Karakteristik Budaya Organisasi.


Charles Hampden-Turner dalam Panjaitan (2018: 20-24) menguraikan
karakteristik budaya organisasi sebagai berikut:

  1. Budaya organisasi berasal dari para anggota organisasi yang potensial mereka
    gunakan budaya untuk memperkuat gagasan, perasaan, dan informasi yang
    atau dengan menghasilkan keunggulan.
  2. Budaya organisaai dapat menghasilkan keunggulan. Budaya organisasi
    mewujudkan keinginan dan aspirasi para anggota organisasi, sehingga budaya
    dapat menciptakan lingkungan yang sesuai dengan perasaaan dan gagasan
    mereka. Mereka dapat membantu membentuk norma-norma dan standar yang
    digunakan untuk mereka, menyimpan kategori-kategori untuk mencocokkan
    gagasan mereka, dan menciptakan peran-peran mereka yang harus mereka isi.
    Dampak positif dan budaya, adalah menjadikan lingkungan untuk
    memunculkan potensi para anggota organisasi.
  3. Budaya organisasi adalah suatu penguatan. Budaya membuktikan bahwa tidak
    ada suatu kelompok perusahaan, atau negara yang dapat mengawali
    kegiatannya tanpa memiliki apa-apa. Para anggota harus dibekali dengan
    kepercayaan dan tuntutan. Keberhasilan para anggota organisasi dapat timbul
    karena mereka mengalami saat-saat awal organisasi mulai terbentuk, dan
    bagaimana mereka menciptakan dan mengembangkan norma norma, nilai
    atau prosedur. Budaya organisasi akan kuat jika para anggotanya
    membutuhkan jaminan keamanan dan kepastian.
  4. Penguatan-penguatan budaya organisasi cenderung untuk diperbanyak.
    Tuntutan-tuntutan yang menciptakan budaya dalam organisasi biasanya
    muncul sebelum budaya tersebut menghasilkan kesejahteraan atau nilai bagi
    para anggotanya. Keselarasan dan kecocokan dalam suatu kepercayaan
    tersebut akan memudahkan untuk mewujudkan kepercayaan tersebut menjadi
    kenyataan. Budaya organissi dapat membawa dampak positif seperti
    mendorong pegawai untuk bekerja lebih baik, atau dampak negatif, seperti
    ketergantungan pegawai terhadap perusahaan lain yang memiliki budaya
    berbeda.
  5. Budaya organisasi dapat diterima dan memiliki sudut pandang yang logis.
    Walaupun individu tidak menganut nilai atau dasar pemikiran dan suatu
    budaya, ia akan mencontohkan anggota organisasi lain yang sesungguhnya
    dalam alur budaya organisasinya. Untuk dapat menghargai budaya organisasi,
    seseorang harus memahami bahwa segala perilakunya didasari oleh apa yang
    menjadi kepercayaannya. Anggapan bahwa budaya merupakan yang tidak
    logis biasanya muncul karena individu salah menggunakan dasar pemikiran
    mereka sendiri.
  6. Budaya organisasi membekali para anggotanya dengan kontinuitas dan
    identitas. Jika para anggota organisasi menganut, memperkokoh dan
    memperbanyak nilai yang sama, organisasi tersebut akan menghadapi setiap
    perubahan lingkungan, dan dapat tetap pada identitasnya, serta terjamin
    kelanjutan usahanya. Budaya organisasi dapat dijadikan pegangan bila terjadi
    goncangan-goncangan di lingkungan mereka.
  7. Budaya organisasi menyeimbangkan nilai-nilai yang saling berlawanan.
    Budaya organisasi merupakan sesuatu kekuatan yang menyeimbangkan antara
    kekacauan dan ketenangan, atau kesinambungan dan perubahan. Dalam suatu
    organisasi tidak mungkin hanya terdadpat satu kondisi yang sama secara
    terus-menerus, karena di dalamnya terdapat pemimpin dan pengikut, atau
    yang berkuasa dan yang dikuasai, yang secara logis akan menerima dan
    menaggapi lingkungannya dengan cara yang berbeda.
