Pengaruh Persepsi Risiko Terhadap Minat Beli Konsumen

Perceived risk dapat didefinisikan sebagai risiko yang dipersepsikan oleh
konsumen terhadap suatu produk yang berkaitan dengan segala ketidakpastian dan
segala konsekuensinya terhadap konsumen. Semakin mampu konsumen
mengantisipasi ketidakpastian dan konsekuensi produk tersebut maka akan
semakin rendah perceived risk produk tersebut di mata konsumen. Sebaliknya,
jika konsumen tidak dapat mengantisipasi ketidakpastian dan konsekuensi produk
maka akan semakin tinggi perceived risk produk tersebut di mata konsumen.
Harga menjadi sarana untuk mengurangi resiko (Erevelles et al., 1999 dikutip dari
Wu, et al. (2011)). Persepsi risiko merupakan salah satu hal yang sangat awam
dipikirkan oleh para konsumen ketika ingin melakukan belanja online. Presepsi
risiko sendiri memiliki konotasi yang negative karena berasal dari ketidakpastian
dan ketidaktahuan mengenai suatu barang.
Shu-Xian et al. 2012 adalah peneliti pertama yang mengusung dirasakan
risiko ke dalam bidang perilaku konsumen. Ia percaya bahwa setiap perilaku
pembelian akan menghadapi ketidakpastian, itu akan mengakibatkan beberapa
buruk konsekuensi dan akan merugikan pelanggan. Setiap pembelian melakukan
risiko dan risiko adalah persepsi subjektif konsumen. Presepsi risiko dianggap
sebagai keraguan dari konsumen untuk memilih apakah berani membeli atau
tidak, dimana risiko sendiri memiliki lima jenis yaitu, risiko keuangan, risiko
sosial, risiko fisik, risiko fungsional dan risiko psikologi (Arslan et al., 2013).
Berdasarkan hasil penelitian ditemukan teori yang berupa pengaruh
persepsi risiko terhadap minat membeli secara online yang didukung oleh
pendapat Hawkins dan Mothersbaugh (2010:600), dapat diartikan bahwa persepsi
risiko dianggap sebagai karakteristik dari konsumen serta karakteristik produk itu
sendiri. Menurut Suhir, suyadi dan riyadi (2014:4), persepsi risiko merupakan
sebuah penilaian yang subjektif oleh seseorang terhadap kemungkinan dari sebuah
kejadian kecelakaan dan seberapa khawatir individu dengan konsekuensi atau
dampak yang ditimbulkan kejadian tersebut. Menurut Arun dan Xavier (2012:20),
pembelian online masih dianggap berisiko dibandingkan dengan pembelian
eceran. Semakin berisikonya pembelian online maka konsumen akan tidak
berminat, tetapi apabila risiko rendah maka konsumen akan lebih berminat
membeli secara online.
Semakin besar risiko persepsian semakin besar pula kemungkinan
keterlibatan konsumen pada pembelian (Engel et al, 1995). Ketika risiko
persepsian menjadi tinggi, ada motivasi apakah akan menghindari pembelian dan
penggunaan atau meminimumkan risko melalui pencarian dan evaluasi alternatif
pra-pembelian dalam tahap pengambilan keputusan. Kondisi ini menghasilkan
pengambilan keputusan yang kompleks. Konsumen mungkin akan mengevaluasi
merek secara detail. Informasi mengenai produk sangat dibutuhkan dan konsumen
mencoba mengevaluasi berbagai merek. Proses pengambilan keputusan yang
demikian menggambarkan adanya keterlibatan konsumen dengan suatu produk.
Karena persepsi risiko akan membuat konsumen berfikir ulang mengenai
pembelian suatu merek. Sehingga semakin tinggi persepsi risiko yang dipikirkan
konsumen, maka akan semakin menurun minat beli suatu produk tertentu.