Indikator Stres Kerja

Luthans (2006:441) menjelaskan bahwa terdapat tiga komponen dalam stres
kerja yaitu, sebagai berikut:
a. Mengacu pada reaksi terhadap situasi atau kejadian, bukan situasi atau
kejadian itu sendiri
b. Menekankan bahwa stres dapat dipengaruhi oleh perbedaan individu, dan
c. Menekankan frasa ‘kebutuhan psikologi dan atau fisik yang berlebihan”
karena hanya situasi tertentu atau situasi yang tidak biasa (berlawanan
dengan penyesuaian hidup minor) yang dapat menghasilkan stres.
Indikator stres kerja adalah (Astianto dan Suprihhadi, 2014:11):
a. Indikator pada psikologis,, meliputi: cepat tersinggung, tidak
komunikatif, banyak melamun, lelah mental
b. Indikator pada fisik, meliputi: meningkatnya detak jantung,
meningkatnya tekanan darah, mudah lelah secara fisik, pusing dan sulit
tidur
c. Indikator pada prilaku, meliputi: merokok berlebihan, menunda
pekerjaan, perilaku sabotase, pola makan tidak teratur.
Selanjutnya Robbins (2008) menyatakan bahwa indikator stres kerja adalah:
1). Gejala psikologi dilihat dari ketidakpuasan, ketegangan, kecemasan, mudah
marah, konflik, kebosanan dan suka menunda-nunda. 2). Gejala perilaku dilihat dari
perubahan produktivitas, absensi, tingkat keluar masuknya karyawan, perubahan
kebiasan makan, meningkatkan konsumsi rokok, bicara cepat gelisah dan adanya
gangguan tidur. 3). Gejala fisiologis yang terkait dengan aspek kesehatan dan medis
yang dilihat dari perubahan metabolism, meningkatnya tekanan darah,
menimbulkan sakit kepala, dan menyebabkan serangan jantung (Angraini, 2017:4).