Perkembangan Konsep Kualitas/Mutu


Mutu merupakan konsep yang terus mengalam perkembangan dalam
pemaknaanya, menurut Garvin (1995) perspektif tentang konsep mutu mengalami
evolusi sebagai berikut, ada lima alternatif perspektif kualitas yang biasa
digunakan.

  1. Transcendental Approach
    Kualitas dalam pendekatan ini dapat dirasakan atau diketahui, tetapi sulit
    didefinisikan dan dioperasionalkan. Sudut pandang ini biasanya diterapkan dalam
    seni musik, drama, seni tari, dan seni rupa. Selain itu perusahaan dapat
    mempromosikan produknya dengan pernyataan-pernyataan seperti tempat belanja
    yang menyenangkan (supermarket), elegan (mobil), kecantikan wajah (kosmetik),
    kelembutan dan kehalusan kulit (sabun mandi), dan lain-lain. Dengan demikian
    fungsi perencanaan, produksi, dan pelayanan suatu perusahaan sulit sekali
    menggunakan definisi seperti ini sebagai dasar manajemen kualitas.
  2. Product-based Approach
    Pendekatan ini menganggap kualitas sebagai karakteristi atau atribut yang
    dapat dikuantifikasikan dan dapat diukur. Perbedaan dalam kualitas
    mencerminkan perbedaan dalam jumlah beberapa unsur atau atribut yang dimiliki
    produk. Karena pandangan ini sangat objektif, maka tidak dapat menjelaskan
    perbedaan dalam selera, kebutuhan, dan preferensi individual.
  3. User-based Approach
    Pendekatan didasarkan pada pemikiran bahwa kualitas tergantung pada orang
    yang memandangnya, dan produk yang paling memuaskan preferensi seseorang
    (misalnya perceived quality) merupakan produk yang berkualitas paling tinggi.
    Prespektif yang subjektif dan demand-oriented ini juga menyatakan bahwa
    pelanggan yang berbeda memiliki kebutuhan dan keinginan yang berbeda pula,
    sehingga kualitas bagi seseorang adalah sama dengan kepuasan maksimum yang
    dirasakannya.
  4. Manufacturing-based Approach
    Perspektif ini bersifat supply-based dan terutama memerhatikan praktekpraktek perekayasaan dan pemanufakturan, serta mendefinisikan kualitas sebagai
    sama dengan persyaratannya (conformance to requirements). Dalam sektor jasa,
    dapat dikatakan bahwa kualitasnya bersifat operations-driven. Pendekatan ini
    berfokus pada penyesuaian spesifikasi yang dikembangkan secara internal, yang
    seringkali didorong oleh tujuan peningkatan produktifitas produktivitas dan
    penekanan biaya. Jadi yang menentukan kualitas adalah standar-standar yang
    ditetapkan perusahaan, bukan konsumen yang menggunakannya. Dalam konteks
    ini konsumen dipandang sebagai pihak yang harus menerima standar-standar yang
    ditetapkan oleh produsen tau penghasil produk.
  5. Value-based Approach
    Pendekatan ini memandang kualitas dari segi nilai dan harga. Dengan
    mempertimbangkan trade-off antara kinerja dan harga, kualitas didefinisikan
    sebagai “affordable excellence”. Kualitas dalam perspektif ini bersifat relatif,
    sehingga produk yang memiliki kualitas paling tinggi belum tentu produk yang
    paling bernilai. Akan tetapi yang paling bernilai adalah produk atau jasa yang
    paling tepat dibeli (best-buy).