Seven Tools


Produk reject merupakan produk yang mengalami kecacatan serta secara
syarat tidak memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Produk
reject berbeda dengan bahan sisa karena telah mengalami serangkaian proses
produksi dan menyerap biaya operasional (Puspasari, dkk., 2019). Dengan adanya
pengendalian kualitas, terjadinya kegagalan beruapa produk cacat atau reject dapat
diminimalisir. Proses pengendalian kualitas harus terintegrasi dengan seluruh lini
produksi yang ada di perusahaan. Hal ini dikarenakan kualitas tidak dapat berdiri
sendiri melainkan harus didukung oleh proses yang selaras dan tertib mulai dari
awal hingga akhir (Kiki, dkk., 2019).
Klasifikasi cacat produk pada umumnya terbagi menjadi dua yaitu cacat
minor dan cacat mayor. Cacat minor merupakan jenis cacat yang tergolong ringan
dan dapat dideteksi setidaknya pada jarak sekitar 50 cm. Sedangkan cacat mayor
merupakan jenis cacat yang berpengaruh besar terhadap kualitas yang dihasilkan
suatu produk. Proses analisis kualitas lebih lanjut dilakukan berdasarkan cacat
mayor yang terdeteksi pada produk (Hansen, 2017). Pemeriksaan produk harus
ditabulasikan dengan baik untuk menyamakan persepsi inspeksi mengikuti
perbandingan antara ketetapan standar dengan keadaan aktual sesuai kriteria yang
telah disepakati bersama (Julianti, 2018).
Sari dan Purnawati (2018) menyatakan bahwa pengendalian kualitas dapat
dilakukan secara statistik atau biasa disebut dengan statistical quality control. SQC
memiliki tujuh alat statistik utama yang pada umumnya dikenal dengan sebutan
seven tools. Tools ini berguna untuk membantu mengatasi permasalahan kegagalan
produksi dengan tujuan mengurangi cacat produk. Seven tools seringkali digunakan
untuk membantu mengendalikan mutu suatu produk melalui grafik-grafik yang
sederhana (Sukri dan Basuki, 2021). Seven tools terdiri dari check sheet,
stratification, histogram, pareto chart, scatter diagram, control chart, dan fishbone
diagram.