Pembentukan dan Perubahan Sikap

Menurut Gerungan (2004:166) Interaksi sosial di dalam kelompok maupun
di luar kelompok dapat mengubah sikap atau membentuk sikap yang baru.
Menurut Sarlito dalam Santosa (2013:1) menjelaskan bahwa sikap dapat dibentuk
melalui empat macam pembelajaran, yaitu: (1) Pengkondisian klasik yaitu proses
pembelajaran dapat terjadi ketika suatu stimulus selalu diikuti oleh stimulus yang
lain, sehingga stimulus yang pertama menjadi suatu isyarat bagi adanya stimulus
yang kedua. (2) Pengkondisian instrumen; proses pembelajaran terjadi ketika
suatu perilaku mendatangkan hasil yang menyenangkan, sehingga perilaku
tersebut akan cenderung untuk diulang-ulang dan begitu sebaliknya. (3) Belajar
melalui pengamatan; proses pembelajaran dengan cara mengamati perilaku
seseorang, yang kemudian dijadikan contoh untuk berperilaku serupa. (4)
Perbandingan sosial; proses pembelajaran dengan membandingkan diri sendiri
dengan orang lain, untuk meninjau kembali apakah pandangan kita mengenai
suatu hal itu benar atau salah. Secara lebih kompleks, menurut Bimo Walgito
dalam Santosa (2013:2) Pembentukan sikap yang ada dalam diri seseorang akan
dipengaruhi oleh faktor internal, berupa fisiologis dan psikologis, serta faktor
eksternal yang bisa berupa situasi yang dihadapi individu, norma-norma yang ada
dalam masyarakat, dan hambatan-hambatan atau pendorong-pendorong yang ada
dalam masyarakat. Sikap terbentuk selama perkembangan individu karena itu
sikap dapat mengalami perubahan.
Menurut Secord dan Backman dalam Walgito (2011:68) salah satu teori
perubahan sikap adalah teori rosenberg yang di kenal dengan sebutan teori
konsistensi kognitif-afektif dalam masalah sikap. Menurut teori ini, komponen
afektif akan selalu berhubungan dengan komponen kognitif dan hubungan
tersebut dalam keadaan konsisten. Selain itu, apabila komponen kognitifnya
berubah maka komponen afektifnya juga akan berubah dan sikapnya akan
berubah begitu juga sebaliknya. Namun demikian, teori ini menitikberatkan pada
pengubahan afektif terlebih dahulu. Pengubahan sikap di samping pengubahan
komponen akan lebih tepat juga dikaitkan dengan fungsi sikap, sehingga akan
lebih jelas arah perubahan sikap yang dikaitkan dengan perilaku.Menurut
Rosenberg dalam Walgito (2011:68). Pengertian kognitif dalam sikap tidak hanya
mencakup pengetahuan-pengetahuan yang berhubungan dengan objek sikap,
tetapi juga mencakup kepercayaan tentang hubungan antara objek sikap dengan
sistem nilai yang ada dalam diri individu. Di sisi lain, komponen afektif
berhubungan dengan bagaimana perasaan yang timbul pada diri seseorang
menyertai sikapnya bisa positif ataupun negatif terhadap objek sikap.