Profitabilitas Bank

Memperoleh keuntungan (laba) yang maksimal merupakan
tujuan akhir yang ingin dicapai suatu perusahaan selain hal- hal
lainnya. Keuntungan yang dicapai bukan hanya asal untung tetapi
harus sesuai dengan target perusahaan atau dalam perbankan sesuai
dengan ketentuan BI (Bank Indonesia). Untuk itu, para manajemen
perusahaan harus mampu memenuhi target yang ditetapkan. Dalam
mengukur dan melihat tigkat keuntungan suatu perusahaan digunakan
rasio profitabilitas. Rasio ini selain digunakan untuk melihat
kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan juga untuk
melihat efektivitas manajemen perusahaan. Pada dasarnya penggunaan
rasio ini ialah untuk menunjukkan seberapa efisien suatu perusahaan
(Kasmir, 2013).
Rasio profitabilitas sering disebut sebagai salah satu alat ukur
kinerja manajemen yang tercermin melalui kinerja keuangannya
(Kasmir, 2013). Kinerja keuangan merupakan analisis yang dilakukan
untuk mengetahui seberapa jauh perusahaan menjalankan aturan
pelaksanaan keuangan dengan baik dan benar (Fahmi, 2014). Kinerja
keuangan bank merupakan gambaran dari kondisi suatu bank pada
periode tertentu. Salah satu cara untuk menilai kinerja bank yaitu
dengan melihat laporan keuangannya. Dalam laporan keuangan
memuat informasi mengenai kondisi bank secara menyeluruh,
termasuk kinerja bank dan perkembangan usaha yang disajikan secara
periodik (Taswan, 2010).
Rasio proftabilitas memiliki beberapa manfaat diantaranya
yaitu untuk melihat seberapa besar laba yang diperoleh perusahaan,
mengetahui posisi laba atau perubahan laba dari waktu ke waktu,
mengetahui produktifitas atas dana yang digunakan untuk operasional
perusahaan (Kasmir, 2013). Rasio yang sering digunakan untuk
profitabilitas bank adalah Return on Asset (ROA) dan Return on
Equity (ROE). Return on Asset (ROA) adalah rasio untuk menghitung
laba atas pengembalian investasi, sedangkan Return on Equity (ROE)
merupakan perhitungan laba berdasarkan ekuitasnya. Dalam penelitian
ini menggunakan rasio Return on Asset (ROA) untuk mengukur
profitabilitas bank. Karena Bank Indonesia (BI) lebih mengutamakan
profitabilitas yang diukur dengan asset daripada menggunakan ekuitas
(Dendawijaya, 2001).