Pengaruh Edutaintment Terhadap Sikap

Edutainment didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang didesain
dengan memadukan antara muatan pendidikan dan hiburan secara harmonis
sehingga aktivitas pembelajaran berlangsung menyenangkan (Hamruni, 2009: 50).
New World Encyclopedia (dalam Moh. Sholeh Hamid, 2011: 18) edutainment
berasal dari kata educational entertainment atau entertainment education, yang
berarti suatu hiburan yang didesain untuk mendidik. Edutainment memasukan
berbagai pelajaran dalam bentuk hiburan yang sudah akrab dengan anak seperti
permainan, film, musik, perangkat komputer, video games, perangkat multimedia
dan sebagainya. Konsep belajar edutainment mulai diperkenalkan secara formal
pada tahun 1980-an dan telah menjadi satu metode pembelajaran yang sukses dan
membawa pengaruh yang luar biasa pada bidang pendidikan dan pelatihan di era
milenium ini (Hamruni, 2009:50).
Menurut Imam Barnadib (2002:25) pengertian tentang pendidikan yaitu
fenomena utama dalam kehidupan manusia dimana orang yang telah dewasa
membantu pertumbuhan dan perkembangan peserta didik untuk menjadi manusia
dewasa. Pendidikan menjadi ilmu bila pengetahuan tentang pendidikan itu
dipelajari dengan menggunakan kaidah keilmuan. Dari pengertian tersebut dapat
disimpulkan bahwa pendidikan diberikan untuk mengembangkan perilaku sampai
mengubah tingkah laku siswa. Menurut Jenkins (2002) “Pendidikan itu bagus bila
dengan unsur entertainment”. Menurutnya peranan entertainment dalam proses
pembelajaran dapat dipahami sebagai sebuah kekuatan yang dapat memotivasi
seseorang untuk beraktifitas belajar. Metode pendidikan yang memiliki muatan
entertainment yaitu cooperative learning, role playing. Perpaduan antara belajar
dan bermain ini mengacu pada sifat alamiah anak yang dunianya adalah dunia
bermain, bagi anak jarak antara belajar dan bermain begitu tipis pilihan strategi
pembelajaran edutainment ini juga berlandaskan pada hasil riset cara kerja otak.
Penemuan-penemuan terbaru ini bahwa anak akan belajar efektif bila dalam
keadaan fun dan bebas dari tekanan (revolutional learning). Adapun pelajaran
yang diterapkan dikemas dalam suasana bermain dan bereksperimen, sehingga
belajar tidak lagi membosankan, tetapi justru merupakan arena bermain yang
edukatif dan menyenangkan bagi siswa.
Menurut Saifuddin (2012), sikap dapat dikatakan sebagai respon. Respon
hanya akan timbul apabila individu dihadapkan pada suatu gejala yang
menghendaki timbulnya suatu reaksi individu. Bentuk respon tersebut disebut
sebagai respon evaluatif. Respon evaluatif didasari oleh proses evaluasi dalam diri
individu yang akan memberikan kesimpulan nilai dalam bentuk baik atau buruk,
positif atau negatif, menyenangkan atau tidak menyenangkan, suka atau tidak
suka, yang kemudian membentuk sebagai potensi reaksi terhadap suatu objek
sikap. Dengan respon evaluatif, akan lebih mendekatkan kepada suatu
operasionalisasi sikap, dalam kaitannya dengan penyusunan alat ungkapnya yang
nantinya akan dapat mengklasifikasikan respon evaluatif seseorang pada suatu
posisi setuju atau tidak setuju. Sikap terdiri atas tiga komponen yang saling
menunjang, yaitu komponen kognitif (cognitive), komponen afektif (affective) dan
komponen konatif (conative). Komponen kognitif berupa apa yang dipercayai
oleh subjek pemilik sikap. Kepercayaan datang dari apa yang telah kita lihat atau
apa yang telah kita ketahui. Berdasarkan apa yang telah kita lihat itu kemudian
terbentuk suatu ide atau gagasan mengenai sifat atau karakteristik umum suatu
objek. Sekali kepercayaan itu terbentuk, maka ia akan menjadi dasar pengetahuan
seseorang mengenai apa yang diharapkan dan apa yang tidak diharapkannya dari
objek tertentu. Pengalaman pribadi, apa yang diceritakan orang lain, dan
kebutuhan emosional kita sendiri merupakan determinan utama dalam
terbentuknya kepercayaan. Komponen afektif merupakan komponen perasaan
yang menyangkut aspek emosional. Secara umum komponen ini disamakan
dengan perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu. Reaksi emosional ditentukan
oleh kepercayaan atau apa yang kita percayai sebagai benar bagi objek termaksud.
Komponen konatif merupakan aspek kecendrungan berprilaku tertentu sesuai
dengan sikap yang dimiliki oleh subjek. Kepercayaan dan perasaan
mempengaruhi perilaku. Maksudnya, bagaimana orang akan berprilaku dalam
situasi tertentu dan terhadap stimulus tertentu akan banyak ditentukan oleh
bagaimana kepercayaan dan perasaannya terhadap stimulus tersebut.
Kecendrungan berprilaku secara konsisten selaras dengan kepercayaan dan
perasaan ini akan membentuk sikap individual. Kecendrungan berprilaku
menunjukkan bahwa komponen konatif meliputi bentuk perilaku yang tidak hanya
dapat dilihat secara langsung saja, akan tetapi meliputi bentuk-bentuk prilaku
yang berupa pernyataan atau perkataan yang diucapkan seseorang.
Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa munculnya
konsep edutainment, yang mengupayakan proses pembelajaran yang kondusif dan
menyenangkan, telah membuat suatu asumsi bahwa perasaan positif yaitu
senang/gembira akan mempercepat pembelajaran. Pembelajaran yang dilakukan
yaitu diharapkan akan mempengaruhi sikap, dimana pembentukan sikap
dipengaruhi oleh tiga komponen yang saling menunjang, yaitu komponen kognitif
(cognitive), komponen afektif (affective) dan komponen konatif (conative).
Komponen kognitif berupa apa yang dipercayai oleh subjek pemilik sikap yaitu
pembelajaran yan telah dilakukan diharapkan dapat membentuk kepercayaan baru
sehingga dapat mempengaruhi sikap individu tersebut, dalam hal ini adalah sikap
melindungi diri. Komponen afektif merupakan komponen perasaan yang
menyangkut aspek emosional. Secara umum komponen ini disamakan dengan
perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu. Reaksi emosional ditentukan oleh
kepercayaan atau apa yang kita percayai sebagai benar bagi objek termaksud.
Komponen konatif merupakan aspek kecendrungan berprilaku tertentu sesuai
dengan sikap yang dimiliki oleh subjek. Kepercayaan dan perasaan
mempengaruhi perilaku. Oleh karena itu, edutainment berupaya agar
pembelajaran yang terjadi berlangsung dalam suasana yang kondusif dan
menyenangkan. Sebab konsep ini menawarkan sebuah perpaduan dua aktifitas
yaitu pendidikan dan hiburan. Jika sebuah pembelajaran disertai dengan keadaan
yang menyenangkan dan kondusif tentunya tingkat konsentrasi peserta didik akan
jauh lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran yang berlangsung kaku dan
menegangkan, dengan pembelajaran yang menyenangkan tersebut diharapkan
penyerapan materi yang disampaikan dapat seoptimal mungkin sehingga lebih
efektif dan efisien.