dan
lingkungan pada generasi sekarang tanpa mengorbankan kepentingan generasi
mendatang untuk menjalani kehidupan yang layak (United Nations General
Assembly, 1987; Panayotou, 1994; Benn dan Bolton, 2011).
Melakukan cara-cara yang bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan
pada aktivitas industry, bisnis, korporasi serta praktik manajemen produksi, operasi,
keuangan, akuntansi dan praktik lainya dalam upaya meningkatkan pertumbuhan
ekonomi dan laba bisnis merupakan Inti dari konsep berkelanjutan. (Suryo Sakti
Hadiwijoyo & Anisa, 2019) Sustainable development memiliki 17 tujuan, dari 169
target dan 241 indikator. Tujuan-tujuan tersebut antara lain:
- Menghapus segala bentuk kemiskinan
- Mengakhiri kelaparan
- Pekerjaan yang layak dan pertumbuhan ekonomi
- Kehidupan sehat dan sejahtera
- Pendidikan berkualitas
- Air bersih dan sanitasi layak
- Energy bersih dan terjangkau
- Berkurangnya kesenjangan
- Penanganan perubahan iklim
- Kesetaraan gender
- Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab
- Ekosistem laut dan ekosistem darat
- Perdamaian, keadilan dan kelembagaan yang tangguh
- Industry, inovasi dan infrastruktur
- Mengurangi ketimpangan dalam dan antar Negara
- Kota dan komunitas berkelanjutan
- Kemitraan untuk mencapai tujuan
Tujuan dari konsep keberlanjutan yang diterapkan pada perusahaan adalah
mempertahankan kelangsungan hidup usahanya baik saat ini maupun dimasa depan.
Berdasarkan laman resmi GRI, tertulis bahwa “Sumber daya yang diperbarui
sekarang tersedia untuk membantu perusahaan melaporkan kemajuan dalam
mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development) PBB
melalui standar GRI.” Sehingga, untuk dapat berkontribusi positif terhadap
tercapainya sustainable development, perusahaan dapat menggunakan parameter
standar pelaporan Global Reporting Initiative (GRI). Penelitian ini menggunakan
GRI 200 yang merangkum topik ekonomi dimana topik ekonomi ini menilai sejauh
mana suatu perusahaan dapat menjalankan kegiatan ekonominya secara efektif dan
efisien, GRI 300 topik lingkungan. Topik khusus ini melihat bagaimana perusahaan
menjaga keseimbangan dan integritas lingkungan dan menjalankan kegiatan
operasionalnya, dan GRI 400 topik Sosial. Dimana topik sosial ini melihat
bagaimana perusahaan terus memberikan umpan balik positif bagi masyarakat dan
karyawan. Umpan balik positif dapat diciptakan dengan berbagai cara, seperti
memberdayakan masyarakat sekitar untuk menumbuhkan kreativitas (Priyo &
Haryanto, 2022)
