Membaca merupakan proses yang kompleks. Proses ini melibatkan sejumlah
kegiatan fisik dan mental. Ahmad Susanto (2011: 84) menjelaskan, bahwa
mengajar membaca harus dimulai dengan mengeja, dimulai dengan pengenalan
huruf kemudian mengenal suku kata, barulah mengenal kata dan akhirnya
kalimat. Belajar membaca dan menulis merupakan hal yang sangat sulit bagi
anak karena anak harus belajar huruf dan bunyi. Sementara itu Ahmad Susanto
(2011: 59) menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi membaca awal, yaitu:
1. Kesiapan membaca, perkembangan kesiapan membaca mencakup rentang
waktu dari sejak dilahirkan hingga pelajaran membaca diberikan.
2. Membaca awal, membaca awal umumnya dimulai sejak anak usia dini
memasuki usia sekolah, yaitu pada saat berusia sekitar enam tahun. Meskipun
demikian, ada anak yang sudah belajar membaca lebih awal dan ada pula
yang baru belajar membaca pada usia tujuh atau delapan tahun.
3. Ketrampilan membaca cepat, ketrampilan membaca cepat atau membaca
lancar umumnya terjadi pada saat anak-anak sudah mengikuti pendidikan pra
sekolah di taman kanak-kanak.
4. Membaca luas, membaca luas umumnya terjadi pada saat anak-anak telah
mengikuti pembelajaran membaca di sekolah PAUD dan taman kanak-kanak.
Pada tahap ini anak-anak gemar dan menikmati sekali membaca.
5. Membaca yang sesungguhnya, membaca yang sesungguhnya umumnya
terjadi ketika anak-anak sudah gemar membaca baik buku cerita bergambar
maupun komik. Pada tahap ini anak-anak tidak lagi belajar membaca tetapi
membaca untuk belajar.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa anak-anak umumnya
sebagai pembaca awal berada pada tahap membaca awal. Lebih khususnya anakanak berada pada tahap pertama dan kedua dalam proses membaca yaitu tahap
logografis dan alfabetis. Pembagian tahapan ini berdasarkan kemampuan yang
harus dikuasai anak, yaitu penguasaan kode alfabetik yang hanya memungkinkan
anak untuk membaca secara teknis atau secara benar, belum sampai memahami
bacaan seperti pada tahap membaca lanjut. Karakteristik mengajarkan baca tulis
menurut Tadkiroatun Musfiroh (2011: 28) membagi pemerolehan bahasa tulis
reseptif anak dikategorikan ke dalam enam tahapan yaitu:
1. Tahapan diferensiasi, pada tahap ini anak memperhatikan tulisan dan
membedakannya dengan gambar. Anak dapat menyebutkan gambar sebagai
gambar dan tulisan sebagai tulisan.
2. Tahapan membaca pura-pura, anak membaca tulisan tanpa mempedulikan
informasi visual yang ada. Anak benar-benar menentukan sendiri kata-kata
yang ingin diucapkan tanpa mempedulikan tulisan yang ada. Belum ada
korespondensi antara apa yang diucapkan (dibaca) anak dengan bahan
bacaan.
3. Tahapan membaca gambar, anak memperhatikan gambar tanda-tanda visual
seperti gambar tetapi belum menguasai simbol. Anak membaca dengan
melihat gambar, membaca label dengan memperhatikan barang dan gambar.
Anak menjabarkan gambar atau informasi visual lain dalam bentuk satu
kalimat atau lebih.
4. Tahapan membaca acak, pada tahap membaca acak anak sudah
memperhatikan simbol.
5. Tahapan lepas landas, anak dapat membaca dengan mengeja kata-kata, dan
anak dapat menggabungkan huruf menjadi suku kata.
6. Tahapan independen Pada tahap ini anak memahami apa yang dibaca. Sudah
ada lagu kalimat (koma, titik) dan nada yang cepat. Anak sudah menguasai
komponen tanda baca, dan makna teks juga sudah diperoleh.
Proses membaca pada usia taman kanak-kanak berada pada tahap membaca
secara teknis, anak hanya memahami hubungan antara huruf dengan bunyi atau
suara dengan mengubah simbol-simbol tertulis berupa huruf atau kata, dan belum
ke tahap membaca pemahaman. Melalui media kartu bergambar, anak akan
belajar mengenal huruf, dan menggabungkan huruf menjadi suku kata dan kata,
serta dilengkapi dengan gambar yang akan membantu memudahkan anak untuk
mengingat simbol tulisan.
Aulia (2011:91) mengemukakan bahwa ada berbagai metode pengajaran
membaca yang dapat mengembangkan kemampuan membaca awal anak
meliputi:
a) huruf dinding, metode yang dilakukan dengan cara menempelkan huruf-huruf
di setiap dinding yang sering dijumpai anak.
b) memperkenalkan huruf melalui komputer, cara yang dilakukan yakni dengan
membuat power point dan anak akan mencocokan huruf yang sering
didengar.
c) mengenalkan huruf-huruf melalui bermain.
d) metode mengeja, merupakan merangkai huruf menjadi suku kata dan
merangkaikan suku kata menjadi kata sehingga mengandung arti.
e) metode bertahap, dilakukan dengan cara menunjukan satu atau dua huruf; dan
f) metode suku kata, dilakukan dengan cara mengenalkan rangkaian suku kata.
Berdasarkan pendapat di atas dapat ditegaskan bahwa ada berbagai macam
metode dalam mengembangkan kemampuan membaca awal pada anak yaitu:
a) metode abjad;
b) metode bunyi;
c) kupas rangkai suku kata;
d) metode kata lembaga;
e) metode global/metode kalimat; dan
f) metode Struktural Analitik Sintetik/ SAS;
g) metode huruf dinding;
h) memperkenalkan huruf melalui komputer;
i) mengenalkan huruf-huruf melalui bermain;
j) metode eja; dan
k) metode bertahap.
Dalam penelitian ini, metode yang digunakan ialah metode kata lembaga,
pertama anak dikenalkan kata yang sering didengar anak kemudian kata
diuraikan menjadi suku kata, suku kata diuraikan menjadi huruf, kemudian
menggabungkan huruf menjadi suku kata dan menggabungkan suku kata menjadi
kata. Pengembangan kemampuan membaca anak usia dini diperlukan pelatihan,
praktek dan pembiasaan melalui beberapa tahap-tahap perkembangannya.
Menurut Nurbiana Dhieni (2009:12), perkembangan dasar kemampuan membaca
pada anak usia 4-6 tahun berlangsung dalam lima tahap antara lain: tahap fantasi
(magical stage), tahap pembetukan konsep diri (self concept stage), tahap
membaca gambar (bridging reading stage), tahap pengenalan bacaan (take-off
teader stage), dan tahap membaca lancar (independent reader stage).
Karakteristik kemampuan membaca anak berbeda sesuai dengan tahapan
usianya, berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 58 tentang
Standar Pendidikan anak usia dini (2009: 11), mengemukakan tingkat pencapaian
aspek bahasa dalam lingkup perkembangan keaksaraan sebagai indikator
kemampuan membaca awal anak usia 5-6 tahun (Kelompok B) sebagai berikut:
a) menyebutkan simbol-simbol huruf yang dikenal.
b) mengenal suara huruf awal dari nama benda-benda yang ada di sekitarnya.
c) menyebutkan kelompok gambar yang memiliki bunyi atau huruf awal yang
sama.
d) memahami hubungan antara bunyi dan bentuk huruf, dan
e) membaca nama sendiri.
