Teori Keagenan (Agency Theory)


Menurut Scott (2015:358), teori keagenan adalah suatu yang mempelajari desain
sebuah kontrak untuk bertindak sesuai dengan keinginan principal pada saat
memotivasi agen untuk bertindak sesuai dengan keinginan principal pada saat agen
mempunyai kepentingan yang bertolak belakang dengan principal.
Menurut Jensen and Meckling (1976) bahwa dalam hubungan keagenan terdapat
konflik kepentingan antara principal dan agen. Konflik tersebut terjadi karena
kemungkinan agen bertindak tidak sesuai dengan kepentingan principal, sehingga
muncul adanya biaya keagenan. Prinsipal adalah pemegang saham atau investor,
sedangkan agen adalah manajemen yang mengelola perusahaan atau manajer. Inti dari
hubungan keagenan adalah adanya pemisahan fungsi antara kepemilikan di investor
dan pengendalian di pihak manajemen.
Berdasarkan teori keagenan yang dikemukakan di atas, hubungan yang tercipta
antara pemegang saham sebagai prinsipal dan manajer sebagai agen didasari karena
adanya kontrak yang berisikan semua hak dan tanggung jawab principal dan agent,
dimana principal memberi wewenang kepada manajer (agent) untuk menjalankan
perusahaan. Prinsipal akan mempercayakan semua aktivitas perusahaan dan
mendelegasikan beberapa wewenang pengambilan keputusan kepada manajer. Adanya
pemisahan antara kepemilikan dan pengelolaan dalam suatu perusahaan, dapat
menimbulkan permasalahan keagenan, yaitu munculnya konflik antara pemilik /
pemegang saham dan manajer sebagai pengelola perusahaan. Selain itu masing-
masing individu termotivasi untuk memaksimalkan keuntungan bagi dirinya sendiri,
dimana principal ingin mendapatkan return setinggi-tingginya dari investasi yang
dilakukan sehingga hal ini menekan manajer untuk bisa meningkatkan profitabilitas
perusahaan.
Sedangkan manajer ingin mendapatkan insentif berupa bonus yang dijanjikan oleh
principal jika berhasil mencapai target laba perusahaan yang disyaratkan. Maka, hal
ini mendorong agent untuk menampilkan laporan keuangan yang seolah-olah kinerja
perusahaan baik sehingga labanya tinggi, tetapi sebenarnya laba yang tinggi tersebut
tidak mencerminkan kinerja perusahaan sesungguhnya.