  8. Budaya organisasi adalah suatu sistem sub-enrnetik. Budaya organisasi
    dikatakan sub-ernetik karena mengarahkan, berusaha, dan mempersiapkan
    sendiri usasha untuk menghilangkan hambatan dan gangguan. Dalam suatu
    sistem sub-ernetik, budaya organisasi mengolah umpan balik (feedback)
    mengenai perubahan-perubahan lingkungan, dan membuat penyesuaian yang
    dianggap paling cocok.
  9. Budaya organisasi adalah suatu pola. Suatu budaya organisasi bukanlah benda
    atau objek, tetapi merupakan pola yang muncul bersama dengan
    bertambahnya waktu dan berkembangnya organisasi. Sebagai contoh dapat
    diumpamakan tentang hubungan antaran customer dengan pegawai dalam
    suatu perusahaan jasa, akan mencerminkan pula hubungan antara pegawai
    tersebut dengan kliennya, serta menggambarkan pula hubungan antara
    penyelia dengan pimpinannya.
  10. Budaya organisasi adalah komunikasi. Sangat penting untuk dipahami bahwa
    kebanyakan budaya organisasi menyediakan komunukasi, yaitu pembagian
    pengalaman dan penyebaran informasi. Budaya organisasi dapat membuat
    para anggota organissi saling erat mendukung.
  11. Budaya organisasi bersifat sinergis. Aspek dari budaya organisasi adalah
    sinergi di antara nilai-nilai yang tercakup di dalamnya. Artinya, nilai yang
    berbeda-beda dapat bergabung dan menghasilkan sesuatu yang lebih baik
    secara kongkrit dapat digambarkan suatu perusahaan memiliki kreativitas
    yang tinggidalam menciptakan produknya, bukan ditujukan oleh promosi
    yang gencar, tetapi lebih dihargai jika produk tersebut merupakan gagasan
    yang diorisinil atau bukan tiruan.
  12. Budaya organisasi dapat dipelajari dan organisasi harus mempelajarinya.
    Dewasa ini perkembangan lingkungan usaha, ilmu pengetahuan, teknologi,
    dan penerapan promosi semakin pesat, sehingga setiap organisasi dituntut
    untuk memiliki anggota yang secara bersama mampu belajar mengenai
    perubahan tersebut, dan menyesuaikan dengan kemampuan sumber daya
    internalnya, kemudian mengetahui para konsumennya agar mereka puas. Hal
    ini akan dapat dicapai oleh budaya oyang secara berkesinambungan dipelajari
    dari beberapa sumber.
    Panjaitan (2018: 24-25) menguraikan beberapa karakteristik budaya organisasi
    lagi sebagai berikut:
  13. Penelitian menunjukkan bahwa ada tujuh karektiristik yang utama, secara
    keseluruhan, merupakan hakikat budaya organisasi.
  14. Inovasi dan keberanian mengambil resiko. Sejauh mana karyawan didorong
    untuk bersikap inovatif dan berani mengambil risiko.
  15. Perhatian pada hal-hal rinci. Sejauh mana karyawan diharapkan menjalankan
    presisi, analisis, dan perhatian pada hal-hal detail.
  16. Orientasi hasil. Sejauh mana manajemen berfokus lebih pada hasil ketimbang
    teknik dan proses yang digunakan untuk mencapai hasil tersebut.
  17. Orientasi orang. Sejauh mana keputusan-keputusan manajemen
    mempertimbangkan efek dari hasil tersebut atas orang yang ada dalam
    organiisasi.
  18. Orientasi tim. Sejauh mana kegiatan-kegiatan kerja di organisasi pada tim
    ketimbang pada individu-individu
  19. Keagresifan. Sejauh mana orang bersikap agresif dan kompetitif ketimbang
    santai.
  20. Stabilitas. Sejauh mana mempertimbangkan status quo.