Perbedaan Perilaku Androgini Ditinjau dari Tempat Kerja

Menurut Sandra L. Bem (1974,1981), androgini berasal dari bahasa
Yunani, yang secara harfiah terdiri dari dua kata yakni andro ialah pria dan gyne
ialah wanita. Androgini adalah suatu istilah yang menggambarkan kesatuan
perilaku dan karakteristik kepribadian yang secara tradisional dikenal sebagai
feminin dan maskulin. Bem menekankan bahwa seorang androginus bukanlah
orang moderat, yang berada di tengah-tangah antara maskulin dan femininitas
yang ekstrem. Tetapi seorang androginus memandang bahwa dirinya
mengombinasikan ciri-ciri maskulin dan feminin yang kuat (dalam Sears, dkk.,
1985).
Individu androgin menurut Bem adalah seorang perempuan atau laki-laki
yang memiliki sifat feminin dan maskulin yang sama tinggi. Seorang individu
yang feminin memiliki kualitas yang tinggi pada sifat feminin dan rendah pada
sifat maskulin; individu yang maskulin menunjukkan hal yang sebaliknya;
individu yang undifferentiated memiliki kualitas yang rendah pada sifat feminin
dan maskulin (dalam Santrock, 2003).
Bem membagi orientasi peran gender ini menjadi 4 yakni feminin,
maskulin, androgini, dan undifferentiated. Individu yang androgin digmbarkan
lebih fleksibel dan lebih sehat daripada individu yang hanya maskulin atau
feminin saja. Individu yang undifferentiated adalah yang paling tidak kompeten.
Meskipun demikian, pada situasi tertentu peran gender sangat mempengaruhi.
Peran gender feminin atau androgini lebih disukai pada situasi hubungan karib
sedangkan pada situasi akademis dan pekerjaan, peran gender maskulin atau
androgin lebih diutamakan (dalam Santrock, 2003).
Perilaku androgini dapat saja ditemukan dimana saja baik di lingkungan
sekolah, rumah, lalu lintas, ataupun di tempat kerja. Perilaku ini sangat diminati
oleh berbagai pihak perusahaan karena mampu mengombinasikan kedua peran
tersebut dalam sisi yang positif. Bila di dalam dunia pekerjaan, persaingan
sangatlah ketat dan sering terjadi sehingga perilaku peran ini sangat diperlukan
baik itu berjenis kelamin perempuan maupun laki-laki. Contohnya saja pada
sebuah restoran atau cafe, perusahaan tidak megutamakan jenis kelamin mana
untuk bagian-bagian yang seharusnya dilakukan oleh perempuan ataupun laki-
laki. Misalnya, seorang pelayan dapat dilakukan oleh laki-laki, padahal
perempuan lebih ekspresif untuk berbicara (feminin); seorang security (maskulin)
dapat dilakukan oleh perempuan padahal pekerjaan tersebut lebih mengutamakan
individu yang berjenis kelamin laki-laki. Dalam hal ini, perilaku androgini
sangatlah populer dan dapat ditemukan pada individu tertentu yang mana pada
dasarnya peran ini telah ada pada diri sendiri.
Perilaku androgini sangat banyak ditemukan di perusahaan besar. Peneliti
mengambil sejumlah sample atau subyek ini di dua cafe dimana kriteria
pekerjaannya tidak mengutamakan jenis kelamin seperti bagian kitchen yakni
memasak (chef), stewart, dan lain-lain; bagian indoor yakni pelayan (waiters),
cleaning service, dan lain-lain; dan bagian outdoor yakni security. Tempat kerja
atau dua cafe tersebut adalah Cafe Rumah Pohon dan Coffee Ananimo. Perbedaan
kedua tempat kerja tersebut memiliki perbandingan dimana para perilaku
androgini lebih banyak ditemukan baik itu perempuan ataupun laki-laki dan yang
dominan dari kedua jenis kelamin antara perempuan dan laki-laki.