Perceived Value

Kotler dan Keller (2009:173) menyatakan, perceived value adalah selisih antara evaluasi calon pelanggan atas semua manfaat serta semua biaya tawaran tertentu dan alternative – alternative lain yang dipikirkan. Nilai yang dipersepsikan pelanggan merupakan kerangka kerja berguna yang diterapkan dalam banyak situasi dan menghasilkan pandangan yang kaya. Persepsi terhadap nilai. Nilai menurut Zeithmal dalam Ferrinadewi (2008:62) adalah penilaian konsumen yang menyeluruh terhadap utilitas produk didasarkan pada persepsinya atas apa yang diterima dan dikorbankan. Berdasarkan definisi yang telah dipaparkan, maka tidak mengherankan ketika konsumen melakukan analisa biaya manfaat sebelum melakukan pembelian untuk menentukan besarnya nilai yang akan diterimanya.

Hurriyati (2008:126) menyatakan untuk meningkatkan kepuasan, peruahaan harus menambahkan nilai yang dapat membuat mereka mendapatkan apa yang mereka bayar atau lebih dari yang mereka harapkan. Hurriyati (2008:74) menyatakan melalui nilai pelanggan yang superior dapat menciptakan loyalitas. Hurriyati (2008:125) juga menyatakan bahwa semakin tinggi nilai yang dirasakan, semakin tinggi pula loyalitas dan profit yang diperoleh pelanggan. Dimensi Perceived Value menurut Tjiptono (2016:141) yaitu :

  1. Emotional Value
  • Perasaan rileks yang dirasakan pelanggan saat berkunjung
  • Perasaan senang berkunjung ke suatu tempat
  1. Social value
  • Merasa bangga telah berkunjung
  • Dapat menceritakan pengalaman kepada orang lain
  1. Quality/Performance Value
  • Standar Kualitas dapat diterima sesuai dengan yang diharapkan pelanggan.
  • Kualitas dijalankan dengan konsisten
  1. Price/Value of money
  • Harga masuk akal
  • Harga sesuai dengan kualitas yang didapatkan pelanggan.