Aspek Pertumbuhan Dan Perkembangan

Menurut Depkes RI (2010), Ada 4 aspek tumbuh kembang yang perlu dibina
atau dipantau, yaitu :
1. Gerak Kasar atau Motorik Kasar
Gerak kasar atau motorik kasar adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan anak melakukan pergerakan dengan sikap tubuh yang melibatkan otototot besar sperti duduk, berdiri, dsb.
Gerak motorik kasar adalah gerak anggota badan secara kasar atau keras.
Menurut Laura E. Ber dalam Suyadi (2010), semakin anak bertambah dewasa dan
kuat tubuhnya, maka gaya geraknya semakin sempurna. Hal ini mengakibatkan
tumbuh kembang otot semakin membesar dan menguat, dengan demikian
ketrampilan baru selalu bermunculan dan semakin bertambah kompleks. Contoh
gerakan motorik kasar adalah, melakukan gerakan berjalan, berlari, melompat,
melempar dan sebagainya.
2. Gerak Halus atau Motorik Halus
Gerak halus atau motorik halus adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan anak melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu
dan dilakukan oleh otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat sperti
mengamati sesuatu, menjimpit, menulis, dsb.
Perkembangan motorik mengikuti hukum arah perkembangan, Hurlock
(1978).dan kemampuan fisik tersebut diatas terjadi secara teratur dan bertahap sesuai
dengan pertambahan umur.
Perkembangan fisik-motorik adalah perkembangan jasmaniah melalui
kegiatan pusat saraf, urat saraf dan otot yang terkoordinasi. Hasil pengamatan Laura
E.Berk terhadap anak usia dini adalah ketika anak bermain maka, akan muncul
ketrampilan motorik baru, Suyadi (2010). Anak akan terus melakukan integrasi gerak
dari berbagai macam pola jadi, kemampuannya berkembang dan terbarukan terus
menerus atau disebut sebagai dynamic system. Sehingga bisa mencapai sesuatu yang
disebut ketrampilan motorik seperti yang diungkapkan Gagne dalam Siregar (2010),
bahwa dalam ketrampilan motorik seseorang atau anak belajar melakukan gerakan
secara teratur dalam urutan tertentu, ciri khasnya adalah otomatisme, yakni gerakan
yang berlangsung secara teratur dan berjalan dengan lancar.
3. Bahasa
Kemampuan bicara dan bahasa adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara, berbicara, berkomunikasi,
mengikuti perintah dsb.
Bahasa merupakan sarana berkomunikasi dengan orang lain. Melalui bahasa,
seseorang dapat menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan, lisan, isyarat
atau gerak. Pada usia 1 tahun, selaput otak untuk pendengaran membentuk kata-kata,
mulai saling berhubungan.Anak sejak usia 2 tahun sudah banyak mendengar kata-kata
atau memiliki kosa kata yang luas. Gangguan pendengaran dapat membuat
kemampuan anak untuk mencocokkan suara dengan hurufmenjadi terlambat. Bahasa
anak mulai menjadi bahasa orang dewasa setelah anak mencapai usia 3 tahun. Pada
saat itu ia sudah mengetahui perbedaan antara kita (Rahman,2009).4. Sosialisasi
Sosialisasi dan kemandirian adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan mandiri anak (makan sendiri, membereskan mainan selesai bermain),
berpisah dengan ibu/pengasuh anak, bersosialisasi dan berinteraksi dengan
lingkungannya.
Seiring dengan perkembangan fisik yang beranjak matang, perkembangan
motorik anak sudah dapat terkoordinasi dengan baik. Setiap gerakannya sudah selaras
dengan kebutuhan atau minatnya. Masa ini ditandai dengan kelebihan gerak atau
aktivitas. Anak cenderung menunjukkan gerakan-gerakan motorik yang cukup gesit
dan lincah. Oleh karena itu, usia ini merupakan masa yang ideal untuk belajar
keterampilan yang berkaitan dengan motorik, seperti menulis, menggambar, melukis,
berenang, main bola atau atletik. Perkembangan fisik yang normal merupakan salah
satu faktor penentu kelancaran proses belajar, baik dalam bidang pengetahuan
maupun keterampilan. Dengan kata lain, perkembangan motorik sangat menunjang
keberhasilan belajar anak (Martani, 2007).
Perilaku sosial merupakan aktivitas dalam berhubungan dengan orang lain,
baik dengan teman sebaya, orang tua maupun saudara-saudaranya. Sejak kecil anak
telah belajar cara berperilaku sosial sesuai dengan harapan orang-orang yang paling
dekat dengannya, yaitu dengan ibu, ayah, saudara, dan anggota keluarga yang lain.
Apa yang telah dipelajari anak dari lingkungan keluarga turut mempengaruhi
pembentukan perilaku sosialnya.
Ada empat faktor yang berpengaruh pada kemampuan anak bersosialisasi,
yaitu :
1) Adanya kesempatan untuk bergaul dengan orang-orang di sekitarnya dari
berbagai usia dan latar belakang.
2) Adanya minat dan motivasi untuk bergaul
3) Adanya bimbingan dan pengajaran dari orang lain, yang biasanya menjadi
“model” bagi anak.
4) Adanya kemampuan berkomunikasi yang baik yang dimiliki anak.
Menjadi orang yang mampu bersosialisasi memerlukan tiga proses yaitu :
1) Belajar berperilaku yang dapat diterima secara sosial.
2) Memainkan peran sosial yang dapat diterima.
3) Perkembangan sikap sosial.