Perkembangan emosi.

Emosi merupakan suatu keadaan atau perasaan yang bergejolak pada diri
seseorang yang disadari dan diungkapkan melalui wajah atau tindakan, yang berfungsi
sebagai inner adjustment (penyesuaian dari dalam) terhadap lingkungan untuk
mencapai kesejahteraan dan keselamatan. Kemampuan untuk bereaksi secara
emosional sudah ada sejak bayi dilahirkan. Gejala pertama perilaku emosional dapat
dilihat dari keterangsangan umum terhadap suatu stimulasi yang kuat. Misalnya bila
bayi merasa senang, maka ia akan menghentak-hentakkan kakinya. Sebaliknya bila ia
tidak senang, maka bayi bereaksi dengan cara menangis.
Dengan meningkatnya usia anak, reaksi emosional anak mulai kurang
menyebar, dan dapat lebih dibedakan. Misalnya, anak menunjukkan reaksi
ketidaksenangan hanya dengan menjerit dan menangis, kemudian reaksi mereka
berkembang menjadi perlawanan, melempar benda, mengejangkan tubuh, lari
menghindar, bersembunyi dan mengeluarkan kata-kata. Dengan bertambahnya usia,
reaksi emosional yang berwujud kata-kata semakin meningkat, sedangkan reaksi
gerakan otot mulai berkurang.
Emosi anak memiliki karakteristik sebagai berikut :
a. Emosi yang kuat
Anak kecil bereaksi terhadap suatu stimulusi dengan intensitas yang sama, baik
terhadap situasi yang remeh maupun yang sulit.Anak belum mampu
menunjukkan reaksi emosional yang sebanding terhadap stimulasi yang
dialaminya.
b. Emosi seringkali tampak.
Anak-anak seringkali tidak mampu menahan emosinya, cenderung emosi
anak nampak dan bahkan berlebihan.
c. Emosi bersifat sementara
Emosi anak cenderung lebih bersifat sementara, artinya dalam waktu yang relatif
singkat emosi anak dapat berubah dari marah kemudian tersenyum, dari ceria
berubah menjadi murung.
d. Reaksi emosi mencerminkan individualitas
Semasa bayi, reaksi emosi yang ditunjukkan anak relatif sama. Secara bertahap,
dengan adanya pengaruh faktor belajar dan lingkungan, perilaku yang menyertai
berbagai emosi anak semakin diindividualisasikan.
e. Emosi berubah kekuatannya.
Dengan meningkatnya usia, emosi anak pada usia tertentu berubah kekuatannya.
Emosi anak yang tadinya kuat berubah menjadi lemah, sementara yang tadinya
lemah berubah menjadi emosi yang kuat.
f. Emosi dapat diketahui melalui gejala perilaku.
Emosi yang dialami anak dapat pula dilihat dari gejala perilaku anak seperti :
melamun, gelisah, menangis, sukar berbicara atau dari tingkah laku yang gugup
seperti menggigit kuku atau menghisap jempol (Hayati, 2012).
Pada usia 2-4 tahun, karakteristik emosi anak muncul pada ledakan marahnya
Untuk menampilkan rasa tidak senang, anak melakukan tindakan yang berlebihan,
misalnya menangis, menjerit-jerit, melemparkan benda, bergulingguling, atau
memukul ibunya. Pada usia ini anak tidak memperdulikan akibat dari perbuatannya,
apakah merugikan orang lain atautidak. Pada usia 5-6 tahun, emosi anak mulai
matang. Pada usia ini anak mulai menyadari akibat-akibat dari tampilan emosinya.
Anak mulai memahami perasaan orang lain, misalnya bagaimana perasaan orang lain
bila disakiti, maka anak belajar mengendalikan emosinya. Ekspresi emosi pada anak
mudah berubah dengan cepat dari satu bentuk ekspresi ke bentuk ekspresi emosi
yang lain. Anak dalam keadaan gembira secara tiba-tiba dapat langsung berubah
menjadi marah karena ada sesuatu yang dirasakan tidak menyenangkan, sebaliknya
apabila anak dalam keadaan marah, melalui bujukan dengan sesuatu yang
menyenangkan bisa berubah menjadi riang (Fatimah, 2015)