Menurut Wetrum dan Adamski (1999) dalam Kartika dan Stepanus (2011: 208-209) berdasarkan tahapan pengembangannya, budaya kesehatan dan keselamatankerjadapat dibedakan menjadi 3, yaitu:a.Tipe PatologisPada tahapan ini suatu organisasi belum memiliki program keselamatan dankesehatan kerja. Kegiatan unit kerja bersifat reaktif, yaitu dilakukan setelahterjadinya suatu kecelakaan.Program keselamatan dan kesehatan kerjayang adahanya menangani insiden (kebakaran, kecelakaan dan cedera).Sikap kritis pekerjadalam aspek-aspek keselamatan dan kesehatan kerjacenderung dimusuhi.Akibatnya insiden keselamatan dan kesehatan kerjacenderung ditutup-tutupi.Top
Managementmemandang penyebab masalah keselamatan dan kesehatan kerjaadalah karena kesalahan, kelalaian atau kurang trampilnya pekerja.b.Tipe KalkulatifPada tahapan ini masalah keselamatan dan kesehatan kerjaditanggapi secaraserius, program keselamatan dan kesehatan kerjadisusun berdasarkan kalkulasiprofessional (berdasarkan acuan teoritis/peraturan perundang-undangan). Teknikkuantitatifriskassessmentdan analisacost benefitdigunakan sebagai bahanpertimbangan sasaran keselamatan dan sebagai alatukur dari efektivitas programkeselamatan dan kesehatan kerja. Pendekatannya bersifat birokratis, sehinggatugas dan tanggung jawab keselamatan dan kesehatan kerjadibagi berdasarkanstruktur organisasi dan diformalkan dalam bentuk peraturan keselamatan dankesehatan kerja sertaprosedur keselamatan. Metode yang digunakan padaumumnya bersifatproblem solving.Insiden ditinjau sebagai kasus dan pelakunyadisidangkan berdasarkan tatatertib dan peraturan keselamatan dan kesehatankerja.c.Tipe GeneratifPada tahap ini keyakinan terhadap pentingnya nilai keselamatan kerja sangatdipahami oleh karyawan, baik dari sisi individual maupun tujuan organisasi.Insiden ditinjau berdasarkan proses, dengan cara mengevaluasi penyebabnya agartidakterulang kembali. Pendekatan keselamatan dan kesehatan kerjabersifatproaktif, dengan parameter kinerja keselamatan dan kesehatan kerjaberupasafework practices
