Kebersyukuran adalah salah satu bentuk perilaku emosi positif serta
bertolak belakang dengan perilaku emosi negatif seperti kecemasan,
kecemburuan, kemarahan (Emmons dkk, 2004). Kebersyukuran merupakan
salah satu faktor yang ada untuk dapat menerima serta memberi nilai terhadap
hasil yang didapatkan (Pratama dkk, 2015). Seligman & Peterson (2004)
menjelaskan perasaan bersyukur adalah perasaan emosin yang positif untuk
mengekspresikan kebahagiaan serta terima kasih akan segala kebaikan yang
telah diterima. Selain itu menurut Emmons, McCullough dan Tsang (2004)
beranggapan bahwa kebersyukuran dapat membuat seseorang lebih bijaksana
dalam menyikapi lingkungannya. Kebersyukuran adalah konsep yang telah
berkembang dalam beragam lingkup yang berbeda-beda seperti dalam hal
kebijakan, nilai moral, bersikap, emosi, kebiasaan, serta ciri kepribadian, dan
dalam merespon berbagai permasalahan yang muncul (Emmons, McCullough
dan Tsang, 2004).
Dalam Hadits dan Al Qur’an banyak anjuran tentang bersyukur
beberapa diantaranya yakni berbunyi:
“karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula)
kepadamu, dan bersyukurlah kepadaku, dan janganlah kamu
mengingkari-Ku (QS. Al Baqarah: 152).”
Selanjutnya (QS. Al Qashas: 73)
“kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari
sebahagian dari karunia-Nya dan agar kamu bersyukur kepada-Nya”
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah diantara rizki yang baikbaik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika
benar-benar hanya kepadanya kamu menyembah (QS. Al Baqarah:
172)”.
“QS. Al Luqman (31) Dan sesungguhnya telah kami berikan hikmah
kepada Luqman, yaitu: bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa
yang bersykur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri,
dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah
Maha Kaya lagi Maha Terpuji “.
“Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan: sesungguhnya
jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu,
dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku
sangat pedih (QS. Ibrahim: 7)”.
Berdasarkan kutipan ayat diatas dapat disimpulkan bahwa bersyukur
memiliki manfaat yang baik orang-orang yang mampu mensyukuri segala
nikmat yang telah dimiliki. Bersyukur meberikan ketenangan, sehingga mampu
membuat orang yang beryukur menikmati segala hal yang telah dimiliki.
Kutipan arti dari ayat-ayat Al Qur’an diatas menunjukka bahwa hakikat
bersyukur itu penting serta memiliki nilai positif. Dimana dengan bersyukur
manusia dapat menikmati segala hal yang telah dicapai dan dimiliki.
Seligman & Peterson (2004) mengungkapkan kebersyukuran sebagai
perilaku dari sesorang yang dapat menerima sesuatu dengan suka rela yakni
secara kognitif ataupun afektif serta dapat memberi penilaian tentang apa yang
telah diterima tersebut. Kebersyukuran merupakan suatu pengalaman yang
dimiliki seseorang ketika sedang menerima sesuatu yang dianggap berharga,
dan merupakan ungkapan untuk perasaan seseorang ketika mendapat
perlakukan baik dari orang lain (McCullough, 2004). Dengan bersyukur dapat
mengubah seseorang menjadi lebih baik, bijaksana serta mampu menciptakan
keharmonisan antara dirinya dengan lingkungan (Emmons, McCullough &
Tsang 2007).
Al Munajjid (2006) menjabarkan kebersyukuran menurut bahasa yang
memiliki arti tentang mengakui kebijakan. Bersyukur memiliki pengertian
terimakasih terhadap pihak yang telah berbuat baik atas kebijakan yang telah
diberikan-Nya.
