Tujuan utama penilaian kinerja adalah untuk memotivasi personel dalam
mencapai sasaran organisasi dan dalam mematuhi standar perilaku yang telah
ditetapkan sebelumnya, agar membuahkan tindakan dan hasil yang diinginkan oleh
organisasi seperti dinyatakan oleh Mulyadi dan Johny Setiawan (2001).
Standar perilaku dapat berupa kebijakan manajemen atau rencana formal yang
dituangkan dalam rencana strategik, program, dan anggaran organisasi. Suatu
pengukuran kinerja dapat digunakan untuk memotivasi personel dengan memanfaatkan
informasi hasil pengukuran kinerja sebagai dasar dari pemberian “reward dan
punishment”.
Menurut Susilo (2002), penyelenggaraan penilaian kinerja yang efektif adalah
kesadaran bahwa keberhasilannya paling tidak dipengaruhi oleh masalah prosedur dan
proses maupun jenis, bentuk atau sistem pencatatan standar yang digunakan. Seringkali
perusahaan khususnya manajemen penilai terlalu menitikberatkan pada bagaimana
penilaian yang tepat dan sangat langka yang memperhatikan bagaimana sebenarnya
penilaian kinerja dilaksanakan. Tujuan dilakukan penilaian kinerja adalah sebagai
berikut: (a) sumber data untuk perencanaan ketenagakerjaan dan kegiatan
pengembangan jangka panjang bagi perusahaan atau instansi terkait; (b) nasihat yang
perlu disampaikan kepada para tenaga kerja dalam perusahaan atau instansi; (c) alat
untuk memberikan umpan balik (feed back) yang mendorong kearah kemajuan dan
kemungkinan memperbaiki/meningkatkan kualitas kerja bagi para tenaga kerja; (d)
salah satu cara untuk menetapkan kinerja yang diharapkan dari seorang pemegang tugas
dan pekerjaan; dan (e) landasan/bahan informasi dalam pengambilan keputusan pada
bidang ketenagakerjaan, baik promosi, mutasi, maupun kegiatan ketenagakerjaan
lainnya.
