Identitas Gender

Identitas gender merupakan suatu konsep diri individu tentang keadaan
dirinya sebagai laki-laki atau perempuan atau bukan keduanya yang dirasakan dan
diyakini secara pribadi oleh individu. Identitas gender ini ditampilkan individu
dalam bentuk kepribadian dan perilakunya, yang mengarahkan individu tersebut
bagaimana perilaku yang seharusnya ia tampilkan sebagai laki-laki atau
perempuan.
Pembentukan identitas gender ini dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya.
Begitu bayi langsung memiliki identitas gender. Diberikan baju dan mainan
tertentu. Selain itu respon orang dewasa terhadap anak laki-laki dan perempuan
berbeda tergantung pada cara dia dibesarkan dan gaya mengasuh anak. Ketika
anak tumbuh, ia menyatukan informasi dari masyarakat dan dari persepsi tentang
dirinya untuk membangun identitas gender. Pada usia tiga tahun, anak tahu
tentang dirinya sendiri, sebagai anak perempuan atau anak laki-laki. Oleh sebab
itu dalam proses perkembangnnya seseorang perlu belajar identitas gender lain
yang bukan anutannya; perempuan belajar tentang laki-laki, begitu pula
sebaliknya.
Gender melahirkan atau memunculkan dikotomi sifat, peran, dan posisi
antara laki-laki dan perempuan. Dikotomi tersebut meliputi sifat feminim untuk
perempuan dan maskulin untuk laki-laki, serta posisi tersubordinasi yang dialami
perempuan dan mendominasi bagi laki-laki. Sifat, peran dan posisi tersebut saling
terkait antara satu dengan yang lainnya, sulit dipisahkan secara tegas menurut
Muthali’in (dalam Rokhmansyah, 2016: 6-9).
a. Maskulin dan Feminin
Organ biologis antara laki-laki dan perempuan berbeda. Perempuan
dikodratkan memiliki organ tubuh untuk keperluan reproduksi. Sedang laki-
laki tidak dilengkapi organ tubuh untuk keperluan reproduksi tersebut. Dengan
organ tubuh yang dimilikinya itu, perempuan bisa melahirkan anak. Untuk
merawat anak yang dilahirkan diperlukan sifat-sifat halus, penyabar,
penyayang, pemelihara dari seorang perempuan. Sedang laki-laki dengan
organ tubuh yang dimiliki dipandang leluasa bergerak.
b. Peran Domestik dan Publik
Kontruksi sifat feminin dan maskulin diatas membawa dampak pada dikotomi
peran yang harus dilakukan oleh perempuan dan laki-laki. Perempuan dan
sifat feminimnya dipandang selayaknya untuk berperan di sektor domestik,
seperti membersihkan rumah, mencuci, memasak, menyetrika, mengasuh anak
memang sudah “selaras” dengan sifat-sifat perempuan yang feminin.
Pekerjaan sektor domestik tersebut memang dipandang membutuhkan
kehalusan, kesabaran, kearifan, dan setersnya. Sebaliknya, pekerjaan publik
seperti mencari nafkah diluar rumah dan perlindungan keluarga menjadi tugas
laki-laki. Tugas-tugas ini dikontruksi oleh budaya memang sudah sepantasnya
dilakukan oleh laki-laki yang dikaruniai sifat maskulin. Kerja diluar rumah
dan pemberian perlindungan keamanan dianggap keras dan memerlukan
kekuatan fisik yang memadai, tuntutan itu dapat dipenuhi oleh kondisi fisik
sekaligus sifat laki-laki dan maskulin.
c. Posisi Mendominasi dan Tersubordinasi
Sifatnya yang feminim, perempuan membutuhkan perlindungan dari laki-laki
yang maskulin. Muncullah dominasi laki-laki terhadap perempuan, baik dalam
kehidupan rumah tangga maupun dunia publik. Dalam kehidupan rumah
tangga, laki-laki atau suami dengan sifatnya yang maskulin, ditempatkan oleh
budaya pada posisi sebagai kepala rumah tangga, laki-laki atau suami dengan
sifatnya yang maskulin, ditempatkan oleh budaya pada posisi sebagai kepala
rumah tangga, sedang istri atau perempuan sebagai keduanya. Istri
digambarkan sebagi pendamping suami, bahkan pendamping yang pasif.
Suami mendominasi dan istri tersubordinasi.
d. Stereotip Gender
Sterotip gender adalah katagori luas yang merefleksikan kesan dan keyakinan
tentang apa perilaku yang tepat untuk pria dan wanita. Semua stereotip, entah
itu berhubungan dengan gender, etnis, atau kategori lainnya, mengacu pada
citra dari anggota kategori tersebut. Banyak stereotip bersifat umum sehingga
menjadi ambigu, misalnya katagori maskulin dan feminin. Memberi cap
stereotip sebagai maskulin atau feminin pada individu dapat menimbulkan
konsekuensi signifikan. Mencap laki-laki sebagai feminim dan perempuan
sebagai maskulin dapat menghilangkan status sosial dan penerimaan mereka
dalam kelompok