Tipe-Tipe Budaya Organisasi


Adapun tipe-tipe budaya organisasi yang dikemukakan oleh Robbins
(dalam Riani 2012:32) ada empat tipe budaya organisasi:

  1. Akademik
    Perusahaan suka merekrut para lulusan muda dari unversitas, memberi
    mereka pelatihan istimewa, dan kemudian mengperasilakan mereka pelatihan
    istimewa dalam suatu fungsi yang khusus. Perusahaan lebih menyukai
    karyawan yang setia dan mempunyai komitmen yang serta mengutamakn kerja
    sama tim.
  2. Orientasi Tim
    Perusahaan lebih condrong ke arah orientasi orang dan orientasi tim dimana
    perusahaan memberi nilai tinggi pada karyawan yang dapat menyesuikan diri
    dalam sistem organisasi. Perusahaan juga menyukai karyawan yang setia dan
    mempunyai komitmen yang tinggi serta mengutamkan kerja sam tim.
  3. Tim Bisbol
    Perusahaan berorientasi para pengambil risiko dan inovator, peruhaan juga
    beorientasi pada hasil yang dicapai oleh karyawan, perusahaan juga lebih
    menyukai karyawan yang agresif. Perusahaan cenderung untuk mencari orangorang berbakat dari segala usia dan pengalaman, perusahaan juga menawarkan
    intensif finansial yang sangat besar dan kebebasan besar bagi mereka yang
    sangat berpresita.
  4. Benteng
    Perusahaan condong untuk mempertahuakan budaya yang sudah baik.
    Menurut sonnenfield banyak perusahaan tidak dapat dengan rapi dikategorikan
    dalam salah satu dari empat kategori karena merek memilki suatu paduan
    budaya atau karena perusahaan berada dalam masa peralihan.
    Sedangkan pendapat lainnya mengenai tipe-tipe budaya organisasi
    dikemukakan oleh Kreitner dan Kinici (2014: 62) yang menyatakan bahwa tipe-tipe
    budaya organisasi sebagai berikut:
  5. Kebudayaan Klan.
    Kebudayaan ini memiliki internal fokus dan lebih menghargai fleksibilitas
    daripada stabilitas dan kontrol. Kebudayaan ini mirip kebudayaan keluarga di
    mana efektivitas dicapai dengan mendorong kerja sama antar pegawai. Tipe
    kebudayaan ini sangat “berpusat pada pegawai” dan berusaha untuk memenuhi
    kepaduan melalui mufakat dan kepuasan pekerjaan serta komitmen melalui
    keterlibatan pegawai.
  6. Kebudayaan Adhokrasi.
    Kebudayaan ini memiliki nilai eksternal dan menghargai fleksibilitas. Tipe
    kebudayaan ini membantu perkembangan penciptaan produk-produk dan
    layanan yang inovatif dengan menyesuaikan diri, kreatif, dan cepat menanggapi
    perubahan pasar. Kebudayaan adhokrasi tidak bergantung pada tipe kekuatan
    yang terpusat dan hubungan kekuasaan yang merupakan bagian dari dan
    kebudayaan hirearkis. Kebudayaan ini juga mendorong para pegawai untuk
    mengambil penyelesaian sesuatu.
  7. Kebudayaan Pasar.
    Kebudayaan ini memiliki fokus eksternal yang kuat saat menghargai
    stabilitas dan kontrol. Organisasi-organisasi dengan kebudayaan ini
    dikendalikan atas kompetisi dan hasrat yang kuat untuk mengantarkan hasil dan
    mencapai tujuan. Karena tipe kebudayaan ini berpusat pada lingkungan
    eksternal, pelanggan dan keuntungan harus didahulukan daripada
    pengembangan dan kepuasan pegawai. Tujuan utama para manajer adalah
    mendorong produktivitas, keuntungan, dan kepuasan pelanggan.
  8. Kebudayaan Hirearkis.
    Kebudayaan ini memiliki fokus internal yang menghasilkan keuntungan
    kerja yang lebih formal dan terstruktur, serta menghargai stabilitas dan kontrol
    lebih dari fleksibilitas. Orientasi ini membawa pada perkembangan proses
    internal yang dapat diandalkan, ukuran yang ekstensi, dan implementasi dari
    beragam mekanisme kontrol.