Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah konsep belajar yang
membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi nyata
anak dan mendorong anak membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiki
anak dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Proses belajar
berlangsung secara alamiah, bukan transfer ilmu dari guru ke anak.
Contextual teaching and learning juga didesain agar anak dapat
memecahkan persoalan melalui kegiatan yang merefleksikan kejadian sebenarnya
dalam kehidupan. Selebihnya, Clifford dan Wilson (dalam Slamet Suyanto, 2005:
151-152) mendeskripsikan karakteristik Contextual Teaching And Learning
(CTL) sebagai berikut:
Pertama, menekankan adanya pemecahan masalah (problem solving).
Dalam pembelajaran hendaknya persoalan bersifat riil, menarik, menantang, dan
bermakna bagi anak. Tiap kelompok dapat mencari solusi pemecahan dengan cara
masing-masing sehingga hasilnya akan lebih variataif (tidak menuju pada satu
jawaban benar).
Kedua, pembelajaran terjadi dalam berbagai konteks. Pembelajaran tidak
monoton di kelas. Pembelajaran dapat terjadi dimana saja, seperti di sawah, di
ladang, di bengkel, dan di bengkel industri. Pengajar pun tidak selalu guru, tetapi
dapat petani, pedagang, pembuat roti, peternak, dokter, atau orangtua anak yang
memiliki keahlian khusus.
Ketiga, membimbing anak untuk memonitor hasil belajarnya sehingga ia
mampu belajar secara mandiri. Anak dibimbing cara belajar yang baik agar kelak
dapat belajar secara mandiri.
Keempat, pembelajaran menggunakan berbagai ragam kehidupan sebagai
titik pijak. Anak berasal dari berbagai daerah dengan latar belakang sosial dan
budaya yang berbeda. Pengetahuan awal, budaya, cita-cita, dan tipologi
masyarakatnya menjadi modal belajar.
Kelima, mendorong anak untuk saling belajar dengan temannya. Belajar
adalah proses individual, tetapi cara anak belajar dapat dilakukan melalui kegiatan
kelompok agar dapat saling bertukar pikiran, ide, dan rasa antar anak.
Keenam, menerapkan autentik asesmen. Evaluasi tidak bertujuan memberi
nilai dan label pada setiap anak. Asesmen bertujuan untuk mengetahui sejauh
mana anak belajar dan bagaimana cara belajar yang paling baik. Dengan demikian
guru dapat memberi bantuan kepada anak untuk mengembangkan potensinya
secara optimal. Dialog antar guru dengan anak yang berhubungan dengan
kemajuan belajarnya perlu dilakukan agar anak mengevaluasi diri sendiri.
Portofolio hasil presentasi, hasil lomba, dan hasil karya anak disusun bersama
antara anak dan guru.
Secara singkat, Trianto (2011:92) juga mengemukakan karakteristik
contextual teaching and learning, yaitu sebagai berikut:
a. Kerja sama
b. Saling menunjang
c. Menyenangkan, tidak membosankan
d. Belajar dengan begairah
e. Pembelajaran terintegrasi
f. Menggunakan berbagai sumber
g. Anak aktif
h. Sharing dengan teman
i. Anak kritis guru kreatif
j. Dinding dan lorong- lorong penuh dengan hasil kerja anak, peta- peta,
gambar, artikel, humor, dan lain- lain.
k. Laporan kepada orangtua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya anak,
laporan hasil praktikum, karangan anak.
Johnson (2008:68) mengklaim bahwa dalam Contextual Teaching and
Learning (CTL) minimal ada tiga prinsip utama yang sering digunakan, yaitu
kesalingbergantungan (interdepence), diferensiasi (differentiation), dan
pengorganisasian diri (self organization).
CTL mencerminkan prinsip kesalingbergantungan. Dalam kehidupan di
sekolah, anak berhubungan dengan guru, kepala sekolah, tata usaha, orangtua
anak, dan nara sumber. Dalam pembelajaran, anak berhubungan dengan bahan
ajar, sumber belajar, media pembelajaran, sarana dan prasarana sekolah, iklim
sekolah, dan lingkungan. Pembelajaran bergantung dengan aspek yang
mendukung pembelajaran dan juga bergantung pada aspek yang mendukung
dalam pendidikan. Contoh konkret dari prinsip kesalingbergantungan yaitu ketika
para anak bergabung untuk memecahkan masalah dan ketika guru mengadakan
pertemuan dengan rekan sejawat.
CTL mencerminkan prinsip diferensiasi. Diferensiasi menjadi nyata ketika
CTL menantang para anak untuk saling menghormati keunikan masing-masing,
untuk menghormati perbedaan-perbedaan, untuk menjadi kreatif untuk bekerja
sama, untuk menghasilkan gagasan dan hasil baru yang berbeda, dan untuk
menyadari bahwa keragaman adalah tanda kemantapan dan kekuatan.
CTL mencerminkan prinsip pengorganisasian diri. Setiap individu
memiliki potensi yang melekat pada dirinya. Tugas guru adalah mendorong anak
untuk memahami dan merealisasikan semua potensi yang dimikinya seoptimal
mungkin. Pengorganisasian diri terlihat ketika para anak mencari dan menemukan
kemampuan dan minat mereka sendiri yang berbeda, mendapat manfaat dari
umpan balik yang diberikan oleh penilaian autentik, mengulas usaha-usaha
mereka dalam tuntunan tujuan yang jelas dan standar yang tinggi, dan berperan
serta dalam kegiatan-kegiatan yang berpusat pada anak.
Dari beberapa karakterisitik CTL di atas, dapat disimpulkan bahwa
karakteristik CTL adalah sebagai berikut: (1) pembelajaran menggunakan
berbagai sumber belajar, (2) pembelajaran terjadi dalam berbagai konteks,
menekankan adanya pemecahan masalah, (3) mendorong anak untuk bekerja sama
dan belajar bersama, (4) menerapkan autentik asesmen, (5) pembelajaran
menyenangkan, (6) pembelajaran terintegrasi, (7) anak aktif dan kritis, (8) guru
kreatif, (9) guru berperan sebagai fasilitator, dan (10) mempunyai prinsip kesaling
bergantungan, diferensiasi, dan pengorganisasian diri.
