Konsep resource-based view (RBV) perusahaan dikembangkan dari literatur
ekonomi dan strategi pada tahun 1950-an. Dalam teori resource-based view (RBV)
dikatakan bahwa keunggulan kompetitif sebuah perusahaan berasal dari sumber daya
serta kemampuan perusahaan untuk bersaing di pasar. Sebuah perusahaan merupakan
kumpulan dari sumber daya atau resource dimana resource adalah sesuatu yang
bernilai dan langka (Penrose, 1959).
Barney (1991) menyatakan bahwa pengembangan suatu perusahaan
membutuhkan dan memanfaatkan resource semaksimal mungkin dengan kinerja yang
efektif dan efisien untuk mendapatkan keuntungan bagi perusahaan. Menurut Mahoney
dan Pandian (1992), hal terpenting dalam RBV adalah perolehan margin dan kombinasi
sumber daya yang tidak mudah tergantikan. Margin dari sumber daya yang langka ini
mempunyai nilai yang tinggi sehingga menghasilkan keunggulan bersaing.
Resource-based View (RBV) dikenal sebagai suatu pandangan yang melihat
keunggulan kompetitif dari sudut pandang kapabilitas (capabilities) dan sumber daya
(resource). Kedua sudut pandang ini dikombinasikan dengan pengelolaan yang baik
serta pemilihan untuk menjalankan cost atau differentiation advantage sehingga
menghasilkan keunggulan kompetitif bagi perusahaan dalam menghadapi persaingan.
Cost advantage yang dimaksudkan adalah bagaimana sebuah perusahaan dapat
menghasilkan produk yang sama dengan pesaingnya dengan biaya yang lebih rendah.
Sedangkan differentiation advantage adalah ketika perusahaan mampu menghasilkan
produk yang berbeda dan lebih baik dari pesaingnya (Sutanto, 2014).
A. Pearce dan Robinson (2014) mengatakan sumber daya utama dalam
organisasi terfokus dan dapat mengukur kemampuan RBV untuk analisis internal
organisasi apabila dipisahkan menjadi 3 sumber:
1. Aset berwujud (tangible), aset yang berbentuk fisik dan keuangan untuk
menyediakan nilai bagi pelanggan seperti modal, akses terhadap modal dan
lokasi
2. Aset tak berwujud (intangible), aset yang tidak dapat dilihat dan disentuh yang
juga penting dalam menciptakan keunggulan kompetitif seperti pengetahuan
dan keterampilan karyawan, image perusahaan, sumber teknologi serta
kemampuan manajerial.
3. Kapabilitas, adalah kemampuan atau kapasitas serangkaian sumber daya untuk
melakukan berbagai tugas dan aktivitas secara integratif.
Dalam teori RBV, kepemilikan terhadap sumber daya tidak berwujud
(intangible) merupakan faktor penting dalam keberhasilan perusahaan dan
berkontribusi lebih besar daripada aset berwujud. Sumber daya tak berwujud dapat
mendukung intensitas kegiatan organisasi yang lebih besar seperti intellectual capital
yang mampu menciptakan value bagi organisasi (Lestari, 2019).
Menurut Barney (1991), teori RBV mengungkapkan bahwa suatu resource
harus memiliki empat atribut agar mampu memberikan keunggulan kompetitif:
1. Bernilai/berharga (valuable), artinya resource dapat menetralkan ancaman dan
mengeksploitasi peluang dalam lingkungan perusahaan. Value sumber daya
harus dapat dirasakan oleh pelanggan secara langsung maupun tidak langsung.
2. Langka (rare), diantara pesaing memiliki potensi dan tidak dimiliki oleh para
pesaing perusahaan. Sumber daya yang benar-benar melekat/menyatu biasanya
merupakan sumber daya yang langka.
3. Tidak dapat ditiru (in-imitable), fisiknya yang unik serta terdapat
ketergantungan jalur dan ketidakjelasan sebab-akibat sehingga pesaing tidak
mudah untuk meniru inovasi suatu perusahaan.
4. Tidak dapat disubstitusikan (non substitutable), sumber daya dan kapabilitas
strategik tidak sama sehingga memungkinkan perusahaan untuk
mempertahakan keunggulan yang dimiliki.
Inti dari konsep RBV adalah untuk mencari dan mengidentifikasi karakteristik
sumber daya yang dapat dipergunakan dalam mengembangkan keunggulan bersaing.
Perusahaan harus mengembangkan keterampilan, sumber daya serta proses yang dapat
meningkatkan nilai (value) bagi pelanggan agar dapat memelihara keunggulan bersaing
(Barney dan Clark, 2007), seperti:
1. Menggunakan sumber daya dengan mengkombinasikan sumber daya yang ada
dengan sumber daya yang lain sehingga menjadi sumber daya yang efektif.
2. Mengelola manusia dan sumber daya manajerial sebagai hal yang sangat
penting.
3. Menciptakan kohesivitas dari masing-masing bagian sehingga dapat membantu
menciptakan pengetahuan.
4. Memanfaatkan lingkungan eksternal yang dijadikan sebagai citra dalam benak
wirausahawan dengan mengatur aktivitas dengan kesempatan untuk produktif.
5. Menciptakan wirausaha sebagai upaya untuk mencari keuntungan dan
meningkatkan total long-term profit melalui investasi.
6. Menciptakan profitabilitas, pertumbuhan dan kemampuan perusahaan agar
dapat bertahan yang tergantung pada adaptasi perusahaan terhadap perubahan
dan kompetisi.
Bagi UMKM, teori RBV dapat digunakan dalam pengelolaan usaha karena
menjadi alternatif strategi yang mampu menciptakan kompetensi dan menjadi pilihan
manajemen strategis dalam meraih keunggulan kompetitif berkelanjutan.
