Armstrong dan Baron dalam Wibowo (2007: 7) mengemukakan bahwa :
kinerja berasal dari pengertian performance. Ada pula yang memberikan pengertian
performance sebagai hasil kerja atau prestasi kerja. Namun, sebenarnya kinerja
mempunyai makna yang lebih luas, bukan hanya hasil kerja, tetapi termasuk bagaimana
proses pekerjaan berlansung. Kinerja merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai
hubungan yang kuat dengan tujuan strategis organisasi, kepuasan konsumen, dan
memberikan kontribusi pada ekonomi.
Dengan demikian, kinerja adalah tentang melakukan suatu pekerjaan, hasil yang
dicapai dari pekerjaan tersebut dan bagaimana proses dalam melakukan pekerjaan tersebut
yang tentunya berorientasi pada tujuan perusahaan dan kepuasan konsumen. Kinerja
adalah tentang apa yang dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya.
Bacal dalam Wibowo (2007:8) memandang kinerja sebagai :
proses komunikasi yang dilakukan secara terus-menerus dalam kemitraan antara
karyawan dengan atasan lansungnya. Proses komunikasi ini meliputi kegiatan
membangun harapan yang jelas serta pemahaman mengenai pekerjaan yang akan
dilakukan. Proses komunikasi merupakan suatu sistem, memiliki sejumlah bagian yang
semuanya harus diikutsertakan, apabila manajemen kinerja ini hendak memberikan nilai
tambah bagi organisasi, manajer, dan karyawan.
Armstrong dalam Wibowo (2007:8 memiliki pandangan yang berbeda mengenai
kinerja yaitu manajemen kinerja sebagai sarana untuk mendapatkan hasil yang lebih baik
dari organisasi, tim, dan individu dalam suatu kerangka tujuan, standar, dan persyaratanpersyaratan atribut yang disepakati.
Sementara itu Schwartz dalam Wibowo (2007:9) memandang kinerja sebagai gaya
manajemen yang dasarnya adalah komunikasi terbuka antara manajer dan karyawan yang
menyangkut penetapan tujuan, memberikan umpan balik baik dari manajer kepada
karyawan maupun sebaliknya dari karyawan kepada manajer, demikian pula penilaian
penilaian kinerja.
